
Naya memalingkan wajahnya,menghindari tatapan Ken yang semakin membuatnya canggung,Ken masih menunggu jawaban dari Naya.
"Naya"
"Ya"
"Kenapa diam? kau belum menjawab pertanyaanku,apa jack menyakitimu?" Ken mengulang pertanyaannya.
Naya nampak menarik nafas dalam,dan kemudian menghembuskannya perlahan,mencoba menetralisir rasa sakit yang muncul karena teringat adegan yang dia lihat dikantor Jack tadi.
"Tidak." jawab Naya singkat.
"Aku hanya teringat dengan ibuku tadi." Naya berbohong.
"Benarkah?." Ken memicingkan matanya meragukan jawaban Naya.
"Aku hanya rindu dengan ibuku,itu saja." Naya tersenyum menatap Ken.
"Kau tidak sedang berbohong kan?." Ken masih tak percaya.
"Berbohong? untuk apa aku berbohong padamu?." Naya balik bertanya.
"Baiklah,aku percaya padamu,lagipula itu urusan pribadi antara sepasang kekasih,mana boleh aku ikut campur." ucap Ken lirih.
Degg....!!!!!
"Darimana dia tahu kalau Jack kekasihku?."
"Kenapa? kau heran kenapa aku bisa tahu begitu?? apa kau lupa aku bahkan tau ukuran pakaian dalammu tanpa bertanya." Ken menggoda Naya sontak saja Ken langsung menerima cubitan di lengannya.
''Aaawwhhh...!! astagaa ini sakit Nay..!!" pekik Ken sambil mengusap lengannya.
"Sekali lagi kau bicara soal itu maka bukan hanya lenganmu yang aku cubit,tapi mulutmu pun akan ku bungkam dengan ini..!" Naya memperlihatkan kepalan tangan mungilnya,Ken hanya terkekeh sambil masih mengusap lengannya yang masih berdenyut karena cubitan Naya tadi.
"Apa dia romantis?"
"Siapa?" Naya mengerutkan keningnya.
"Kekasihmu."
"Ish...bisakah kau memberiku pertanyaan yang lain?." Jawab Naya mengerucutkan bibirnya.
"Mmm apa kau mencintainya?".pertanyaan Ken kali ini membuat Naya tertegun,Naya menoleh menatap Ken yang tampak serius dengan pertanyaannya,entah mengapa Naya merasa tak nyaman dengan tatapan itu.
Naya Nampak enggan menjawabnya,buru-buru dia bangkit dari bangku dan berjalan menuju pintu keluar taman.
"Kau mau kemana?." Ken mengejar Naya.
"Aku harus kembali Ken." jawab Naya,terdengar ada kesedihan dalam suaranya,raut mukanya pun berubah seketika.Ken menahan lengan Naya dan berhasil membuat langkah kaki Naya terhenti.
"Katakan padaku yang sesungguhnya,jangan memendam apapun sendiri Naya." Entah mengapa kalimat itu terlontar begitu saja,sungguh sangat bertolak belakang dengan pribadi Ken.
__ADS_1
Isak tangis Naya terdengar setelahnya,Ken menghampiri Naya,berdiri didepan gadis yang tengah terisak dan menutup wajahnya dengan tangannya.
"Kau bisa percaya padaku,katakan apa yang terjadi?" Ken masih membujuk Naya yang terlihat begitu rapuh.Perlahan Ken mendekap Naya,membawa Naya dalam pelukannya,ada getaran aneh yang terasa di dadanya,entah apa.
Naya terisak,menumpahkan segala kesedihan di hatinya pada pelukan Ken.
Beberapa lama kemudian tangisnya mereda.
"Maaf." ucap Naya.
"Untuk apa?." tanya Ken.
"Aku terlalu terbawa emosi." ujar Naya.
"Apakah kau masih ingin mendengar jawabanku?." lanjut Naya lagi.
"Tidak,kurasa air matamu menjawab segalanya.'' ujar Ken.
"Pulanglah bersamaku." lanjut Ken lagi.
"Maaf,tapi aku belum bisa kembali ke mansionmu Ken,aku harus menyelesaikan urusanku dengan Jack." jawab Naya yang masih terlihat sendu.
"Apa kau yakin?." Naya hanya mengangguk dan sekilas kemudian dia tersenyum.
Tiba-tiba Ken menarik tangan Naya dan mendekapnya lalu bersembunyi dibalik sebuah pohon saat suara tembakan terdengar kemudian.
Naya yang terkejut hanya terdiam dalam pelukan Ken.
"Sial...siapa dia..!!" Ken mengumpat kesal,Naya masih tetap dalam pelukan dan terlihat begitu ketakutan.
Dor..!!!
Ken menembak kearah orang yang pertama kali menembakkan senjatanya tadi.Dengan satu tembakan orang itu telah tumbang,peluru Ken dengan tepatnya menembus jantungnya.
Ken meraih ponselnya dan menghubungi Jodi.
"Siapa mereka?? bukankah aku memintamu mensterilkan kawasan ini??!!'' Ken mengomel saat panggilannya tersambung pada Jodi.
