
Naya terlihat berkutat dalam dapur,bi Asih menghampiri Naya.
''Nona,apakah kau akan memasak?"
"Iya bi,aku akan memasak makan siang." ucap Naya tersenyum.
"Tapi bukankah kita hanya berdua kenapa sebanyak ini?." bi Asih heran dengan bahan masakan yang lebih banyak dari biasanya.
"Aku ingin memasak untuk Jack juga bi."
"Apa tuan akan pulang cepat dan makan siang disini?."
"Tidak bi,aku akan mengantar makan siang untuk Jack." bi Asih berbinar mendengarnya.
"Baiklah nona,biar bibi bantu." ujar bi Asih menawarkan diri.
"Iya bi,bibi bantu aku mencuci bahan-bahan ini saja ya,biar aku yang memasak." Naya bersemangat,bi Asih pun mengiyakan merasa ikut bahagia.
"Tapi bi,aku tidak tahu dimana kantor Jack." Naya terlihat murung,semangatnya yang tadi berkobar seolah padam seketika.
"Tenang saja nona,supir akan mengantarkanmu kesana." jawab bi Asih dengan senyum.
"Ah ya benar,kenapa aku hawatir...mari kita mulai memasak." semangat Naya seolah kembali lagi,mereka berdua terlihat sibuk di dapur demi menyiapkan makan siang untuk Jack.
"Yey..selesai...." Naya bertepuk tangan kecil,membuat bi Asih gemas melihatnya.
"Ini tempat makannya nona." bi Asih mengulurkan sebuah kotak makan berukuran besar.
"Kenapa besar sekali bi? Jack akan kekenyangan nanti."
"Bukankah kau akan menemani tuan makan di kantor nona? jadi kotak ini cukup untuk kalian berdua." ucap bi Asih dengan senyum,Naya dibuat malu dengan pernyataan bi Asih wajahnya menunduk.
"Nona,tidak perlu malu...ambilah dan letakkan masakan itu disini,aku akan memanggil supir untuk mengantarkanmu."
"Bukankah bibi juga ikut?" tanya Naya.
"Bibi tidak ikut nona,ada banyak pekerjaan disini." jawab bi Asih masih dengab tersenyum.
"Lagi pula bibi tidak mau melihat orang pacaran." celetuk bi Asih lagi.
"Bibi....!!!" Naya tersipu malu,bi Asih pun tergelaj dengan expresi wajah nona mudanya itu,dia beranjak hendak pergi menemui supir.
Selesai menata makanan Naya beranjak menuju kamarnya,memilih baju yang pantas untuknya karena dia akan pergi menemui Jack kekantornya,dia harus berpakaian sebaik mungkin,dia tidak boleh mempermalukan Jack.
__ADS_1
Pilihannya jatuh pada dress sabrina warna pink lembut selutut,terlihat sangat pas di tubuh ramping Naya,dia mengikat tinggi rambutnya,menegaskan tampilan leher jenjang miliknya,make up tipis dia sapukan di wajahnya yang memah sudah cantik alami,make up itu semakin mempertegas kecantikannya.
Dengan flat shoes senada menjadi pilihannya,Naya segera menuruni tangga menuju meja makan,dimana bekal yang dia siapkan dia letakkan.
Bi Asih tampak terkejut dengan penampilan Naya yang sungguh berbeda,terlihat lebih segar dan tentu saja sangat memukau.
"Nona..kau sangat cantik..." ucap bi Asih.
"Ah bibi membuatku malu lagi..."
"Bibi tidak bohong nona sangat cantik,tuan muda pasti akan sangat terpesona nanti." goda bi Asih.
"Aku berangkat ya bi,kalau disni terus pipiku akan jadi merah seperti tomat karena malu pada bibi." ujar Naya.
"Ahaha kenapa malu nona,kau memang sangat cantik,pergilah..supir sudah menunggu didepan."
"Baiklah bi,aku berangkat."
.
.
.
"Masuk." ucap Jack saat pintu ruangannya di ketuk.
"Ini sudah jam makan siang tuan,apa yang tuan inginkan untuk makan siang? aku akan membelinya untukmu." ujar Rendi sopan.
"Nanti saja Ren,aku belum lapar,aku akan memanggilmu saat aku ingin makan siang nanti." jawab Jack tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya,dia terlihat sangat serius bekerja.
