
Jam menunjukan pukul tujuh pagi. Semua orang di mansion sedang bersiap untuk sarapan pagi. Revano naik ke lantai dua, untuk mengecek keadaan Reina.
Saat hendak mengetuk pintu, dari dalam Reina membuka pintu. Gadi itu sedikit terkejut saat melihat ada Revano di depan pintu.
"Yang lain udah nunggu di bawah" kata Revano lalu berjalan lebih dulu.
Reina dengan cepat menyusul Revano, lalu menahan tangan pria itu. Ia benar-benar ingin berbicara dengan Revano.
Namun pria itu terlihat seperti menghindar, semalaman Reina maupun Revano kesulitan untuk tidur.
"Selesaikan masalah kalian setelah sarapan pagi. Kasihan semua orang sudah menunggu" kata Richard yang tiba-tiba berada di belakang mereka.
Richard turun lebih dulu, lalu diikuti Revano dan Reina.
Semua orang sudah lengkap di meja makan. Hari ini hanya ada keluarga Raymond dan Stamford. Para sahabat Raka dan Christy, ingin memberi ruang agar keluarga ini bisa menyelesaikan masalah.
Saat mereka sedang sarapan, tiba-tiba Richard sadar kalau Steven tidak ada.
Baru saja ia ingin menanyakan dimana keberadaan adiknya yang satu itu. Tiba-tiba Steven turun dari atas.
"Aku disini bang" ucap Steven yang tahu kalau Richard mencarinya.
"Baru bangun?" tanya Richard membuat Steven mengangguk.
Steven langsung bergabung bersama yang lain. Mereka semua sarapan, tanpa ada suara sama sekali. Hanya suara sendok dan garpu yang saling bertabrakan.
15 menit telah berlalu. Meja makan sudah di bereskan beberapa maid. Satu persatu dari mereka keluar dari mansion, untuk pergi bekerja.
Christy mengantar Michel hingga ke depan mansion. Raka dan Raja sudah pergi ke kantor bersama. Diruang keluarga tersisa Revano, Reina, Richard, Faris dan juga Steven.
"Bang, aku ke toilet dulu" kata Revano lalu berdiri dari duduknya. Namun Richard langsung menahannya.
"Selesaikan masalah kalian, baru kamu bisa ke toilet" ucap Richard yang terlihat sangat serius.
"Tapi bang...." Revano tidak melanjutkan perkataannya, saat melihat Richard yang sangat mengerikan.
"Kamu bukan anak-anak, Revano! Semakin sering kamu menghindar, justru semakin larut masalah yang kamu hadapi" ucap Richard membuat Revano pasrah dan duduk kembali.
"Cewek secantik dia, kalau lo sia-siain pasti nyesel nanti" kata Steven lalu tertawa kecil. Namun tawanya itu berhenti, saat melihat Richard menatapnya tajam.
Tiba-tiba Reina memberikan sebuah foto pada Revano. Revano sedikit bingung, lalu melihat foto siapa itu.
Foto itu menampilkan wajah Alex dan Reina. Ada rasa marah, cemburu, bahkan sedih di hati Revano. Saat melihat foto itu.
"Karena dia, aku sampai ngelakuin hal sejauh ini" Reina mulau mengeluarkan suaranya, membuat Revano menatapnya.
"Tapi kenapa Rein? Kenapa harus aku?" tanya Revano yang menampilkan tatapan kehancuran.
"Dulu, aku gak bisa nyakitin Christy. Aku coba untuk nyakitin orang terdekat dia. Dan itu kamu. Tapi semakin kesini, aku justru sayang sama kamu" Reina menggigit bibirnya agar isakan itu tidak terdengar.
"Alex cinta pertama aku, kehilangan dia buat aku hancur banget. Aku dan Alex tumbuh bersama, sejak kecil Alex yang selalu lindungi aku" ucap Reina mencoba menjelaskan semuanya pada Revano.
"Aku tahu Alex ketua mafia, tapi dia gak sejahat yang kalian semua fikirkan. Dia seperti itu, karena sayang pada Zee. Hanya Zee yang dia punya, setelah kedua orangtuanya meninggal" Reina menatap ke 4 pria di hadapannya itu.
"Tapi rasa sayangnya itu justru membuat dia terlihat bodoh. Menyakiti banyak orang, hanya untuk membuat satu orang bahagia. Itu yang Lo bilang baik?" tiba-tiba Steven bertanya, membuat Reina terdiam sejenak.
"Princess, kemarilah" panggil Richard, saat melihat Christy yang baru saja masuk selepas mengantar Michel.
