Upik Abu Kesayangan Bos Mafia

Upik Abu Kesayangan Bos Mafia
bab 35 Kabar tentang Naya


__ADS_3

Naya menoleh ke arah sumber suara,seorang wanita paruh baya yang sangat dia kenal.


"Bibi Yeni???!!!" Naya spontan berlari menghampiri wanita yang tengah tersenyum padanya.


Naya memeluk bibi Yeni dengan erat, melepaskan kerinduan yang begitu besar,karena setelah pertemuannya di pasar waktu itu mereka tak pernah lagi bertemu.


"Bibi,Naya rindu bi.." tanpa melepaskan pelukannya pada bibi Yeni.


"Bibi juga rindu nona kecil..." bibi Yeni pun memeluk Naya dengan erat,bi Asih tampak bingung dengan situasi yang ada didepan matanya saat ini.


Naya tersadar ada orang lain bersamanya saat ini dan melepaskan pelukannya dari bibi Yeni seraya menoleh ke arah bi Asih yang masih berdiri di tempatnya memandangi Naya dan bibi Yeni.


"Bi Asih...kemari bi.." Nayapun menghampiri bi Asih dan menarik tangannya untuk mendekat ke arah bibi Yeni.


"Bi,ini bibi Yeni,orang yang telah merawatku sejak kecil, dan bibi Yeni,ini bibi Asih" Naya memperkenalkan kedua wanita itu yang langsung melakukan jabat tangan dan tersenyum.


"Nona kecil kemana saja? bibi pernah berkunjung kerumah tapi Soraya bilang nona tidak ada,dan kata silvi nona ada di rumah sakit saat itu" mendengar pertanyaan bibi Yeni,Naya terdiam dan sejenak dia teringat akan ibunya,seketika mata Naya berkaca-kaca,bi Asih yang menyadari hal itu segera bersuara.


"Bagaimana kalau kita duduk disana saja,sepertinya akan lebih baik dari pada berdiri di sini dan membicarakan sesuatu bukan?" bi Asih menunjuk sebuah taman yang ada di depan supermarket tempat mereka berada saat ini,bibi Yeni dan Naya pun setuju.


"Kalian kesana saja duluan aku akan menyelesaikan urusan belanja ini dan menyusul kalian nanti" ucap bi Asih,Naya dan bibi Yeni pun mengangguk setuju.


.


.


.


.


.


"Fella kenapa kau tak juga pulang nak? apa kau tidak merindukan ibu dan adikmu?" Soraya berbicara melalui ponselnya.


"Ibu rindu padaku atau uang bu?" jawab Fella datar.


"Kau ini sungguh tidak sopan pada ibumu ini,aku ibumu tentu saja aku menghawatirkanmu yang telah lama pergi dan tak kunjung pulang kerumah...!!!" Soraya menaikkan volume suaranya.


"Ya baiklah anggap saja begitu bu,dan perlu ibu tahu,aku tidak bisa pulang saat ini bu"


"Pekerjaan apa Fella?? sejak kapan kau bekerja? dan kerja apa kau disana?" cecar Soraya lagi.


"Sayang...sudah telponnya aku merindukanmu...cepatlah aku sudah tak tahan..." rerdengar suara lelaki di dekat Fella yang membuat Soraya terbelalak kaget.


"Fella...!!! siapa itu?? kau bersama seorang lelaki??"


"Ish...sudah ya bu,aku tutup dulu telponnya"


"Hei kau belum menjawab pertanyaan ibu Fella...!!! siapa lelaki yang.."


Tuuut.. tuut..tut


Fella memutus panggilan tiba-tiba,Soraya berdecak kesal dengan perlakuan putrinya.


"Siapa laki-laki yang bersama Fella?apakah itu tuan Beni?" Soraya bergumam pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Rasa penasaran Soraya semakin menguasai hatinya,akhirnya dia memutuskan untuk mengetik pesan pada Fella.


("Fella,kau harus jelaskan pada ibu,siapa laki-laki yang bersamamu? kau berhutang penjelasan pada ibumu ini Fella..!!!")


SEND


Hanya terdapat tanda centang 1 yang artinya pesan itu belum sampai ke ponsel Fella karena mungkin Fella telah mematikan ponselnya.


"Ish..anak ini..!!!". geram Soraya mendapati tanda centang 1 itu.


"Siapa kira-kira laki-laki itu? apakah itu kekasih Fella?? tapi kenapa Fella tidak menceritakannya padaku?" Soraya masih terus menduga-duga.


Sementara di sana Fella tengah berada dalam kungkungan tuan Beni.


Fella telah menjadi istri tuan Beni,karena hanya dengan cara itu dia bisa mendapatkan kemewahan yang dia inginkan meskipun dia harus menghadapi ke 3 istri tuan Beni yang lain,Fella tidak mempermasalahkannya.


Yang terpenting bagi Fella adalah uang dan kemewahan,lagi pula ibunya juga selalu meminta uang padanya sesangkan mereka tidak bekerja,harta peninggalan tuan Aditama pun lama-lama habis juga oleh mereka.


Melayani tuan Beni adalah cara termudah mendapatkan uang dan kemewahan.