"Baik tuan."
"Kau makan saja dulu." lanjut Jack masih tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
"Baik tuan." Rendi segera berlalu dari ruangan Jack.
Tak selang berapa lama pintu kembali diketuk,Jack masih fokus dengan pekerjaannya.
"Ini berkas-berkas yang harus anda tanda tangani pak." ucap Sherly sang sekertaris.
"Letakkan saja dimejaku." jawab Jack tanpa menoleh.Sherly menurutinya,meletakkan berkas-berkas itu di meja,matanya tak henti menatap Jack yang sedang fokus menatap layar laptopnya.
"Kenapa masih disini?" tanya Jack yang sekilas melihat Sherly masih berdiri di depan mejanya.
__ADS_1
"Maaf pak beberapa berkas perlu tanda tanganmu saat ini juga,maka dari itu aku menunggu." jawab Sherly.
"Baiklah." Jack meraih berkas-berkas itu,melihat mejanya yang penuh dengan tumpukan kertas dia bangkit dan memilih duduk di sofa untuk meneliti berkas yang diberikan oleh sekertarisnya.
Jack nampak serius memperhatikan semua berkas-berkas ditangannya itu,kemudian menandatangani berkas itu setelah yakin tak ada yang perlu di permasalahkan.
Semua berkas sudah Jack tanda tangani,dia menyerahkan kembali berkas itu pada Sherly.
"Hei..!!! apa kau melamun??" Jack mengibaskan tangannya di depan wajah Sherly.
"Ah iya maaf pak." ujar Sherly yang seketika tersadar dari lamunannya.
"Jangan banyak melamun saat bekerja itu akan mengurangi kinerjamu,dan pasti berdampak pada pekerjaan,aku tidak mau pekerjaan jadi terbengkalai." ucap Jack tegas,dan ketegasan itu makin membuat aura Jack begitu kuat,dan hal itu membuat Sherly semakin terkagum.
"Apa kau dengar yang ku ucapkan?." tanya Jack pada sekertarisnya yang terlihat tidak merespon ucapannya,malah hanya tersenyum-senyum.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jack terheran.
"Ah iya pak aku baik-baik saja,ini jam makan siang pak,apa ada yang kau inginkan? aku akan memesankannua untukmu." ujar Sherly dengan suara menggoda.
Jack menyadari godaan dari sekertarisnya,dia berusaha tidak terlalu merespon.
"Rendi akan membelikannya untukku nanti."
"Kenapa harus pak Rendi,akupun bisa membelikannya untukmu,atau kita pergi keluar dan makan siang bersama." Sherly mulai berani menyentuh bahu Jack yang masih dengan posisi terduduk.
Jack mulai jengah dengan kelauan sekertarisnya,dia mulai menggeser posisi duduknya.
"Jack...aku telah lama menyukaimu,bahkan mungkin aku telah jatuh cinta padamu..." Sherly mulai berani menyebut Jack dengan nama.
"Hentikan..!!" bentak Jack,tapi seolah bentakannya tak membuat Sherly takut,malah makin berani.
"Apakah kau tidak tertarik padaku? bukankah aku cantik dan sexy? apa yang kurang dari diriku?" Sherly semakin bergerak mendekati Jack.
"Aku bilang hentikan...!!! apa kau tidak dengar??!!" Jack bangkit dari sofa,namun tiba-tiba Sherly memeluk Jack dan Jack yang terkejutpun kehilangan keseimbangan dan terjatuh kesofa dengan posisi Sherly ada diatasnya,Sherly makin gila dia makin mengeratkan pelukannya,hingga tak ada lagi jarak diantara keduanya,dengan sengaja membuatJack merakan benda kenyal berukuran besar miliknya yang tak tertutup sempurna oleh kemeja yang sengaja dibiarkan terbuka beberapa kancingnya.
Jack berusaha menyingkirkan tubuh Sherly yang makin kuat menekannya ke sofa dan kemudian mencium bibir Jack.
Tiba-tiba pintu terbuka,dan...
Praakkkkk
Naya menjatuhkan kotak makanan ditangannya,tangannya begitu lemas melihat pemandangan didepannya,air matanya tak mampu lagi bertahan disana,seketika luruh...membasahi pipinya.
__ADS_1