Christy berjalan mendekat kearah mereka. Keadaan sedikit canggung saat Christy datang.
"Reina, lihat wajah princess" ucap Richard membuat Reina menatap Christy.
"Gadis yang kamu lihat saat ini, adalah gadis yang Alex hancurkan kebahagiaannya" kata Richard membuat Christy menatapnya.
"Bang" tegur Christy karena merasa tidak enak, saat mendengar perkataan Richard.
"Dan dia juga, adik dari pria yang kamu sakiti selama ini" Richard kembali berbicara, ia menunjuk Revano yang terdiam sejak tadi.
"Alex, dia alasan kenapa keluarga ini hancur. Dan Alex, adalah alasan kenapa sampai saat ini semuanya masih hancur" lanjutnya, membuat Reina terisak.
Perkataan Richard benar-benar menusuk hingga ke hati.
"Zee, turun" ucap Richard yang tahu jika sejak tadi Zee mendengarkan perkataanya dari atas.
Zee menghapus air matanya, lalu turun dan menghampiri mereka semua.
"Saya membiarkan kamu hidup, Karena saya tahu kamu gadis yang baik" ujar Richard sambil menatap Reina.
"Revano, Reina, dengarkan saya baik-baik! Akan ada saatnya, dimana kalian harus memaafkan dan merelakan masa lalu. Kalian tidak bisa hanya berdiam terus menerus" ucap Richard menatap kedua orang itu.
"Revano, Abang tahu kamu kecewa. Tapi semuanya sudah berlalu, Reina sudah mengakui semua kesalahannya. Sekarang kamu harus bisa memperbaiki hubungan kamu ini" Richard kembali berbicara.
Ia hanya ingin semuanya membaik. Masalah yang terus berdatang, membuatnya merasa tertekan dan kesulitan untuk berfikir.
__ADS_1
"Selesaikan masalah kalian. Kami akan memberikan ruang untuk kalian" kata Richard lalu berjalan pergi.
Faris, Steven dan Christy mengikuti Richard. Steven menepuk pundak Faris, membuat Faris menatapnya bingung.
"Lo lihat gak tadi?" tanya Steven membuat Faris menatapnya.
"Terus?".
"Abang gue itu. Keren kan" ucap Steven dengan senyuman lebarnya.
"Bodoh amat!" kata Faris lalu berjalan meninggalkan Steven.
"Abang gue emang keren abis deh" Steven berbicara pada dirinya sendiri.
Diruang keluarga tersisa Revano dan Reina. Revano hanya bisa terdiam, menatap foto Reina bersama Alex.
"Cuma satu Rein, cuma satu pertanyaan aku buat kamu. Please..... Jawab jujur" Revano berdiri dari duduknya. Lalu menghadap tepat ke arah Reina.
"Sedikit ajah Rein.... Apa ada walaupun sedikit rasa sayang kamu buat aku?" tanya Revano dengan tatapan yang sangat hancur.
Revano hanya ingin tahu perasaan Reina saat ini, agar ia tahu harus berjuang atau berhenti sampai di sini.
Revano tidak mungkin terus berhubungan dengan seseorang yang tidak mencintainya. Itu sama saja ia melukai dirinya sendiri.
"Aku gak tahu kamu mau percaya atau gak sama omongan aku. Tapi aku sayang sama kamu Rev, aku sayang banget" kata Reina sambil menghapus air matanya.
Revano secara tiba-tiba memeluk Reina. Dia mengelus lembut kepala gadis itu, berusaha meyakinkan dirinya kalau gadisnya sudah kembali.
"Suatu hari nanti, kalau rasa sayang itu hilang jangan bilang ke aku. Karena aku gak akan pernah siap untuk kehilangan kamu" Revano berbisik ditelinga Reina.
"Aku gak akan ninggalin kamu" ucap Reina lalu terisak di pelukan Revano.
"Satu masalah selesai lagi. Dan itu karena Abang" kata Christy yang berdiri di lantai dua. Melihat Revano dan Reina berpelukan.
"Kenapa bisa bilang gitu?" tanya Richard sambil tersenyum tipis.
"Semua masalah yang terjadi, mau itu sulit atau enggak. Selalu bisa selesai, karena bang Richard" Christy menatap abangnya itu.
Richard tersenyum manis, lalu mengacak gemas rambut Christy.
"Cepatlah punya anak, Abang ingin bermain dengannya. Pasti dia akan secantik kamu" kata Richard membuat Christy terkekeh.
"Kalau anak aku cowok, gimana dong?" tanya Christy penasaran.
