Upik Abu Kesayangan Bos Mafia

Upik Abu Kesayangan Bos Mafia
bab 38 Selalu Naya yang terbayang


__ADS_3

"Tuan..."


"Hmmm"


"Bisakah kau melepaskanku?"


"Kenapa?"


"Aku susah bernafas..."


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!!" ujar Jack seraya melepaskan pelukannya pada Naya,terlihat gadis itu segera menghirup udara sebanyak yang dia bisa,sungguh pelukan Jack membuat dadanya sesak.Sebenarnya debar jantungnya lah yang membuat nafasnya sesak.


"Aku permisi tuan" Naya segera keluar dari kamar Jack,dia tidak mau jantungnya semakin berdebar tak karuan.Untungnya Jack tidak menghentikannya lagi,Jack hanya tersenyum menatap Naya yang melangkah tergesa-gesa.


.


.


.


.


.


"Ken,apa menurutmu Naya akan baik-baik saja bersama Jack?" tanya Key pada saudara kembarnya.


"Aku rasa begitu" jawab Ken acuh.


"Hey apa kau tak ada keinginan membawanya kembali kesini? expresimu gitu amat!" Key mendengus kesal.


"Lalu aku harus bagaimana? kau kan lihat sendiri Naya tidak mau ikut dengan kita" Ken masih pada mode lempengnya.


"Haisshhh...kau ini,setidaknya cari tahu kenapa Naya tidak mau pulang bersama kita bodoh" umpat Key.


"Hey kau menyebutku apa barusan??"


"Bodoh" jawab Key dengan muka sok polosnya.


Pletakkk


Sentilan maut mendarat di kening Key yang sukses membuat kening Key memerah.


"Sakit tau..!!!"


"Siapa suruh bicara sembarangan"


Drrrttt...drttt...


"Hallo"


"Hallo tuan"


"Katakan"


"Nona Naya berada di kediaman Jack tuan"

__ADS_1


"Bagaimana situasinya?"


"Sejauh ini semua aman tuan,sepertinya Jack memperlakukan nona Naya dengan baik"


"Baiklah,pantau terus jangan sampai lengah" Ken mengakhiri telponnya.


Key menatap Ken tak percaya saudaranya melakukan hal yang dia ributkan tadi.


"Apa?" tanya Ken saat mendapati tatapan Key padanya.


"Aku tak menyangka kau sudah melangkah sejauh itu Ken"


"Aku tidak sebodoh yang kau kira" tukas Ken dingin sambil berlalu meninggalkan Key.


"Hey kau mau kemana?" Key mengejar Ken.


"Aku mau mandi kau mau ikut?" mendengar itu Key segera menghentikan langkahnya.


"Yang benar saja dia mengajak q mandi?? ishh lebih baik aku kekamarku" Key bergegas menuju kamarnya sendiri.


Ken memasuki kamarnya,memutuskan untuk segera berendam melepaskan semua penatnya di bathtup akan menenangkannya.


Air hangat dalam bathtup benar-benar membuatnya nyaman,Ken menyandarkan kepalanya menegadah ke atas menatap langit-langit kamar mandinya.


Sekilas bayangan Naya muncul di matanya,terbayang senyum Naya disana,sesekali Ken tersenyum saat teringat wajah polos Naya,ya...polos tanpa makeup dan sialnya wajah itu sangat cantik,Ken memejamkan matanya,bibirnya masih tersenyum,bayangan wajah Naya masih dengan setia mengisi pikirannya.


Tiba-tiba senyum di wajah Ken memudar seiring dia tersadar dari khayalannya Ken membuka matanya.


"Sial... kenapa aku malah membayangkan wajahnya??!!" Ken kesal pada dirinya sendiri,Ken segera menyudahi acara berendamnya,dengan segera membilas diri di bawah kucuran air hangat dari showernya.


Pintu kamar mandi terbuka,Ken tertegun menatap tempat tidur king size nya, biasanya Naya akan menunggunya di kamar itu setelah sebelumnya memilihkan pakaian untuk Ken.


Sungguh Ken dipenuhi oleh bayang-bayang gadis itu.


"Astagaaa sampai kapan aku begini?? ada apa dengan ku? kenapa kepalaku dipenuhi dengan semua tentangnya?" Ken memijit pelipisnya,merasa ada yang salah dengan dirinya.


"Apakah aku merasa bersalah karena tak menemukannya saat itu? ya pasti ini hanya rasa bersalah, akan ku pastikan ini bukan rasa yang lain" Ken meyakinkan dirinya sendiri dengan pernyataan yang sebenarnya terasa konyol baginya.


