
Jack berada dimarkasnya bersama Rendy,terlihat jelas raut muka Jack yang begitu marah mendapati kondisi markasnya yang porak poranda oleh anggota mafia Ken.
"Beraninya kau menyerang markasku,tidak akan ku lupakan Ken!!!!!" suara Jack menggema dalam gedung itu.
"Berapa banyak orang kita yang terluka??" ujar Jack yang pasti saja pertanyaan itu dia tujukan untuk asistennya
"Ada sekitar 30 orang terluka tuan,dan ada sekitar 10 orang yang tewas ditempat" jawab Rendy gamblang.
"AAAAAKKKKKHHHHH....!!!!! KEN..tunggu pembalasanku,kau akan membayar semuanya..!!!" suara Jack kembali menggema,tak ada seorangpun yang berani menatapnya,semua anak buahnya hanya menunduk hormat.
Setelah beberapa lama ponsel Jack berbunyi,tertera sebuah nomor yang merupakan nomor telpon mansionnya,tidak akan ada yang berani menelponnya jika bukan karena suatu yang penting.
"Hallo" Jack mengangkat telponnya
"Tuan,cepatlah kembali tuan,nona Kanaya tuan..." ucap suara di seberang sana dengan nada ketakutan.
"Apa yang terjadi bi?" tanya Jack
"Nona Kanaya pingsan tuan" ucap bi Asih dalam sambungan telpon,sontak Jack pun segera memutuskan panggilan.
"Aku harus kembali ke mansion,kau urus semuanya Ren" ucap Jack sembari berbalik menuju pintu keluar.
Jack memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi,entah mengapa dia seolah takut terjadi sesuatu pada gadis itu,dengan hati yang tak sabar untuk sampai mansion Jack terus menekan pedal gas mobilnya,melesat bagai angin membelah jalanan yang lengang.
Braaakkk
Pintu mansion terbuka dengan keras karena ulah Jack,dia langsung berlari menuju lift dan menekan angka 3 dimana kamarnya berada.
Jack langsung masuk ke kamarnya karena pintu sudah terbuka,terlihat bi Asih dan beberapa pelayan ada disana sedang membantu mengompres Naya.
"Apa bibi sudah menghubungi Rey?" tanya Jack pada bi Asih
"Sudah tuan,bibi menghubungi dokter Ray setelah mengabari tuan tadi,sekarang dokter Rey sedang dalam perjalanan kemari" jawab bi Asih.
"ibu....ibu..." racau Naya,Jack bertambah panik dia meletakkan tangannya di dahi Naya.
"Kenapa dia begini?? padahal obatnya sudah dia minumkan tadi??" ujar Jack dalam kepanikannya,tak lama Rey datang dan langsung nyelonong ke kamar Jack seperti biasanya.
"Ada apa? siapa lagi yang sakit?" ujar Rey yang baru saja datang itu.
"Hey kenapa kau tak mengetuk pintu hah?!!" geram Jack.
"Apa?? sejak kapan aku perlu mengetuk pintu di sini Jack??" jawab Rey yang heran dengan protes sahabatnya hanya karena dia nyelonong,Jack menatap kesal.
"kan memang biasanya aku begini kan??"
arti tatapan Rey membalas tatapan tajam Jack.
"Mulai hari ini kau harus mengetuk pintu mansionku saat kau datang, dan khusunya kamarku ini" ujar Jack lagi
__ADS_1
"ibu...ibu..." terdengar lagi racauan Naya yang membuat kedua sahabat itu sadar dan mengakhiri perdebatan mereka soal mengetuk pintu itu.
"Ibu..? kau tau dimana ibunya?" tanya Rey setelah memeriksa Naya
"Mana aku tahu,aku kan menemukannya di hutan". jawab Jack,Rey hanya manggut-manggut dan memberikan lagi beberapa obat.
"Mungkin dia merindukan ibunya,ada baiknya kau cari keluarganya dan membawanya pada ibunya" ujar Rey lagi,Jack hanya terpaku mendengar ucapan Rey.
"Jack..? kau kenapa? kau tentu bisa kan menemukan keluarganya?" ujar Rey yang heran melihat gelagap sahabatnya yang masih terdiam itu.
"Hei.." Rey mengibaskan tangannya di depan muka Jack, Jack hanya melirik kesal.
"Apa aku harus membawanya pada keluarganya?" ujar Jack,Rey terbelalak dengan pertanyaan konyol sahabatnya ini dan lalu tertawa terbahak.
"Kenapa kau tertawa?? apanya yang lucu" protes Jack memukul lengan Rey
"hahaha kau sungguh konyol, yang kau bawa itu anak orang Jack, dan dia merindukan ibunya tentu saja kau harus membawanya pada ibunya bukan?? bahkan anak TK pun tau itu" ujar Rey masih dengan tertawa,wajah Jack semakin kesal saja dibuatnya.
