
Naya berjalan menyusuri trotoar menggenggam kantong kresek berisi obat yang dia beli diapotik untuk ibunya,tidak seperti biasanya yang selalu ceria,naya terlihat tak bersemangat sama sekali,naya masih memikirkan bagaimana mendapatkan bukti kejahatan dari ibu tirinya itu,dengan bukti itu dia akan bisa menyeret ibu tirinya itu ke penjara,dengan begitu maka penderitaannya selama ini akan berakhir.Naya masih tampak berpikir dalam perjalanannya hingga saat menyeberang jalan dia masih sibuk denganpikirannya,sementara dari arah kanan sebuah mobil melaju dengan kencang,pengemudi mobil sport warna hitam itu terkejut dengan penyeberang jalan yang menyelonong tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan,sontak saja dia terkejut dan mengerem mendadak dan memutar kemudinya hingga bunyi rem mobil itu berdecit kencang.
Naya yang terkejut dengan bunyi rem mobil mewah itu pun sontak menoleh kearah mobil yg telah berhenti tak jauh dari dia berdiri sekarang,seseorang keluar dari mobil dan membanting pintu dengan kasar "hei..!!! kalau kau mau mati jangan di mobilku,terjun saja ke jurang...!!! seorang pria dengan jas lengkap menatap tajam ke arah naya,mata elangnya memberikan tatapan membunuh bagi siapa saja yang melihatnya.Dia adalah Kenan Smith,sang penguasa bisnis dan dunia gelap(mafia) Tiba-tiba...
Dooor..dorr...
suara tembakan membuyarkan suasana naya berteriak ketakutan,sementara mobil penembak itu kian mendekat. Door..
"aaakkhhh" naya memekik kesakitan krn lengannya tertembak,terpaksa kenan menggendong naya masum ke dalam mobilnya,memakaikan seatbelt untuk naya dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga mobil yg mengejar tadi kehilangan jejak mereka,naya yg memucat karena shok dan kehilangan darah perlahan pandangannya kabur dan tak sadarkan diri.
Kenan membawa naya ke rumah sakit,dia mengendong naya dan berteriak memnggil para dokter "Novaaaaan..!!!!"" suara kenan memecah keheningan di rumahsakit,pemilik nama yang tadi disebut pun tergopoh-gopoh menghampiri kenan "tuan mudaa...ada apa tuan?". "cepat kau obati gadis ini,dia tertembak!!" perintah kenan penuh penekanan "bagaimana bisa dia tertembak?siapa gadis ini tuan??" "tidak udah banyak tanya,cepat lakukan tugasmu,dia kehilangan banyak darah bodoh!!"
__ADS_1
"hastagaaa kau selalu menyebutku bodoh tapi kau selalu meminta pertolonganku kalo sudah begini kan?"
kenan menggerutu dalam hati "tidak usah mengumpatku,kecuali kau sudah bosan hidup"
kenan menyeringai tajam "si..siapa junga yang mengumpat,dasar..." jawab kenan samar "hei aku mendengar apa yang kau katakan" "maaf tuan muda hehe" dokter novan cengengesan
"sial...bahkan berkata dalam hatipun ketahuan.." gerutu dokter evan lagi
"bagaimana?"tanya kenan masih dengan wajah datarnya "pelurunya sudah ku keluarkan,dan luka tembaknya tidak mengenai tulangnya,jadi dia akan segera pulih setelah ini" novan menjelaskan kondisi naya pada kenan "boleh aku masuk?"tanya kenan, "kau boleh melihatnya saat di ruang perawatan nanti,perawat akan memindahkannya" "berikan ruangan terbaik"ucap kenan "wow...dengansenang hati tuan muda" jawab novan smbil terkekeh...
di depan ruang perawatan VVIP....
