Upik Abu Kesayangan Bos Mafia

Upik Abu Kesayangan Bos Mafia
bab 48 Curhat


__ADS_3

Naya termenung dibalkon kamarnya,yang bersebelahan dengan balkon kamar Jack karena memang kamar mereka bersebelahan.


Berdiri menatap bintang dilangit yang tampak cerah,malam yang kian larut dan angin yang berhembus sepoi-sepoi tak dapat membuat Naya mengantuk.Dia masih memikirkan hal yang dialaminya tadi saat makan malam.


Jack yang yang begitu lembut saat itu berubah menjadi seorang yang mengerikan.Naya melihat cincin dijarinya,cincin yang disematkan oleh Jack tadi.


"Apakah benar aku mencintainya?" Naya bergumam sendiri menanyakan perasaannya sendiri.


"Dia bilang dia juga mencintaiku,tapi kenapa dia bisa semarah itu padaku?" lagi-lagi Naya hanya bertanya pada dirinya sendiri.


Sementara di kamar Jack juga tak bisa memejamkan mata walaupun dia telah mencoba untuk tidur.Pikirannya melayang menyesali perbuatannya pada Naya.


"Seharusnya aku tidak melakukan itu,tapi kenapa Naya menolak untuk menikah denganku? bukankah kita saling mencintai?"


Jack berbicara pada dirinya sendiri.


"Apa benar dia mencintaiku? ataukah dia memang benar mata-mata Kenan? dia bekerja disana sebelumnya bukan? tapi tatapan matanya terlihat begitu polos,mungkinkah dia menghianatiku?" Jack masih sibuk dengan pemikirannya.


"Apakah ini rencana Naya dan Ken untuk menghancurkanku? tidak..tidak...ini tidak boleh terjadi aku harus bicara dengan Naya soal ini" Jack bangkit dari tempat tidurnya,melangkah menuju pintu kamarnya.


Terlihat bi Asih yang baru saja mengunci pintu utama mansion,dia terkejut mendapati tuannya masih terjaga dan malah duduk di ruang tengah.


"Tuan belum tidur?" tanya bi Asih.


"Belum bi,aku tidak bisa tidur"


"Apakah tuan menginginkan sesuatu? biar bibi buatkan"


"Tidak bi,aku hanya ingin duduk disini" jawab Jack,bi Asih menelisik wajah tuannya yang terlihat begitu banyak pikiran.


"Bibi buatkan teh jahe ya tuan?"


"hmmm" hanya jawaban itu yang terdengar dari Jack yang kini menyandar pada sofa dan menengadahkan kepalanya,tapi matanya terpejam.


Tak berapa lama bi Asih datang dengan secangkir teh jahe hangat.


"Minumlah tuan..." Jack membuka mata dan menerima cangkir itu lalu menyesapnya.


"Bi,apa Naya sudah tidur?"


"Bibi tidak tahu tuan,sejak nona Naya pulang bersama tuan tadi dia tidak pernah keluar dari kamarnya" jawab bi Asih yang makin membuat Jack merasa bersalah.


Jack menyesap minuman itu lagi,bi Asih yang sedari tadi memperhatikan lelaki muda yang dia asuh sedari kecil itu menangkap sebuah kegundahan yang tengah melanda anak asuhnya itu.


"Tuan...maafkan bibi sebelumnya,apa tuan dan nona bertengkar?" tanya bi Asih dengan hati-hati.


"Bi,menurut bibi jika seseorang mengatakan cinta tetapi menolak diajak menikah,apakah itu artinya cintanya hanya bohong belaka?" Jack menatap wanita paruh baya itu lekat.Bi Asih tersenyum.

__ADS_1


"Tuan...apakah kau telah melamar nona?" tanya bi Asih lembut tetap dalam senyumnya yang tulus.


"Iya bi,tapi saat ku minta untuk menikah dia menolakku" jawab Jack putus asa.


"Tuan,nona Naya baru mengenalmu,perasaan yang tumbuh diantara kalian belum kuat,untuk menjalin sebuah hubungan pernikahan diperlukan proses pengenalan satu sama lain,karena menikah bukan semata menyatukan dua manusia,tapi juga menyatukan hati" ucap bi Asih penuh kelembutan.


Jack termenung mendengarkan perkataan bi Asih.


"Apa itu artinya Naya belum sepenuhnya percaya dengan perasaanku?"


"Bukan begitu tuan,nona pasti tau jika kau sangat mencintainya,tapi ketahuilah tuan...seorang perempuan itu akan sangat selektif saat menambatkan hatinya pada seseorang,bukan karena tidak percaya dengan perasaanmu tapi lebih ke menjaga hatinya dari luka yang mungkin akan menimpanya,dia perlu waktu untuk meyakinkan hatinya sendiri" jawab bi Asih lagi.


"Lalu,aku harus bagaimana bi?" tanya Jack


"Tuan,wanita hanya ingin dimengerti saja...buat dia nyaman jangan pernah melukai hatinya,maka dia akan dengan sukarela menyerahkan seluruh hidupnya" jawaban dari bi Asih membuat Jack sadar akan kesalahannya.