"Apa tidak ada solusi lain? bukankah kau dokter? pasti kau tau obatnya bukan?" ketus Jack
"Hey sejak kapan rindu pada seseorang itu ada obatnya di dunia medis???? jangan bilang kau telah jatih cinta padanya sampai- sampai kau tidak mau mengembalikannya pada keluarganya" tebak Rey
"Jangan sembarangan bicara,cepat resepkan saja obatnya" sarkas Jack
"Aku akan berhenti jadi dokter jika kau bisa menemukan obat penghilang rindu Jack,hahahaha" ujar Rey terbahak
"mana ada tablet atau kapsul pengobat rindu??? yang ada itu obat penghilang ingatan dan kau pasti telah menelannya hingga kau terlihat sangat bodoh!!!" umpat Rey pada sahabatnya di sela-sela tawanya.
Dalam sekejap Rey menghilangkan tawanya karena dia masih sayang dengan nyawanya.
"Baiklah Jack aku tidak akan tertawa lagi hehe" ujar Rey meringis menunjukkan deretan giginya.
"Lalu apa solusinya?" tanya Jack lagi
"Aku sudah memberikan obat lain dengan dosis setingkat lebih tinggi dari yang pertama pada gadis itu,ku harap itu akan bekerja minimal menurunkan demamnya,luka di lengannya cukup serius,itu bekas luka tembak sepertinya" kilah Rey panjang lebar.
"Luka tembak??bagaimana bisa dia mendapatkan luka tembak?" Jack terkejut
"Aku tidak tahu,tapi sejauh yang aku lihat lupa itu sudah hampir sembuh sebenarnya tetapi karena suatu hal luka itu kembali robek" ujar Rey lagi.
"Kenapa kau baru bilang kalau itu luka tembak?? bukannya bilang sejak awal..!!!" ujar Jack kesal.
"Hehehe..." Rey hanya cengengesan.
Setelah lama berbincang dengan Rey seputar kondisi Naya Jack pun membiarkan Rey pergi untuk kembali ke rumahsakit, karena banyan pasien yang telah menunggu,Jack bergegas kembali ke kamar untuk melihat Naya.
Jack menghampiri ranjang dimana ada Naya yabg tergeletak lemas,tangan Jack telah bertengger di dahi naya.
"Panasnya sudah turun..." ujar Jack
__ADS_1
"Kalian boleh pergi.." lanjut Jack lagi menyuruh para pelayan yang sedari tadi berjaga disana untuk meninggalkan kamarnya.
Semua pelayan keluar,tinggalah Jack dan Naya saja dalam ruangan itu.
Jack menggenggam tangan Naya,menatap wajah naya yang pucat dengan mata yang masih terpejam,hati Jack menghangat ada debaran yang tak bisa Jack artikan sesaat kemudian Jack meletakkan kembali tangan Naya dan meraba dadanya sendiri.
"Kenapa jantungku berdetak sekencang ini??" gumam Jack,setelah itu terdengar lenguhan dari seorang yang terbaring didepannya,Naya terlihat mengerjapkan matanya,perlahan mata itu membuka,bola mata coklat nan teduh itu menatap Jack.
"Kau sudah sadar?" Jack tersenyum
" astagaa dia tampan juga saat tersenyum"
gumam Naya dalam hati
"Memangnya aku kenapa tuan?" Naya malah menjawab Jack dengan pertanyaan.
''Kau pingsan dan demam tinggi tadi" jawab Jack,sontak Naya langsung memegang dahinya sendiri.
"Benarkah?? tapi ini tidak demam kok" ujar Naya
"Rey telah memberimu obat tadi" jawab Jack lagi
"Oh astaga...maafkan aku telah merepotkanmu lagi tuan" ujar naya mengatupkan kedua tangannya,Jack tersenyum lagi.
"Kau tidak perlu berterimakasih seperti itu" kilah Jack,Naya hanya menunduk.
"Bolehkah aku bertanya?" ujar Jack lagi dijawab dengan anggukan kepala oleh Naya.
"Siapa nama panjangmu? dan dimana kau tinggal?" tanya Jack lagi
"Nama ku Kanaya Ameera Anditama tuan"
"Anditama?? aku kenal nama itu" jawab Jack terkejut.
"Itu artinya kau seorang pengusaha? karena ayahku seorang pengusaha dulu" ujar Naya.
"Tentu aku mengenalnya,tetapi tuan Anditama sudah lama meninggal bukan?" tanya Jack lagi.
"Iya tuan anda benar.." jawab Naya
"Lalu..kau hanya tinggal dengan ibumu sekarang? apa itu sebabnya kau memanggil ibumu tadi?" tanya Jack lagi dan lagi.
"Memanggil ibu?? aku??" ujar naya seraya menunjuk mukanya sendiri,Jack hanya mengangguk,Naya menunduk raut mukanya berubah sedih,Jack mengernyitkan dahi melihat perubahan itu.
"Kenapa? apa kau ingin bertemu dengan ibumu?" tanya Jack dengan hati-hati Naya hanya mengangguk pelan.
"Baiklah,aku akan mengantarmu pulang agar kau segera bertemu dengan ibumu" ujar Jack lagi,tetapi Naya menggeleng.
"Kenapa?" tanya Jack tak mengerti dengan arti gelengan Naya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa bertemu ibu tuan" jawab Naya yang semakin membuat Jack dalam tanda tanya besar.