
Naya masih sibuk menenangkan Key dalam pelukannya,Novan ikut merasakan kesedihan yang Key rasakan,dia hanya mengelus lengan Key berusaha ikut menenangkan.
Jack masih terduduk dan diam ditempatnya semula,pandangannya kosong.Dia begitu terkejut dengan kenyataan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"Tidak...tidak mungkin kakakku melakukan itu,tidak mungkin..." lirih Jack yang masih bisa didengar oleh Key dan yang lain.
Key yang sudah mulai tenang menghapus air mata dengan tangannya.Lalu dia mendekati Jack.
"Kau tahu Jack,kami semua menyayangi kakakmu,bahkan ayah dan ibuku memberikan nama mereka untuk Jhon panggil mama dan papa." ujar Key seraya duduk di sisi Jack.
"Papa selalu memberikan apapun untuk jhon,memperlakukannya sama seperti memperlakukan aku,ken dan adik q Keyla." Jack hanya mendengarkan semua yg diucapkan Key tanpa menyela.
"Jhon sangat dekat dengan Keyla yang begitu manja pada siapa saja,kedekatan mereka tak membuat kami curiga karena kami semua percaya pada Jhon,kami yakin dia bisa menjaga adikku,hingga terjadilah peeistiwa malam itu...." Key menghentikan ceritanya,dia kembali terisak,mengingat kejadian bertahun-tahun silam yang masih terus membuat dadanya sesak jika dia mengingatnya.
"Sudahlah Key..jangan teruskan..." ujar Novan memegang bahu Key dan dengan anggukan Key pun menyudahi ceritanya.
"Jack jika kau ingin sebuah bukti aku akan memberikannya padamu." ujar Key.
"Dan setelah bukti itu aku harap kau akan berhenti mengusik kami,bukan kami takut padamu,hanya tidak ingin semuanya berkelanjutan,terlalu sakit untuk keluarga Smith jika mengingatnya lagi." lanjut Key yang kemudia dia bangkit dan berjalan kembali ke ruang operasi.
Jack masih terduduk diam ditempatnya sedari tadi.Ada rasa iba di hati Naya melihat Jack tampak begitu rapuh saat ini,tapi peristiwa dikantor itu cukup membuat Naya begitu enggan mendekat pada Jack.
Ingatan adegan Jack dan Sherly seperti berputar kembali dalam ingatannya saat ini,membuat dadanya semakin sesak saja.
"Naya...." Jack memanggil Naya dengan suara lirih.Sementara Naya tak menoleh sedikitpun pada Jack.
"Naya,apa kau masih marah padaku?" Naya masih diam.
"Naya tolong jawablah.."
"Cukup Jack,pergilah.." hanya itu yang keluar dari bibir ranum Naya,membuat Jack semakin teriris pilu hatinya.
"Apa kau begitu membenciku karena semua hal yang kau lihat dikantor dan karena hal yang kau dengar tadi?." Suara Jack meninggi,Naya menoleh ke arah Jack,menatapnya tajam.
"Aku tidak tahu seperti apa kakakmu Jhon,tapi kau adalah adiknya Jack." ucap Naya.
"Kau berpikir aku seorang cassanova seperti kakakku begitu?"Jack melebarkan matanya tak percaya.
"Entahlah Jack,tapi yang kulihat hari ini..."
"Aku akan jelaskan kumohon Naya kita harus bicara." Jack menggenggam tangan Naya,sorot matanya penuh dengan harap.
__ADS_1
Naya menatap manik mata Jack lekat,ada kesungguhan disana,tapi entah mengapa Naya seperti tak ingin menggapainya lagi.Naya melepas genggaman tangan Jack.
"Sudahlah Jack,aku begitu lelah bisakah kau pergi saja?" ucap Naya lirih.
"Naya aku mohon,beri aku kesempatan sekali saja,kumohon." untuk pertama kali dalam hidupnya seorang Jack Dawson memohon pada seseorang.
"Baiklah kita akan bicara setelah Ken sadar nanti." Naya memutuskan,Jack pun hanya mengangguk pasrah,apapun itu asalkan dia bisa bicara dengan Naya.
"Biarkan aku duduk disini menemanimu." pinta Jack pada Naya dan disetujui oleh Naya dengan anggukan kepala.
Braaakkk....
Novan kembali keluar dari ruangan,terlihat dia menelpon seseorang.