"Maaf tuan,mereka datang tiba-tiba dan jumlah mereka lumayan banyak,bala bantuan akan segera datang."
"Baiklah habiskan mereka semua dan cari tahu siapa dibalik penyerangan ini." Ken menutup panggilan telpon sepihak.
Suara tembakan bersahut-sahutan,Ken beberapa kali membidikan senjatanya sambil membawa Naya keluar dari taman itu,dan bidikannya selalu tepat mengenai musuh.Saat Ken dan Naya telah berada dekat dengan mobil dari arah samping terlihat seseorang tengah mengarahkan senjatanya kepada Naya.
Dorr!!!!
"Ken????!!!!" Naya berteriak saat Ken dengan cepat menggeser posisinya menggantikan Naya,hingga peluru itu tidak mengenai Naya tapi malah mengenai lengan Ken,segera Ken menembak orang itu tepat di kepalanya.
"Cepat masuk ke mobil..!" ucap Ken dan langsung dituruti oleh Naya,Ken masih sibuk baku tembak dengan para musuhnya,begitu juga dengan Jodi.
"Tuan,kau terluka..!" ucap Jodi.
__ADS_1
"Hanya luka kecil Jod,siapa mereka?" tanya Ken sambil terus menembak.
"Aku belum bisa memastikannya tuan."
Anggota Ken pun datang,dengan cepat mereka bisa melumpuhkan musuh dan memenangkan pertempuran spontan itu.
"Pastikan kau menemukan siapa dibalik penyerangan ini Jod..!" ucap Ken saat situasi telah terkendali.
"Hansen mengabarkan jika ini adalah ulah tuan Beni tuan." jawab Jodi yang baru saja menerima kabar dari Hansen.
"Bawa dia kepadaku hidup-hidup." ujar Ken dengan seringai membunuhnya.Ken membuka pintu mobilnya,terlihat Naya dengan wajah pucat pasi terduduk menunduk dan memejamkan matanya,kedua tangannya menutupi kedua telinganya.
"Naya,kau tidak apa-apa?." Ken memeriksa tubuh Naya.
"Aku..aku tidak apa-apa Ken,tapi lenganmu..." suara Naya terdengar bergetar,baru kali ini,seumur hidupnya diaenyaksikan baku tembak di depan matanya,jika biasanya adegan ini hanya dia lihat dalam film action kini dia melihat dan mengalaminya sendiri,sungguh ini membuat Naya begitu shock.
"K..kau..terluka..." lanjut Naya lagi.
"Tidak apa-apa ini hanya luka kecil." ucap Ken.
"Ta...tapi..darahmu banyak yang keluar Ken."
"Aku tidak...." Ken tak melanjutkan perkataannya saat dia melihat Naya merobek bagian bawah gaunnya.
"Naya apa yang kau lakukan??" Ken terkwjut dengan aksi Naya.
"Ini akan menghambat darah yang keluar,setidaknya sebelum kau mendapat pertolongan dokter,ini akan membantu." ucap Naya sambil membalut luka Ken dengan gaunnya,dia sedikit menekan luka itu berharap darah yang keluar akan terhenti.
Ken tertegun dengan tindakan Naya,dia merasa begitu tersanjung dengan sikap Naya padanya.
"Sekhawatir itu dia padaku..."
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Naya saat mendapati Ken malah menatapnya dan tersenyum.Buru-buru Ken merubah mimik mukanya semenyedihkan mungkin.
"Ini pasti sakit sekali bukan? aku pernah mengalaminya dulu,dan itu karena mu kau ingat?." Naya masih sibuk membalut luka Ken.
"Ya aku ingat,tentu saja aku akan selalu mengingatnya." ucap Ken dan kembali tersenyum.
"Lalu kenapa kau masih tersenyum? apa ini tidak sakit?" tanya Naya,sorot matanya nampak serius menatap Ken.
"Tapi ini hanya luka kecil untukku." jawab Ken
"Luka kecil?? iisshh bahkan aku terserang demam karena luka tembak di lenganku tempo hari." ujar Naya yang telah menyelesaikan dengan mengikatkan robekan gaunnya di lengan Ken.
"Bagi kami,luka seperti ini adalah luka kecil,tidak perlu sekhawatir itu."
"Begitu ya?jadi ini tidak sakit ya? hemm?"
"Aaawwhhhh...!!!tentu saja sakit jika kau memukulnya.." muka Ken memerah menahan sakit saat Naya memukul ringan balutan lukanya.
"Jadi tidak usah sok-sokan bilang ini luka kecil, atau aku akan memukulnya lagi." ujar Naya mengangkat tangannya ke udara.
__ADS_1
"Eiittss...oke oke,tapi jangan pukul lagi." ujar Ken,Jodi yang sedari tadi telah duduk di belakang kemudi hanya menahan tawanya melihat dua insan di belakang jok nya tengah menunjukkan perhatian satu sama lain.
"Apa yang kau lihat?? jalan...!!" ucap Naya dan Ken serentak ke arah Jodi,Jodi yang gugup pun segera menancap gas menuju rumah sakit.