Upik Abu Kesayangan Bos Mafia

Upik Abu Kesayangan Bos Mafia
bab 60 Ada rindu dimataku


__ADS_3

Rendi dan Jack masih mencari Naya,bahkan Jack mengerahkan beberapa anak buahnya untuk ikut mencari keberadaan Naya,makan siang yang gagal itu tak lagi terpikirkan oleh keduanya. Bahkan rasa lapar juga lenyap entah kemana.


"Naya..kau pergi kamana...?" gumam Jack yang masih frustasi dengan semua yang terjadi.


Seharusnya dia tahu gelagat sekertarisnya yang selalu berusaha menggodanya,seharusnya dia memecatnya sejak lama,seharusnya dia...


"Akkkhhh....!!!" Jack memukul jok kemudi didepannya karena kesal,Rendi yang berada di jok itupun terkejut dengan tindakan tuannya itu,dia tak berani berkomentar,hanya menarik nafas panjang untuk menetralisir perasaan terkejutnya.


"Kenapa belum ada yang melapor sampai sekarang Ren?" tanya Jack pada Rendi karena belum ada satupun laporan yang Jack terima dari anak buahnya tentang keberadaan Naya.


"Bersabarlah tuan,pasti sebentar lagi akan ada yang menemukan nona." jawab Rendi.


"Aku tak bisa lagi bersabar..!!!" ucap Jack lagi dan Rendi hanya terdiam,dalam hatinya pun ikut bertanya-tanya seharusnya sudah ada yang melapor,tidak akan sesulit itu mencari seorang gadis biasa bukan?


Rendi masih terus melajukan mobil,Jack terus saja mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri berharap menemukan sosok Naya dislah satu sudut kota yang dia telusuri.


.


.


.


Naya menerima saputangan putih itu dari tangan Ken,dan menghapus sisa air matanya dengan saputangan beraroma maskulin milik Ken,wanginya sangat familiar.Tentu saja karena Naya pernah mencium aroma itu di kamar Ken dulu.


"Tempat ini begitu sejuk dan tenang." Ken berkomentar saat menatap permukaan danau.


Tak ada jawaban apapun dari Naya.


"Apakah kau sering kesini?." tanya Ken kemudian.


"Tidak tuan,aku hanya kebetulan lewat dan singgah disini." jawab Naya dengan suara yang masih terdengar sendu.


"Apa kau tidak apa-apa?." tanya Ken lagi saat mendengar suara Naya yang masih bergetar,Naya pun mengangguk.


"Bolehkah aku duduk disini?." Ken berkata lagi,dan lagi-lagi Naya mengangguk.


Ken pun mendudukan dirinya disebelah Naya,pandangannya masih tetap lurus kedepan,garis wajahnya yang tegas dan tampan nampak semakin mempesona dilihat dari samping.


Ada yang berbeda dengan wajah Ken saat duduk disebelah Naya,ada senyum yang terukir meski tak begitu jelas terlihat,ada rasa bahagia disana.


Sejenak tak ada pembicaraan diantara mereka,masing-masing sibuk dengan isi hati dan pikiran mereka sendiri.


"Bagaimana nona Key?." Naya mencoba mencairkan suasana yang canggung.


"Dia baik,dia bekerja di rumah sakit bersama Novan,kau ingat Novan kan?." tanya Ken menoleh kearah Naya.

__ADS_1


"Iya tuan tentu saja aku mengingat dokter Novan." jawab Naya tersenyum tulus.


"Apakah mama selalu mengabarkan tentang tante miranda padamu?." tanya Ken lagi,dan Naya pun mengeluarkan ponselnya.


"Astaga...benda itu lagi???aku bersumpah akah menyingkirkan ponsel terkutuk itu saat ini juga."


Ken pun teringat dengan sesuatu yang harus dua berikan pada Naya.


"Nyonya menelponku ter-..."


"Tunggu disini,aku akan mengambil sesuatu." Ken memotong ucapan Naya,dia lalu bangkit dan bergegas berlari ke arah mobilnya.Naya hanya memicingkan matanya,terheran dengan tingkah Ken yang seperti terburu-buru.


"Apa yang ingin dia tunjukkan? kenapa dia terburu-buru begitu?." guman Naya yang menatap punggung Ken yang semakin menjauh.


Tak lama Ken kembali muncul dengan paper bag ditangannya.


"Ini.." ucap Ken mengulurkan paper bag yang dia bawa kepada Naya.


"Apa ini tuan?" tanya Naya.


"Bangunlah,kita duduk disana" Ken menunjuk sebuah bangku tempat dia duduk mengawasi Naya tadi,kemudian mengulurkan tangannya pada Naya.Naya mengangguk dan bangkit menerima uluran tangan Ken.