"Waktu kita hampir habis...! kau dimana Jod?"
"Tuan muda menyipan darahnya di Bank darah..."
"Tapi tak ada lagi waktu jika kau mengambil kesana..!!!" Novan begitu frustasi.
Novan mengusap wajahnya dengan kasar,mematikan telponnya dan terduduk di bangku dideretan paling ujung.
Naya berlari menghampiri Novan.
"Apakah Ken...."
"Jangan katakan apapun,untuk pertama kalinya aku merasa tidak berguna sebagai seorang Dokter Nay." ucap Novan.
"Ken semakin kritis,sedangkan darah itu ada dinegara lain,perlu waktu untuk mengambilnya,aku takut waktunya tidak cukup dan....ah..aku tak sanggup membayangkannya." lanjut Novan lagi.
Naya duduk termangu di sisi dokter Novan,dia merasa bersalah,Ken terluka karena melindunginya.
"Jika saja Ken tidak menggunakan tubuhnya untuk melindungiku,pasti ini tidak akan terjadi..." lirih Naya.
"Ini bukan kesalahanmu Naya,hanya saja golongan darah Ken memang sangat langka hanya ada beberapa orang di dunia yang punya golongan darah istimewa seperti Ken." ujar Novan.
"Tapi setidaknya jika aku yang tertembak takkan sesulit ini mendapatkan darah bukan? golongan darahku mudah didapatkan." sesal Naya.
"Ken sudah melakukan hal yang benar Nay,jika aku diposisinya aku juga akan melakukan hal yang sama."
"Sudahlah,doakan saja Ken agar bisa kuat bertahan sampai Jodi berhasil membawa darah itu kemari." Lanjut Novan lagi seraya bangkit dari tempat duduk, menepuk bahu Naya dan kemudian berjalan kembali ke arah ruang oprasi.
__ADS_1
Belum lagi Novan sampai di depan pintu ruang oprasi ponsel Novan berderit.
"Hallo..." Novan terlihat begitu lemas saat menerima telpon itu,dia tak jadi masuk ke ruang operasi,kembali terduduk di bangku depan ruang oprasi dengan wajah kusut.
"Ada apa dokter?" Tanya Naya.
"Jodi dihadang beberapa musuh saat hendak berangkat ke negara B untuk mengambil darah untuk Ken,sekarang aku tidak tahu lagi bagaimana cara kita menyelamatkan Ken."jawab Novan putus asa.
Naya terkejut mendengar berita itu,tangannya menutupi mulutnya yang sempat menganga karena terkejut.
"Ya Tuhan...kuatkan Ken kumohon...." lirih Naya.
Jack yang mendengar semua itu terlihat bimbang,lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Rendi.Entah apa yang mereka bicarakan.
"Dokter...!!" Seorang perawat keluar memanggil Novan,bergegas Novan segera lari menghampiri suster.
"Ada apa?"
"Pasien dok..."
Brakk
Novan langsung menerobos masuk kedalam ruangan dimana Ken berada.Naya terlihat memejamkan matanya,tangannya gemetar air matanya mulai mengalir.
"Tuhan...tolong kuatkan Ken kumohon..." lirih Naya.
Beberapa menit berlalu Novan kembali keluar ruangan wajahnya tampak kusut.Tangannya memegang ponsel dan terlihat melakukan panggilan.Tp sepertinya panggilannya tak mendapat jawaban.
Novan terduduk lemas di depan ruang oprasi.
"Dokter...." dengan suara bergetar Naya mendekat ingin rasanya dia melontarkan berbagai pertanyaan dalam hatinya.
"Waktu kita habis Naya...waktu kita habis..." ucap Novan dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak dokter...Ken pasti bisa bertahan sampai Jodi membawa darah itu kesini" ujar Naya membesarkan hati,tepatnya menghibur hatinya sendiri.
Dokter Novan tampak menggeleng pelan.
"Bahkan Jodi belum bisa dihubungi saat ini,aku yakin dia sedang sibuk melawan para pengacau itu."
"Lalu apa yang harus kita lakukan dokter?!" tanya Naya.
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa kita lakukan Naya,kita hanya bisa menunggu,sedangkan Ken tidak bisa menunggu lagi...."
"Kalau begitu ambil saja darahku,golongan darahku Rh-null" Suara itu sontak membuat Naya dan Novan menoleh seketika.....