
Berita tentang pertunangan Richard dan Elsa sudah tersebar luas, keluarga Raymond dan Stamford bingung harus bereaksi bagaimana. Hanya Christy yang terang-terangan menetang pertunangan itu.
Kedatangan Elsa, membuat semua orang di mansion merasa sedikit risih dan tidak suka. Mereka semua bersyukur, setidaknya Christy belum bangun. Jika Christy melihat wajah Elsa, mungkin dia sudah menggila.
"Bang Richard gak ada!" kata Raja dengan nada yang terdengar lumayan sinis.
"Iya, aku tahu kok. Aku ke sini karena mau ngobrol sama bunda" ucap Elsa, membuat semua orang menatapnya.
Apa maksud gadis gila itu? Bunda? Dia benar-benar kehilangan akal. Siska hanya acuh, lalu naik ke atas. Steven menatap Elsa dari atas hingga ke bawah, membuat gadis itu merasa tidak suka.
"Lo ngapain ngelihat gue kayak gitu?" tanya Elsa, yang hanya mendapat smirk andalan Steven.
"Oh iya, Raja aku bawain ini buat kamu" Elsa memberikan sebuah kotak sepatu bermerak Air Jordan keluaran terbaru.
"Buat?" tanya Raja acuh.
"Yah aku kan sebentar lagi bakal jadi kakak ipar kamu. Ini hadiah buat calon adik ipar" ucap Elsa dengan sangat manis, namun itu membuat Raja jengkel.
"Simpan ajah, gue gak pernah bilang mau jadi adik ipar lo" kata Raja lalu pergi dari sana.
"Ups uangnya sia-sia deh. Padahal udah buang-buang uang buat beli sepatu keluaran terbaru, eh di tolak" ucap Steven dengan nyinyirannya.
"Diam deh lo. Brisik banget!" kata Elsa kesal, namun itu justru membuat Steven senang.
"Gue tahu rencana lo, jadi gak usah sok kepinteran mau ngebodohin gue!" Steven berbisik di telinga Elsa.
"Rencana apa sih? Lo kalau ngomong, gak usah ngasal!" kata Elsa yang langsung menjauh dari Steven.
Steven menampilkan smirk andalannya, lalu mengambil hp nya dari saku jaket. Elsa terkejut saat melihat foto dirinya bersama Levin dan juga Arka yang Steven perlihatkan.
"Ngirim mereka berdua, buat ngehancurin keluarga ini. Merusak hubungan bang Richard dan Vira. Bahkan hubungan princess dan bang Richard. Lo fikir gue gak tahu!" ucap Steven yang seketika terlihat mengerikan.
Elsa terlihat sangat gugup, Steven tersenyum bangga karena berhasil membuat gadis itu ketakutan. Mengelabui Steven, bukan hal yang mudah.
"Lo terlalu bodoh, karena udah berani berurusan sama gue! Hidup lo, gak akan pernah tenang. Ngerti lo!" ucap Steven, lalu merebut kotak yang Elsa ingin berikan pada Raja tadi.
"Itu punya gue" Elsa hendak merebutnya, namun Steven tidak membiarkan itu terjadi.
"Yang udah gue pegang, berarti itu punya gue!" ucap Steven lalu pergi dari sana.
"Kita lihat ajah nanti, siapa yang hidupnya gak akan tenang. Gue atau lo. Dasar anak haram" kata Elsa lalu pergi dari sana.
Elsa tidak tahu, kalau perkataannya itu membuat ke tiga monster dari dunia gelap bisa mendengarnya. Ketiga monster itu hanya menampilkan smirk mereka secara bersamaan.
//skip//
Di perusahaan RD company, terlihat Raja yang baru saja masuk kedalam ruangannya. Namun saat hendak masuk, ia berhenti sejenak untuk melihat apa yang Sasa sekretarisnya itu lakukan.
Sasa terlihat sangat fokus dengan beberapa berkas, penampilannya sedikit acak-acakan. Seperti orang yang belum mandi dan tidak tidur.
Raja sengaja mengeluarkan suara batuknya, agar Sasa berbalik. Gadis itu sedikit terkejut saat melihat Raja yang sudah datang ke kantor sepagi ini.