"Ponsel?." Naya bertanya setelah dia membuka isi paper bag itu,Ken mengangguk dan tersenyum.


"Tapi tuan,ponselku masih bisa kugunakan."


"Memanggilmu dengan nama?" Naya mengulangi perkataan Ken.


"Ya,panggil namaku saja oke? dan ponsel ini mama yang memberikannya untukmu." Ken agak berbohong,nyatanya Lusiana hanya menyuruhnya membelikan ponsel.


"Tapi tuan aku.."


"Panggil namaku saja Naya,tak bisakah?" ken agak memaksa.


"Baiklah,Ken..." Naya merasa canggung dengan panggilan itu.


"Begitu lebih baik,apa yang ingin kau katakan tadi?." ujar Ken.


"Ini terlalu berlebihan,harganya pasti mahal kan?." tanya Naya lagi.


"Aku tidak tahu,Jodi yang memberikan itu padaku atas perintah mama,aku tidak pernah tahu harganya." jawab Ken masih dengan sepruh kebohongan,soal harga dia memang tidak tahu pasti berapa harga ponsel itu,karena memang Jodi yang membelinya,namun atas perintahnya,bukan mamanya.


"Terima saja,atau mama akan menghajarku nanti." ujat Ken dengan senyumnya,dan membuat Naya ikut tersenyum.


"Baiklah,terimakasih tuan..ah maksudku terimakasih Ken..."

__ADS_1


"Mama tidak ingin terganggu dengan sinyal saat menelponmu nanti,itu alasannya." Naya hanya terkekeh.


"Kenapa kau disini sendirian? dan kenapa kau menangis tadi?." Ken memberanikan mengucapkan pertanyaan yang mengganggunya sejak pertama melihat Naya berjalan di tepi jalan dan kemudian masuk ketaman kota ini.


Flash Back on


"Tuan Beni ada dirumahnya tuan." ucap Jodi sesaat setelah menerima panggilan telpon dari anak buahnya.


"Awasi terus pergerakannya,aku masih ingin membiarkan dia bermain-main dulu Jod."


Dan tiba-tiba Jodi menghentikan mobilnya.


"Ada apa Jod?" tanya Ken ingin tahu alasan asistennya menginjak rem tiba-tiba.


"Bukankah itu nona Naya tuan?" Jodi menunjuk seorang gadis yang berjalan menunduk,terlihat Naya sedang menangis.


"Ya kau benar." ujar Ken saat dia melihat gadis berbalut dress warna pink berjalan ditepi jalan melewati mobilnya.


Ken dan Jodi mengamati Naya yang berjalan memasuki taman kota yang biasanya akan sepi pada saat siang hari.


"Sterilkan tempat ini aku akan masuk kesana." Ken memberi perintah


"Baik tuan." Jodi pun menyanggupi,mensterilkan taman kota dari orang asing,menjadikan tempat itu sebagai tempat privasi tuannya untuk sementara.


Ken masuk ke taman itu,mengamati Naya yang memilih duduk di tepi danau,Ken memutuskan untuk duduk disebuah bangku yang berada tak jauh dari Naya.


Lama Ken mengamati Naya yang duduk ditepian danau,dilihatnya Naya yang sesekali menghapus air mata di pipinya dengan telapak tangannya.


"Dia menangis..? tapi kenapa? apakah Jack menyakitinya?." tanya Ken pada dirinya sendiri,Ken memutuskan untuk mendekat dia berjalan kearah Naya ingin rasanya segera memeluk gadis itu dan membiarkannya menangis dalam pelukannya.Tapi tentu saja itu tidak mungkin Ken lakukan.


Ken mengambil saputangan dari balik jas nya,lalu mengulurkannya pada Naya saat jarak mereka terkikis dan menyisakan beberapa jengkal saja.


Flash Back off...


Ken masih menunggu jawban Naya,namun sepertinya dia enggan memberitahukan masalah yang membuatnya menangis.


"Apa ini soal Jack? apa dia menyakitimu..?."


Naya menoleh menatap Ken,ada sesuatu yang beda disana tapi entah apa.


"Apa arti tatapan ini? mengapa aku merasakan hal yang berbeda dari Ken...?" Naya berguman dalam hati.


"Ya tatap mataku Nay...tidakkah kau menemukan kerinduanku padamu disana...?"


**Hai readers maaf ya up nya agak lama,bukan lama si sebenernya author udah nulis 5 bab sekaligus tapi karena ada beberapa adegan yang hareudang,jadi lama direview nya sama admin 🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


Jangan lupa dukung terus karya recehan ini yess biar author makin semangat up nya😁😁😁


Like,komen dan vote yang banyak ya🥰🥰🥰🥰**


__ADS_2