"Sayang...kau sungguh pandai memuaskanku...aku semakin menyayangimu...." gumam tuan Beni di sela-sela permainan panasnya dengan Fella.


"Benarkah...kau semakin sayang padaku?"


"Ya...tentu saja sayang jika kau terus bisa memuaskanku seperti ini..."


"Apa kau suka..." Fella terus menggoda.


"Ya...sayaaaang..aku..aku..sangat suka permainanmu..."


"Apa yang akan kau berikan padaku sebagai hadiahku karena telah memuaskanmu?" ujar Fella lagi


"Benarkah...?"


"Tentu saja...apapun yang kau minta akan aku berikan..."


"Termasuk menyingkirkan ke 3 istrimu yang lain?" pancing Fella lagi,seketika tuan Beni terbelalak dan mencengkram lengan Fella yang saat ini posisinya berada di atas tuan Beni.


Fella pun menghentikan aktifitasnya dan menatap lelaki didepannya yang lebih cocok menjadi ayahnya itu.


"Apa maksudmu?" tanya tuan Beni


"Aku ingin kau menyingkirkan tiga wanita gila itu dari sini"ujar Fella.


"Memangnya kenapa dengan ketiga wanita itu?"


"Aku tidak suka berbagi dengan wanita lain sayang,aku ingin memilikimu seutuhnya sendirian saja" jawab Fella dengan suara manja yang membuat tuan Beni terkekeh.


"Kau sangat manis sayang..." ucap tuan Beni seraya meremas dua benda kenyal milik Fella yang terpampang indah di depan matanya.


"Aaaakkkkhhh..." desahanpun lolos dari mulut Fella yang terdengar begitu sexy dan menggoda membuat tuan Beni semakin bersemangat.


"Kau bisa kan menyingkirkan mereka bertiga sayang...?" ucap Fella di sela-sela nafasnya yang tersengal karena permainan mereka.


"Tentu saja sayang....tentu saja itu bisa kulakukan asalkan kau selalu ada disisiku dan membuatku senang,maka aku tidak lagi butuh mereka..." jawaban tuan Beni tentu saja membuat Fella senang,dia akan segera menjadi satu-satunya nyonya di rumah ini.

__ADS_1


Permainan demi permainan mereka lalui hingga akhirnya tuan Beni menyelesaikan puncaknya,lelaki itu terlelap di sisi Fella,sedangkan gadis itu masih terjaga dan segera bangkit lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Rasa jijik menjalari pikirannya saat ini,karena tak ada rasa apapun yang Fella rasakan pada lelaki itu,hanya demi uang semata dia melakukannya.


.


.


.


.


.


.


Jodi tersentak saat mendapati ponselnya bergetar didalam saku celananya,dia pun mengambilnya dan terlihat sebuah nama pada layar ponselnya.


"Hansen...hallo han?''


"Jod,orangku melihat Naya disebuah supermarket,tapi dia tidak sendiri dia bersama seorang wanita,ah tidak dua orang wanita tepatnya" lapor Hansen pada jodi.


"Baiklah pastikan orang suruhanmu mengawasi mereka,jangan sampai kehilangan jejak"


"Oke jod"


Panggilan berakhir,Jodi bergegas untuk menemui Ken di ruangannya tapi langkahnya terhenti saat tiba-tiba ponsel berdering lagi,kali ini Feri yang menelpon,dia adalah orang yang Jodi suruh untuk menjaga 3 tawanan Ken yang menggelapkan dana atas suruhan tuan Beni.


"Hallo" Jodi menjawab telpon.


"Jod,satu dari tiga tawanan ini telah tewas"


"Kenapa bisa?"


"Aku tidak tahu,aku bahkan belum sempat menghajarnya,baru pemanasan saja saat kemarin mengintrogasi mereka biar mengaku" ucap Feri dengan enteng.


"Dasar gila,kau memukulnya hingga babak belur kemarin dan kau bilang belum menghajarnya??" umpat Jodi.


"Hehe hanya pukulan ringan saja tapi dia malah tewas,bagaimana ini Jod? apa tuan muda akan menghukumku?" tanya Feri.


"Cih,bahkan kau boleh membunuh mereka semua saat ini jika kau mau"ujar Jodi.


"Benarkah??? baiklah Jod ini yang ku suka aku akan bermain-main dulu dengan mereka" Feri terdengar sumringah,Jodi hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


Memang Ken telah menyuruh Jodi melenyapkan tiga tikus itu setelah mendapat informasi dari mereka,tapi Jodi belum sempat memberitahu Feri.


Jodi melangkah menuju ruangan Ken,dia akan memberitahukan berita tentang Naya padanya.


Didepan ruangan Ken,yang pintunya sedikit terbuka lamat-lamat Jodi mendengar seseorang sedang berbicara pada Ken.


"Ken kau harus membuat Jodi pergi kesana..."


suara seoranf gadis.


"Aku tidak bisa memaksanya apa lagi menjebaknya" ujar Ken

__ADS_1


Degg!!!!


"Memaksaku pergi? menjebak? apa ini?"


__ADS_2