"Pa-pa-pak Raja" ucap Sasa dengan terbata-bata.
"Iya ini saya. Kamu kenapa sudah berada di kantor sepagi ini?" tanya Raja lalu berjalan mendekat ke arah Sasa.
Raja melihat semua berkas yang Sasa pegang tadi, berkas itu adalah milik perusahaan yang Raja tugaskan untuk Sasa.
"Berkas ini, kamu sudah selesaikan?" tanya Raja yang langsung di angguki Sasa.
"Sasa, saya baru menyuruh kamu kemarin untuk menyelesaikan semua berkas ini. Dan hari ini, sudah selesai?" tanya Raja yang menatap wajah Sasa.
"Iya pak, lebih cepat lebih baik" jawab Sasa yang menunduk, karena tidak berani mehatap wajah bos nya itu.
"Kamu kerjakan semua ini, semalaman?" Raja kembali bertanya, dan di jawab anggukan oleh Sasa.
"Kamu tidak pulang semalam?" tanyanya dan lagi-lagi di jawab anggukan oleh Sasa.
__ADS_1
Raja menatap semua berkas itu, membayangkan Sasa yang mengerjakannya hanya dalam waktu semalam. Gadis ini gila menurut Raja, dia tidak memikirkan kesehatannya dan lebih memikirkan perintah darinya. Sangat gila.
Raja langsung menelfon seseorang menggunakan telfon yang ada di ruangnnya, setelah itu ada seorang karyawan wanita yang masuk kedalam ruangannya.
"Ambil kartu ini, lalu beli semua perlengkapan untuk Sasa" ucap Raja memberi perintah pada karyawan itu, lalu memberikan sebuah kartu berwarna hitam.
"Perlengkapan apa pak?" tanya karyawan itu dengan wajah bingungnya.
"Nanti saya kirim apa saja yang harus kamu beli, Pergi sekarang!" ucap Raja. Lalu keryawan itu keluar, meninggalkan Sasa dan Raja.
Sasa terdiam sejenak, mencoba memikirkan apa yang baru saja Raja lakukan.
"Ini sudah cukup?" tanya Raja lalu menunjukan pesan yang akan di kirimkannya pada karyawan tadi. Sasa yang masih bingung, hanya bisa mengangguk.
Tiba-tiba Raja memegang tangan Sasa, lalu membawa gadis itu masuk kedalam kamar pribadinya yang berada di ruang kerjanya.
Ini pertama kalinya Sasa melihat kamar itu, terlihat sangat mewah dan sangat nyaman.
"Tidur" ucap Raja yang membuat Sasa bingung.
"Tidur? Pak Raja mau tidur?" tanya Sasa dengan wajah polosnya.
"Kamu yang tidur!" ucap Raja dengan sangat jelas, namun masih tidak sampai di otak Sasa.
"Maksud pak Raja apa? Saya tidur? Bukannya pak Raja yang mau tidur?" tanya Sasa yang membuat Raja geram dengan sekretaris polosnya itu.
Raja tiba-tiba mengangkat tubuh Sasa, lalu membaringkannya di atas kasur kesayangnnya itu. Sasa terdiam kaku karena terkejut, Raja menatapnya cukup lama.
"Kamu tidur sekarang! Semalam kamu tidak tidur karena mengerjakan semua berkas itu. Kalau perlengkapan kamu sudah ada, baru kamu mandi" kata Raja lalu hendak keluar dari kamar itu, namun kembali berbalik dan menatap Sasa.
"Kamu tidak bisa bekerja, kalau terlalu lelah seperti ini" lanjutnya lalu keluar dari kamar itu.
Sasa masih terdiam, memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi. Raja menggendongnya, itu sangat membuatnya terkejut. Terlebih lagi tatapan Raja sangat membuatnya gugup.
"Sa sadar, dia itu bos kamu. Jangan sampai baper Sasa!" ucapnya sambil memukul pelan kepalanya.
...&&&&&...