Dia terlalu memaksa dan itu membuat Naya tidak nyaman,dia membuat Naya ketakutan dan menangis,sudah pasti hatinya juga terluka.


"Istirahatlah tuan,bicarakan dengan nona esok hari,saat situasi hatinya telah membaik" nasihat bi Asih lagi.


Setelah perbincangan itu bi Asih pun masuk ke kamarnya,begitu juga Jack,dia sedikit tenang sekarang.


.


.


.


.


Agnes telah tersadar,dia berusaha bangun dan duduk di sofa,tangannya memegangi kepalanya yang terasa berat.


"Akhirnya kau sadar juga" Key membuka suara.


"Key...kenapa aku ada disini? tadi kan...."


"Ken dan Jodi telah menyelamatkanmu" tukas Key memotong kalimat Agnes.Mendengar bahwa Ken menyelamatkannya wajah Agnes pun berbinar.


"Benarkah? aku tau Ken pasti akan menyelamatkanku" ucap Agnes tersenyum,Ken malah ingin pergi.


"Ken,kau mau kemana? teeimakasih telah menyelamatkan aku,aku tahu kau pasti akan datang" ujar Agnes dengan hati berbuga-bunga.


"Jodi yang menyelamatkanmu bukan aku" jawab Ken acuh.


Mendengar jawaban Ken seketika kebahagiaan Agnes lenyap sudah.


"Jodi?? dia yang menyelamatkan aku?" tanya Agnes,namun Ken hanya berlalu tanpa menggubris Agnes.

__ADS_1


"Ya dan kau membuat Jodi mengangkat tubuhmu kesofa ini" ketus Key.


"Hey..kenapa kau sewot begitu?" tanya Agnes,Jodi yang sedari tadi diam mwngulas senyum tipis di bibirnya.


"Kau..kau cemburu Key?? jangan bilang kalau..."


"Ya aku memang menyukai Jodi" ucap Key terang-terangan.Agnes terbelalak tak percaya mendengar pengakuan Key yang begitu enteng di telinganya.


"Kau tidak demam kan Key?" Agnes bangkit dan menghampiri Key lalu menempelkan punggung tangannya di kening Key.


"Ish...apa sih" Key menepis tangan Agnes,Jodi hanya mematung menyaksikan dua wanita itu meributkannya.


Key bangkit dan tiba-tiba memeluk Jodi,Jodi dibuat gelagapan dengan tingkah Key.


"Kau harus tau,dia adalah miliku" Key menatap Agnes dengan tajam tanpa melepaskan pelukannya,sungguh tingkahnya seperti seorang anak kecil yang melindungi mainannya.


Agnes pun tak kuasa menahan tawa seketika tawanya meledak.


"Ahahaha Key..aku tidak akan pernah menyentuh milikmu itu okey..ahahaha aku masih waras Key yang benar saja,aku tidak akan merebut kanebo kering itu darimu" ujar Agnes dalam tawanya.


"Apa kau bilang?? kanebo kering??? kemari kau,aku akan menghajarmu" Agnes segera berlali menghindari Key yang megejarnya,dia masih sempat tertawa saat Key dengan marahnya mengejarnya.


"Apa kau senang jadi bahan rebutan Jod?" tanya Ken yang kini telah mengganti pakaian formalnya jadi kaos dan celana pendek.


"Pergilah Jod,istirahatkan tibuhmu tidak perlu menonton dua gadis bar-bar itu"


"Baik tuan" Jodi berlalu masuk ke kamar tamu yang sering dia gunakan jika menginap di mansion Ken.


"Key..hentikan Key...baiklah..baiklah aku minta maaf.." Agnes menyerah saat dia mulai tersiksa dengan perlakuan Key yang mengangkat tubuh nya dan tak membiarkan Agnes terlepas.


"Janga pernah menyebutnya kanebo kering lagi mengerti??" sungut Key.


''Okey..okey..aku janji aku tidak akan memanggilnya begitu lagi..." ujar Agnes yang masih saja tertawa.


"Aku tidur denganmu ya'' ucap Agnes tiba-tiba.


"Apa?? tidur denganmu? aku?" Key menunjuk wajahnya sendiri,Agnea hanya mengangguk.


"Kenapa kau tidak pulang saja?"


"Kau lupa? aku hampir diculik tadi" sungut Agnes.


"Hhhh terserah lah kau boleh menginap tp janga tidur bersamaku" Key berlalu menuju kamarnya.


"Aku tidur dimana Key???!!"


"Disini ada banyak kamar kau boleh memilih yang mana yang kau suka" tukas Key yang kemudian pergi meninggalkan Agnes dan masuk kekamarnya.

__ADS_1


"Kamar yang ku suka?tentu saja hanya satu kamar yang paling ku suka dimansion ini" ucap Agnes lirih dengan senyum smirk nya.


__ADS_2