
Soraya dan Silvi kompak menoleh kearah sumber suara.Terlihat tiga orang wanita cantik berdiri disana.
"Siapa kalian? dan mau apa datang kesini?" tanya Indah,istri pertama tuan Beni.
"Kak,jangan-jangan dia membawa gadis itu untuk uang" bisik Hani.
"Aku Soraya dan ini anakku Silvi,aku datang ingin bertemu tuan Beni" jawab Soraya.
"Mau apa kau ingin bertemu suamiku?" tanya Indah lagi.
"Aku ada urusan penting dengan tuan Beni" Soraya menjawab lagi.
"Cih..urusan penting? apa kau membawa anakmu itu untuk uang dari suamiku?"
"Lancang sekali kau nyonya..!! kami datang baik-baik kesini" Soraya tak terima dengan tuduhan itu.
"Apa lagi yang dicari seorang sepertimu jika bukan uang?" Ika ikut menimpali.
"Aku datang ingin mencari anakku yang telah lama tak kunjung kembali,terakhir kali kudengar dia ada urusan pekerjaan dengan tuan Beni." Soraya menjelaskan tujuannya.
"Cih...apaah yang dia maksud si jal*ng itu?" tanya Hani pada indah.
"Jal*ng??? siapa yang kau sebut jal*ng nyonya? jangan sembarang bicara!!!" ucap Soraya geram.
"Apa kau mencari Fella?" tanya Indah pada Soraya.
"Kau tau dimana anakku??" Soraya terperanjat.
"Tentu saja aku tahu,kami semua tahu" jawab Indah.
"Benarkah? dimana dia nyonya?" Soraya mulai melunak.
"Haruskah ku katakan padamu dimana anakmu yang jal*ng itu?" ucap Indah lagi yang sukses membuat Soraya geram.
"Nyonya anakku bukan jal*ng dia gadis baik-baik..!!!!" Soraya mulai emosi.
"Hei jangan berteriak dirumahku..!! memangnya apa lagi sebutan yang pantas bagi anakmu itu??" Hardik Indah sengit.
"Katakan saja dimana anakku!!!" bentak Soraya.
"Kau benar-benar ingin tau dimana anakmu ya?" Hani dengan sinisnya berucap.
"Dia ada dikamarnya bersama suamiku" ucap Indah yang sukses membuat Soraya terkejut,mata Soraya makin melebar saat melihat anaknya muncul dengan tuan Beni yang memeluk pinggangnya dengan sangat posesif.
"Fe...Fella...."
"Kakak..." Ucap mereka bersamaan,mulut keduanya pun menganga menyaksikan pemandangan itu.
Fella dengan wajah berseri tampak nyaman dalam pelukan tuan Beni.
"Sayang,usir tiga penyihir itu dari hadapanku" ujar Fella menatap ketiga istri Beni.
"Kalian pergilah" tuan Beni menuruti keinginan wanita kesayangannya.Dan perintah itu dituruti tanpa perlawanan dari ketiganya walaupun kekesalan nampak jelas di wajah ketiga wanita itu.
Soraya makin tercengang menyaksikan tiga singa betina itu berubah menjadi sejinak kucing rumahan.
"Ibu..." ucap Fella seraya mendekati dan memeluk ibunya.
"Fella...kau baik-baik saja nak?"
__ADS_1
"Kakak...kita sangat mencemaskanmu" Silvi ikut berhambur memeluk kakaknya.
"Aku baik-baik saja,kenapa kalian kemari?" tanya Fella menatap ibu dan adiknya bergantian.
"Sayang,apa kau akan membiarkan ibumu berdiri saja?" tanya tuan Beni.
"Ah..iya..mari duduk bu" Fella membawa ibunya duduk di sofa.
"Ibu mencarimu karena hawatir Fella,ponselmu tidak aktif dari seminggu yang lalu." Soraya mengutarakan kehawatirannya.
"Itu karena ponselku mati bu,aku lupa mengisi daya baterainya" Soraya mengernyitkan dahinya mendengar alasan anaknya yang menurutnya takasuk akal.
"Kehabisan daya? dan kalu lupa mengecasnya selama seminggu?" Soraya menyelidik.
"Iya bu"
"Tapi bagaimana bisa? apakah kau sesibuk itu hingga lupa mengecas ponselmu?" tanya Soraya lagi.
"Maaf nyonya,aku yang membuat Fella sibuk dan lupa mengecas ponselnya" tuan Beni bersuara.
"Maksudmu kau memberikan pekerjaan yang berat untuk anakku tuan?" tanya Soraya pada Beni.
"Ya kurang lebih seperti itu nyonya" jawab tuan Beni.Pembicaraan terhenti saat pelayan mengantarkan minuman.
"Ayo bu diminum dulu,kau juga Silvi kalian pasti haus kan?" Fella mempersilahkan.
"Akhirnya minum juga kita" Gerutu Silvi.
"Kita telah menunggu selama sejam disini tadi kak" Silvi protes saat sudah menghabiskan minumannya sekali teguk.