Niat orang itu untuk lari, justru berunjung sial. Richard berhasil menahannya, bahkan sempat memukulnya. Dengan kasar, Richard menarik orang itu ke sebuah gang sempit dan sangat sepi.
Richard mendorong orang itu hingga menghantam tembok gang. Wajah Richard terlihat sangat menakutkan, tatapannya yang sangat tajam membuat orang itu ketakutan setengah mati.
"Mau lo apa? HAH!" tanya orang itu sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
"Saya tidak mau apa-apa" ucap Richard dengan suara yang sangat berat.
"Arka Radhian, kamu sudah salah memilih lawan" kata Richard yang tiba-tiba tersenyum, namun tetap terlihat mengerikan.
Orang yang Richard ikuti sejak pagi adalah Arka, pria yang sudah membunuh Raka. Arka pria yang menjadi kekasih Levin. Richard sangat membenci pria itu, benar-benar membencinya.
"Perusahaan adik lo itu udah mulai membaik, terus apa lagi sekarang?" tanya Arka dengan emosi yang sangat meluap.
"Kembalikan adik saya!" ucap Richard yang membuat Arka terdiam.
Arka kembali memikirkan perbuatannya waktu itu, niatnya untuk melukai Richard. Justru berujung membunuh Raka.
"Gu--gu--gue beneran gak ada niat buat bunuh adik lo. Gue gak sengaja, gue beneran gak sengaja" kata Arka yang justru membuat Richard semakin menggila.
"Saya bilang, kembalikan adik saya!!" Richard mengulang perkataan, emosinya benar-benar tidak bisa terkendali saat ini.
Richard tiba-tiba mencekik Arka, hingga pria itu sangat sulit untuk bernafas. Arka berusaha melepaskan cekikan Richard, namun sangat sulit dan justru semakin kuat.
"Karena kamu, saya kehilangan orang yang paling penting di hidup saya. Karena kamu saya harus berada di situasi seperti ini" ucap Richard lalu mendorong Arka hingga terlempar cukup jauh.
"Dengarkan saya baik-baik. Kamu dan kekasihmu itu, tidak akan pernah tenang. Saya pastikan di setiap nafas yang kalian hirup dan hembuskan, akan menjadi penderitaan yang sangat menyakitkan!" kata Richard sambil menginjak tangan Arka.
"AARRGHH".
__ADS_1
Arka berteriak kesakitan. Richard terus menginjak tangannya yang sudah mengeluarkan banyak darah.
"Mimpi buruk kalian sudah di mulai" ucap Richard lalu menendang perut Arka. Ia lalu pergi dari sana meninggalkan Arka yang berteriak ke sakitan.
Semua orang yang berada di ujung gang, seketika terkejut saat melihat Richard yang menatap mereka dengan tatapan elangnya.
"Para manusia bodoh" ucap Richard lalu pergi dari sana.
//skip//
Jam menunjukan pukul 3 sore, Sasa terkejut karena baru bangun. Sasa turun dari kasur itu, lalu mebereskannya dengan cepat. Saat Sasa membuka pintu, tiba-tiba Raja sudah berada di depannya.
"Maaf pak, saya tidurnya terlalu lama" kata Sasa menunduk takut jika Raja memarahinya.
"Ini perlengkapan kamu. Mandi sekarang" kata Raja lalu memberikan sebuah paper bag untuk Sasa.
"Saya mandi di rumah saja pak, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan" ucap Sasa yang langsung mendapat tatapan tajam dari Raja.
"Saya sudah selesaikan semuanya. Sekarang kamu mandi, ini perintah!" ucap Raja lalu kembali menutup pintu itu.
Sasa menghembuskan nafasnya gusar, lalu dengan cepat masuk ke kamar mandi. Sedangkan Raja, dia duduk diruangnnya sambil melihat kesibukan kota jakarta dari atas.
Tiba-tiba moment bersama Raka kembali terlintas, kehilangan Raka bukan hal yang menyenangka. Raja merasa sebagian dunianya hampa, kesehariannya yang selalu bersama Raka tiba-tiba menghilang sekarang.
Raja menatap fotonya bersama Raka yang selalu ia pajang di meja kantornya itu. Raja seperti melihat dirinya sendiri, memiliki kembaran memang terdengar sangat menyenangkan. Namun jika salah satunya menghilang, itu sangat menyakitkan.