"Kalau dia cowok, pasti dia akan pandai bela diri seperti kamu" ucap Richard dengan senyuman manisnya.
"Bahaya kalau Abang punya anak" kata Richard membuat Christy bingung.
"Bahaya? Maksud Abang?" tanya Christy membuat Richard tersenyum tipis.
"Papanya saja sudah ganteng seperti ini. Bagaimana anaknya nanti" ucap Richard membuat Christy tertawa.
Richard ikut tertawa saat melihat Christy tertawa. Candaan yang tidak begitu lucu, bisa membuat Christy tertawa. Dan itu membuatnya senang.
"Abang, tahu gak bang Reza kemana?" tanya Christy pada Richard.
"Dia banyak menjalankan misi. Tadi subuh baru sampai di markas, siang ini dia akan berangkat ke Dubai" ucap Richard yang di angguki Christy.
"Zee mencarinya?" tanya Richard membuat Christy mengangguk.
"Mempunyai hubungan dengan seorang mafia, tidak semudah yang orang-orang fikirkan. Mafia mempunya kesibukannya sendiri, banyak hal yang harus di lakukan" ujar Richard yang tentunya dimengerti Christy.
"Ini hal yang baru untuk Zee, jadi wajar dia seperti itu" Christy memaklumi perasaan Zee saat ini.
"Bang Richard, mau gak temenin aku ke mansionnya Tasya?" tanya Christy membuat Richard mengangguk.
"Anak Tasya pasti akan sangat pecicilan. Sama seperti Tasya" ucap Richard, mengingat bagaimana sifat Tasya.
"Tapi hari ini Abang gak ada acara kan? Kalau ada, aku bisa sendiri ke mansionnya Tasya" kata Christy.
"Gak ada princess. Abang gak ada acara, jadi bisa nemenin kamu".
"Mau pergi sekarang?" tanya Richard melihat jam yang di pakainya.
"Iya bang. Tapi kita mampir ke mall dulu ya. Beli sesuatu buat Tasya" ucap Christy yang di angguki Richard.
"Yaudah, Abang ganti baju dulu" kata Richard.
Mereka langsung masuk ke kamar masing-masing, untuk mengganti pakaian.
Hanya butuh waktu 10 menit, mereka sudah selesai mengganti pakaian. Richard dan Christy menggunakan pakaian yang lumayan santai.
Richard hanya menggunakan kaos lengan panjang, berwarna hitam. Celana jins hitam yang terlihat seperti habis di cakari kucing. Tidak lupa jaket jendrel KC miliknya.
__ADS_1
Sedangkan Christy, dia menggunakan baju berwarna hitam, celana selutut berwarna putih. Rambut yang hanya di ikat asal-asalan. Dan juga tas kecil yang tergantung di pundaknya.
"Pergi sekarang?" tanya Richard.
"Iya bang".
Richard merangkul pundak Christy, lalu keluar dari mansion. Maid suruhan Richard sudah menyiapkan mobil.
"Mobil kesayangan Abang, mana?" tanya Christy saat melihat mobil yang akan di gunakan, bukan mobil yang biasa Richard pakai.
"Steven dan Faris membawa mobil Abang" ucap Richard.
"Masuk princess" Richard membuka pintu mobil untuk Christy.
Saat Christy sudah masuk kedalam mobil, ia pun berjalan menuju pintu untuk pengemudi.
"Buka gerbangnya" Richard memerintahkan maid untuk membuka gerbang mansion.
Gerbang besar itu terbuka perlahan, benar-benar gerbang yang tinggi.
Selama di perjalanan, Richard terus berbicara bersama Christy. Keduanya sesekali tertawa bersama.
Hingga Christy menanyakan sesuatu, yang membuat Richard terdiam. Bingung harus menjawab apa.
"Abang pernah punya perasaan ke aku?" Tanya Christy yang justru membuat Richard terkejut.
Pertanyaan macam apa itu, terlalu sulit di jawab. Bahkan di dengar pun terasa sangat sulit.
"Princess, kamu tahu Abang sayang dan cinta sama kamu" ucal Richard tersenyum. Christy menatap wajah Richard cukup lama.
"Sebagai Abang ke adiknya? Atau pria ke seorang gadis?" Christy kembali bertanya, membuat Richard menjadi bingung harus menjawab apa.
"Kenapa bertanya seperti itu hmm?" tanya Richard lalu mengenggam tangan Christy.
"Abang tahu sendiri, aku sama Abang memang bisa membaca isi hati orang. Bisa tahu apa yang mereka rasakan. Tapi hanya satu yang tidak bisa kita baca, perasaan seseorang. Apa lagi rasa cinta" kata Christy yang menampilkan raut wajah yang sulit di artikan.