__ADS_1
"boleh aku masuk sekarang?"kenan
"tentu saja....tapi..siapa gadis itu?kenapa dia bisa tertembak?dan kenapa dia bersamamu?"cecar novan kenan hanya memutar bola matanya dengan malas danasuk ke ruangan itu tanpa memberi jawaban "hei...ken...jawab aku dulu" kenan memandangi naya yang masih belum sadar "kapan dia akan sadar?" "sebentar lagi dia pasti sadar,hei kau belum menjawab pertanyaanku tadi ken,siapa gadis itu?" "mana aku tau" jawab ken enteng,novan melotot tak percaya dengan jawban kenan "kau menggendongnya,membawanya kesini dan mengatai ku bodoh tadi saat kau datang,dan kau bilang kau tidak tau siapa gadis itu???" novan masih tak percaya "memang aku tidak tahu,terus apa masalahmu?"jawab kenan masih dengan nada datar "hei aku mengenalmu dengan baik ken jadi tidak perlu membohongiku,tidak mungkin kau menolong seorang wanita jika dia bukan siapa-siapamu"cecar novan lagi "terserah padamu saja mau percaya atay tidak" kata kenan lagi yang membuat novan sangat kesal
"bisa-bisanya dia mau berpura2 didepanku,kaupikir aku bodoh??tidak mungkin kan kau menolong sembarang gadis,aku tau sifatmu yang tidak pernah perduli dengan orang lain apa lagi seorang wanita,kecuali kau tertarik padanya"
pletaaakkk "aaawwww sakit tau,kau selalu saja menjadikan keningku ini pelampiasanmu" sungut novan sambil mengusap keningnya yang terkena sentilan maut dari kenan "kau pikir aku tidak tau kalau kau sedang mengumpatku dalam hati hah??"mendengar ucapan kenan membuat novan cuma nyengir kuda,semua itu terhenti saat naya mulai mengerjapkan matanya,terdengar lengguhan dari bibirnya,kenan dan novan menghampiri naya "dimana aku...kenapa kepalaku pusing sekali...tanganku...sakit...."naya mulai merintih "nona,kau terluka dan kau ada di rumahsakit sekarang" novan
"rumah sakit??siapa yang membawaku ke sini?obat...dimana obatku???" naya berusaha bangun tapi novan mencegahnya "anda masih dalam pengaruh obat nona,anda tertembak dan temanku ini yang membawa anda kesini" jawab novan terkekeh,kenan masih terdiam memperhatikan naya tanpa berkata sepatah katapun "tertembak??" tanya naya sembari mengingat ingat kejadian yang dia alami lalu dia teringat lagi dengan obat yang dia beli tadi "dimana obat ku?" naya berusaha mencari2 obat yang dia beli tadi "obat?? obat apa nona?kami tidak menemukan obat anda disini..."jawab novan lagi,kenan masih tetap diam dengan tatapan dinginnya "tadi saat ada kejadian penembakan itu,aq dari apotik membeli obat untuk ibuku..." kaya naya dan sekejap kemudian..."ibu...ibuku...jam berapa sekarang?berapa lama aku ada disini???aku belum menyuapi ibuku makan,aku harus kembali" naya berusaha bangun dan hendak turun dari tempat tidur pasien tapi kali ini kenan menahannya "kau harus belum bisa keluar dari rumahsakit ini sebelum kau benar2 pulih" "tapi aq baik2 saja,aku harus pulang dan menyuapi ibuku," naya menjawab kenan sembari memegangi lengannya yang terasa sakit "apakah tuan yang menolongku?" naya baru teringat perkataan dokter novan tadi,kenan mengangguk,novan hanya jadi penonton saja saat ini "terimakasih tuan,bisakah anda mengantar saya pulang?saya benar2 harus pulang tuan,ibu saya belum makan" naya memohon "tapi kau baru selesai oprasi,kau harus dirawat" jawab kenan datar "tapi ibu saya belum makan tuan" "lalu kenapa lau ingin bunuh diri tadi?" kenan
"bunuh diri? siapa yang ingin bunuh diri tuan?"
__ADS_1
"bukankah kau mau bunuh diri di tengah jalan tadi?lalu kenapa sekarang kau teringat ibumu?"cecar kenan masih denganwajah datarnya "maaf tuan,saya tidak ada niatan buat bunuh diri tadi"jawab naya mengelak,novan hanya terbengong sambil bolak balik menatap naya dan ken bergantian "heyy kenapa kalian jadi bertengkar sih??" novan akhirnya menengahi,kedua orang dihadapan novanpun memandang ke arah novan "diaam!!" ucap naya dan ken serentak dan spontan membuat novan diam "well....aku ingin bertanya padamu nona,dimana anda mengenal temanku yang sedingin kutub utara ini?"novan nyengir sambil melirik kenan dan yang dilirik hanya melirik acuh "saya tidak mengenalnya dokter.."jawab naya jujur "apa????....ken..jadi kau benar2 tidak mengenalnya ya?"tanya evan lagi ken hanya memutar bola matanya dengan malas,novan masih menganga tak percaya "siapa namamu nona?" tanya novan lagi "kanaya dokter,panggil saja naya"jawaban naya pada dokter novan "saya sudah lebih baik dokter,bolehkah saya pulang sekarang?" ken menatap novan mencari jawaban untuk pertanyaan naya "baiklah,anda boleh pulang nona,tapi harus rajin minum obat yang ku resepkan" "tapi saya tidak apa2 dokter,bisakah obat saya itu di tukar saja dengan obat untuk ibu saya?karena ibu saya lebih membutuhkannya"naya memohon dengan wajah polosnya "maaf nona kalau boleh tau,ibu nona sakit apa?" tanya novan dengan hati2,pertanyaan itu mewakili isi hati ken, "ibuku sudah lama tidak sadarkan diri dokter..." jawab naya menunduk,ken menatapnya,terlihat jelas wajah pilu itu,seperti banyak tekanan yang disembunyikan dibalik wajah polosnya itu.