"Bang, lo bahagia kan di sana?" tanya Raja sambil menatap langit yang begitu cerah.
"Bang, gue salah gak sih kayak gini? Gue buat mereka sedih gak sih?" Raja terus bertanya, berharap ada jawaban walau sedikit.
Raja memikirkan sikapnya akhir-akhir ini yang lumayan dingin, ia bingung harus bagaimana. Kehilangan Raka ada pukulan terbesar untuknya, sangat sulit untuk mengiklaskannya.
"Gua gak ada niat buat nyakitin bang Richard, gue cuma gak nyangkan bakal kehilangan lo bang. Gue gak ada apa-apanya kalau lo gak ada bang" kata Raja meremas kuat bingkai foto itu.
Tiiba-tiba Sasa langsung merebut bingkai foto itu, lalu menyimpannya di tempat biasanya. Raja menatap Sasa, begitu juga sebaliknya.
"Tangan bapak bisa terluka kalau meremas kuat bingkai itu, Bingkainya juga bisa rusak pak" kata Sasa dengan tatapan yang sangat membuat Raja nyaman saat melihatnya.
"Maaf kalau saya lancang. Tapi menurut saya, bapak tidak bisa seperti ini terus. Pasti keluarga bapak sangat khawatir. Saya perhatikan, bapak sangat jarang pulang dan lebih memilih tidur di sini" ucap Sasa yang membuat Raja sedikit terkejut, ternyata Sasa memperhatikannya beberapa hari ini.
"Kamu tidak tahu rasanya kehilangan seseorang yang paling penting di hidup kamu" kata Raja yang membuat Sasa tersenyum tipis dan tatapannya menjadi redup.
"Saya tahu rasanya, pak" ucap Sasa yang berhasil menarik perhatian Raja.
"Dia abang saya, dia meninggal karena menyelamatkan saya dari penculik" ucap Sasa memperlihatlan foto seorang pria, tiba-tiba tatapanny menjadi sangat redup.
Raja seketika merasa, Sasa juga merasa sedih sama sepertinya.
"Dia Rela di pukuli hanya demi menyelamatkan saya. Kehilangan dia, adalah hal yang paling menyakitkan" lanjutnya yang lagi-lagi membuat Raja terkejut.
"Dulu, saya sangat mirip seperti pak Raja. Memang bukan hal yang mudah jika kehilangan sosok terpenting dalam hidup kita. Tapi saya sadar, abang saya pasti akan sedih kalau melihat saya terus terpuruk" kata Sasa lalu tersenyum pada Raja.
"Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?"tanya Raja.
"Karena saya tahu, abang saya akan bahagia kalau melihat saya bahagia. Dan saya rasa, saudara pak Raja juga seperti itu. Dia pasti sedih, kalau meliat pak Raja seperti ini" ucap Sasa.
Seketika Raja terdiam, berusaha mencerna baik-baik maksud perkataan Sasa. Gadis itu ada benarnya, Raka pasti akan sedih jika melihanya seperti ini. Dan satu hal yang Raja ketahui hari ini, di dunia ini bukan hanya dia yang merasa kehilangan.
Ini pertama kalinya Raja mendengar kisah hidup Sasa, itu terdengar sangat menyedihkan.
"Ada yang kamu rindukan dari dia?" tanya Raja yang membuat Sasa terdiam sejenak.
"Pelukannya" jawab Sasa dengan senyuman tipis.
Tanpa aba-aba, Raja langsung memeluk tubuh mungil sekretarisnya itu. Sasa terpaku saat wajahnya menempel di dada bidang milik Raja. Elusan tangan Raja membuatnys merasakan kehadiran abangnya itu.
"Saya juga rindu pelukan saudara saya" ucap Raja dengan suara seraknya.
__ADS_1
Entah ada dorongan dari mana, Raja tiba-tiba mencium kepala Sasa. Itu semakin membuat Sasa terpaku, bingung harus bereaksi seperti apa.
"Saya nyaman seperti ini" ucap Raja singkat.