"Memangnya kenapa kamu mau tahu perasaan Abang? Ada yang ngomong sesuatu ke kamu?" tanya Richard yang tetap terlihat tenang.
"Aku cuma takut nyakitin Abang" ucap Christy membuat Richard meliriknya sebentar. Lalu kembali fokus menyetir.
"Nyakitin Abang? Kenapa ngomong gitu?".
"Abang bayangin ajah. Abang selalu lakuin semuanya buat aku, dan aku gak tahu atas dasar apa Abang lakuin itu. Entah untuk seorang Abang ke adiknya. Atau seorang pria ke gadis yang dicintainya. Kalau Abang punya perasaan ke aku, dan aku gak tahu sama sekali. Itu sama ajah aku nyakitin Abang selama ini" Christy mengeluarkan semua yang ia rasakan saat ini.
Richard langsung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menatap wajah Christy, mengenggam erat tangan gadis itu.
"Kalau memang Abang punya perasaan sama kamu. Itu bukan salah kamu, princess. Tapi salah Abang" kata Richard membuat Christy menatapnya.
"Tapi itu juga sama ajah, aku nyakitin Abang. Aku gak tahu perasaan Abang gimana" ucap Christy yang juga mengenggam tangan abangnya itu.
Christy berusaha untuk menanyakan hal ini sejak lama. Namun baru ada keberanian saat ini. Christy takut menyakiti hati abangnya itu.
Jika Richard mencintainya, dan dia tidak tahu sama sekali. Itu sama saja dia telah menyakiti hati Richard.
"Lalu, kalau Abang punya perasaan untuk kamu. Bagaimana?" tanya Richard yang justru membuat Christy terdiam.
"Princess, dengarkan Abang baik-baik. Sekalipun Abang punya perasaan untuk kamu, Abang hanya akan menyimpannya sendiri. Karena hubungan seperti ini, sudah lebih dari cukup untuk Abang" ucap Richard tersenyum menatap wajah Christy.
Senyuman itu, terlihat sangat berbeda. Bukan senyuman kebahagiaan, tapi kesedihan.
"Bang Richard yakin?" tanya Christy yang masih ragu dengan jawab Richard.
"Iya princess" jawab Richard lalu mengelus kepala Christy.
Richard kembali menjalankan mobilnya, Christy terus menatap wajah Richard. Ada yang aneh, tapi entah apa itu.
"Kenapa menatap Abang seperti itu?" tanya Richard yang sadar kalau Christy menatapnya sejak tadi.
"Rindu masa lalu" jawab Christy lalu menyandarkan kepalanya di jendela mobil.
"Kenapa rindu masa lalu? Sekarang hidup kamu sudah bahagia princess" Richard tersenyum mendengar perkataan adiknya itu
"Dulu, semuanya terasa sangat mudah. Semakin hari, masalah semakin bertambah. Bahkan sampai kehilangan orang yang paling berarti. Ayah, Putri bahkan Aya juga" kata Christy mengingat semua orang yang pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Princess, semuanya adalah takdir. Kita memang bisa melihat sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Tapi tidak bisa merubahnya. Dan sekalipun kita berusaha mengubahnya, justru hal yang tidak terduga terjadi" kata Richard yang mengerti perasaan Christy.
"Dulu, Abang sama kamu tahu betul apa yang akan terjadi saat pertempuran melawan BD. Kita berdua sama-sama berusaha mengubah itu semua. Tapi lihatlah, kamu yang menjadi korban" kata Richard mencoba membuat Christy mengerti, dengan semua yang terjadi.
"Steven, dia mencoba untuk merubah takdir. Kamu menyelamatkan Abang dari kecelakaan itu. Tapi justru ayah, Raka dan Raja yang jadi korban" ucap Richard membuat Christy menatapnya.
"Pantangan terbesar bagi kita, untuk merubah takdir yang sudah di tentukan. Semakin keras kita berusaha mengubah takdir, justru semakin besar rasa kehilangan yang kita alami" lanjutnya.
Christy berfikir sejenak, semua perkataan Richard memang benar. Semua hal yang coba di ubahnya, justru menjadi bencana yang besar.
__ADS_1
"Makasih..... Makasih karena Abang selalu bisa buat semuanya membaik. Aku gak tahu hidup aku tanpa Abang bagaimana. Semuanya terasa mudah, kalau ada Abang" ucap Christy membuat Richard tersenyum tipis.
"Kembali kasih princess" kata Richard menampilkan senyuman yang bisa membuat semua kaum hawa pingsan.