"Benarkah?" tanya Fella.
"Iya,kakak ngapain sih kenapa lama sekali menemui kami"
Soraya terlihat heran dengan tingkah keduanya.
"Fella,apa kalian...." Soraya tidak melanjutkan kalimatnya.
"Ya nyonya,aku menyukai putrimu" jawab tuan Beni lugas.
"Dia telah menjadi wanitaku" lanjut tuan Beni lagi.
"Aaapa??? wa...wanitamu?" Soraya tergagap mendengar kesaksian pria yang seumuran dengannya.
"Ya nyonya,Fella telah menjadi istriku yang ke 4 kami sudah menikah"
"Apa?????!!!!" Soraya makin terkejut.
"Ibu..mengapa terkejut begitu? aku telah menikah dengan tuan Beni bu,maafkan kau karena tidak mengabari ibu dan Silvi,semua terjadi dengan sangat cepat" timpal Fella.
"Tapi kak,bukankah kakak bilang kakak sedang bekerja disini?" tanya Silvi yang ikut terkejut.
"Ya silvi,kakak bekerja membuat suami kakak senang,itu pekerjaannya" Fella tersenyum.
*
*
Di mansion Jack.
__ADS_1
Naya masih mengurung diri dikamar,dia hanya sesekali keluar dan melakukan pekerjaan setelah selesai dia kembali ke kamarnya,wajah cerianya seolah lenyap Naya masih memikirkan perlakuan Jack padanya waktu itu yang benar-benar membuat dia ketakutan.
"Bi,dimana Naya?" tanya Jack pada bi Asih.
"Nona di kamarnya tuan."
"Apa dia keluar kamar hari ini bi?"
"Ya dia keluar kamar untuk melakukan pekerjaannya lalu kembali lagi kekamarnya."
Jack tampak termenung sedih menyadari perbuatannya tempo hari ssngat keterlaluan.
"Tuan,temui dia bicaralah dari hati ke hati" bi Asih mengusap lengan Jack lembut,dan Jack pun mengangguk.
Tok..tok..tok...
Naya tersadar dari lamunannya saat pintu kamarnya diketuk,perlahan dia berjalan mendekati pintu hendak membukanya.
Ceklek...pintu terbuka,pandangan Naya bertemh dengan mata elang milik Jack,tertegun beberapa saat terhanyut dalam tatapan mata itu.
"Ada apa?" Naya memutus tatapannya pada Jack.
"Aku ingin bicara,boleh aku masuk?" tanya Jack,Naya tidak menjawab tapi tangannya yang membuka pintu lebih lebar adalah sebuah persetujuan mempersilahkan Jack untuk masuk.
Naya berjalan ke arah balkon minimalis dikamarnya,tiba-tiba Jack memeluknya dari belakang.
Naya sangat terkejut,jantungnya berdebar tubuhnya terpaku.
"Naya..maafkan aku,maafkan aku" ucap Jack dengan penuh penyesalan.
"Aku sudah memaafkanmh Jack" jawab Naya datar.
"Benarkah? tapi mengapa kau begini? aku tersiksa dengan sikapmu Naya...ku mohon jangan seperti ini menghukumku'' ucap Jack makin ngeratkan pelukannya.
"Naya..aku mencintaimu,aku sangat terluka saat kau menolak lamaranku,aku hanya emosi saat itu dan membuatmu ketakutan,maafkan aku..." ucap Jack lagi.
Naya melepaskan pelukan Jack dan membalikkan tubuhnya hingga mereka saling menatap saat ini.
"Jack...kau tahu? bukan aku menolakmu,aku hanya ingin kau menungguku,menunggu untukku siap untukmu,aku menginginkan kehadiran ibuku saat kita menikah nanti,tidak bisakah aku meminta itu?" lirih Naya.
"Tentu kau boleh memintanya,apapun itu asalkan kau tetap bersamaku Naya...aku mencintaimu" Ucap Jack lagi.
"Aku juga mencintaimu Jack..." jawab Naya,Jack begitu bahagia dia memeluk Naya dengan erat,ngecup pucuk kepala Naya begitu dalam.
"Jack..."
"Hmmm"
"Lepaskan...aku susah bernafas.." ucap Naya spontan Jack melepaskan pelukannya.
"Maaf...maafkan aku sayang..." Naya hanya tersenyum dan mengangguk,sungguh Jack merasa sangat bahagia melihat senyum itu kembali menghiasi bibir ranum milik Naya.
Senyum yang beberapa hari ini kehilangan pemiliknya.
Jack membelai rambut Naya,satu tangannya berada di pinggag Naya dengan posesif,matanya menatap kedalam mata Naya,ke hidung dan akhirnya kebibir ranum Naya.Jack mendekatkan wajahnya perlahan...debaran jantung keduanya berpacu sangat cepat.
Tiba-tiba....
Drrrtttt....drrrttt....
__ADS_1
Ponsel Jack berderit.
"Sial...!!"