Drrttt...drrrtttt...


Ponsel di nakas bergetar,Ken segera meraihnya,terlihat jelas nama si pemanggil.


"Mama..."


"Hallo mah?"


"Hai Ken,apa kabarmu sayang?" seperti biasa Lusiana selalu menanyakan kabar Ken terlebih dahulu sebelum mengutaran maksud dari panggilan telponnya.


"Baik mah,mama sendiri bagaimana?"


"Tentu saja mama baik sayang, kau susah sekali mengangkat telpon dari mama akhir-akhir ini,kenapa?? apa kau sedang berusaha menghindari ibumu ini Ken?" Lusiana langsung mencecar putranya.


"Maaf mah,aku hanya sibuk urusan di kantor kok,mana mungkin aku menghindari wanita tersayangku..." Ken mulai menggombali ibunya.


"Haisshh pandai sekali kau membuat mamamu ini tersipu Ken,dasar anak nakal" Ken hanya terkekeh.

__ADS_1


"Ken,apa kau sudah belikan ponsel baru untuk Naya? terakhir Key bilang ponselnya rusak,kemarin waktu mama coba telpon ponselnya aktif,tp saat Naya angkat telpon mama dia cuma hallo-hallo saja,sepertinya dia tidak mendengar mama bicara" Ken dibuat gelagapan dengan pernyataan Lusiana.


"Mmm...itu..itu..." Ken tergagap.


"Jangan bilang kau belum membelikannya ponsel Ken..!!!!" cecar Lusiana tanpa henti.


"Aku belum sempat mah,karena sibuk di kantor nanti akan aku belikan mah"


"Baiklah anak nakal,jangan sampai mama naik darah saat menelpon Naya lagi nanti karena ponsel yang rusak,mama ingin mengabarkan perkembangan ibunya pada Naya nak"


"Iya mah Ken janji akan membelikannya untuk Naya"


"Bagus Ken,sebaiknya kau lakukan secepatnya atau mama akan menghajarmu nanti,ingat itu anak nakal"


"Astagaa aku ini anak kandung atau anak tiri si mah" Ken mengumpat dalam hati.


"Hallo..??hallo ken? kau masih disana kan?"


"Iya iya mah"


"Ya sudah,mama akan telpon lagi nanti bye sayang"


"Bye mah"


Panggilan pun berakhir.


.


.


.


Jodi duduk termangu di balkon apartemennya,pikirannya melayang pada pembicaraan Ken dan Key yang tak sengaja dia dengar tentang Ken yang tidak mau menjebaknya.


"Ada apa? apa yang mereka rencanakan padaku?" Jodi menyesap kopinya yang sudah mulai dingin karena terlalu lama didiamkan.


"Tidak..tidak..tidak mungkin tuan akan mencelakakan aku, tidak mungkin,aku tahu benar tuan muda seperti apa tidak akan semudah itu dia ingin mencelakakan aku,tapi apa sebenarnya maksud pembicaraan mereka??" Jodi bagaikan orang gila yang berbicara sendiri,menerka-nerka pembicaraan Ken dan Key yang hanya secuil dia dengar.


"Aaaakkkhhh... kenapa aku penasaran,begini???" Jodi terlihat frustasi.


"Haruskah aku bertanya langsung pada tuan muda?? tapi aku akan ketahuan menguping pembicaraannya,dan itu memalukan,tapi jika tak bertanya aku makin penasaran dan kupastikan ini akan mengganggu tidurku malam ini" disaat kebimbangan hati Jodi soal ke-kepo-an nya pada pembicaraan Ken dan Key,telponnya pun berderit.


"Hallo?"


"Hallo Jodi,aku mendapat info terbaru tentang Haris,dia mendatangi kantor Jack,prediksiku dia ingin bekerja sama dengan Jack untuk melawan tuan pastinya" seseorang di seberang sana melapor.


"Baiklah,perintahkan mata-mata kita untuk memasang alat penyadap di tempat dimana pertemuan mereka akan berlangsung Han" titah Jodi.


"Aku akan melakukannya Jod" ucap orang itu yang ternyata adalah Hansen.


Panggilan Hansen berakhir.


"Cih,Apa lagi yang direncanakan pecundang itu kali ini?" Jodi berdecih meremehkan Haris yabg selalu terobsesi mengalahkan tuannya,berkali-kali Haris melakukan itu dan tiap kali itu juga dia gagal.


Tetapi obsesinya seperti tak pernah mengenal putus asa,dia selalu saja mencari-cari cara untuk mengungguli Ken,padahal Ken tak pernah sekalipun merasa bersaing dengannya.

__ADS_1


__ADS_2