
"Sayang kau dimana?" Fella menelpon suaminya yang sebenarnya lebih cocok jadi ayahnya.
"Aku ada urusan,jangan menelponku sampai aku sendiri yang menghubungimu oke?"
"Tapi..tapi kenapa? apa kau keluar kota? kenapa tidak mengajakku? sebelumnya kau selalu..."
"Sudahlah Fella aku tak punya banyak waktu berbicara saat ini,jangan hilubungi aku sampai aku yg menghubungimu nanti"
Tut..tut..tut..
Telpon terputus sepihak,Fella menghentakkan kakinya karena kesal,jika suaminya tak ada dirumah itu artinya dia akan menderita karena ke tiga istri sebelumnya pasti akan membuat Fella bekerja tanpa henti.
"Bagaimana ini? tua bangka itu pergi dan aku pasti akan menderita selama dia tak ada disini" Fella mulai cemas,membayangkan perlakuan ketiga wanita itu padanya nanti.
"Suami kita tak akan pulang malam ini ya adik?" tiba-tiba suara ika terdengar dari pintu kamar Fella yang terbuka.
"Dia pergi kemana memangnya? berapa lama dia akan pergi? dan kapan dia akan pulang?" Ika melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu dengan nada meledek.Fella menatap tajam pada wanita yang lebih tua beberapa tahun diatasnya itu.
"Oh..adik..jangan menatapku begitu...aku jadi merasa takut" masih dengan nada meledek Ika sukses membuat Fella kesal.
"Jangan panggil aku adik,aku bukan adikmu..!!" hardik Fella.
"Tidak sayang...kau adik kami sekarang kan? adik madu..." celetuk Hani yang saat ini ikut masuk ke kamar Fella itu.Saat ini Fella merasakan dirinya tidak akan baik-baik saja jika wanita-wanita ini berada di dekatnya.
"Keluar dari kamarku sekarang juga..!!" Fella bangkit dan menunjuk arah pintu mengusir kedua wanita itu.
"Astaga...adik..kau galak sekali ya,bahkan saat pelindungmu tidak disini,aku benar..benar takut..." Ika menutup wajahnya setelah sebelumnya memberikan expresi yang menurut Fella sangat memuakkan.
"Ku bilang keluar dari sini...!!"
"Pelankan suaramu..!!! kau pikir kau siapa?!!" Indah berkata penuh penekanan.
"Kau hanya sampah,kau dengar itu jal*ng??? sampahh!!!" bentak Hani.
Fella tak terima dengan semua perkataan ketiga wanita itu,dia takkan mengalah apapun alasannya toh dia sama-sama istri tuan Beni juga.
"Apa kau bilang tadi? sampah? kalianlah yg sampah,bahkan suamiku tak sudi lagi melirik kalian bertiga tapi kalian dengan tak tahu malunya masih sanggup berada dirumah ini,menyedihkan..!!" kalimat tajam dari mulut Fella sungguh telah melukai harga diri ketiga wanita itu.
"Suamimu?? dia juga suami ku kau hanya jal*ng yang berada diantara wanita berkelas seperti kami" sarkas Indah sang istri tertua.
"Cih..wanita berkelas…? tidakkah kau bercermin? kau hanya wanita tua yang tak dianggap" ujar Fella tajam.
"Beraninya kau...!!!!" pekik Indah yang hendak melayangkan tamparan ke wajah Fella,tapi tangan itu tertahan diudara.
__ADS_1
"Kau pikir kau bisa menamparku lagi?? tidak akan kubiarkan wajahku tersentuh oleh tanganmu..!!!" Fella menahan tangan Indah dengan sigap.
Ketiga wanita itu tampak geram dengan Fella yang kini lebih berani melawan,bahkan saat tuan Beni tak lagi ada bersamanya.Mereka bertiga meninggalkan kamar Fella dengan perasaan kesal yang berkecamuk di dada mereka.Sungguh tak menyangka jika gadis selalu mereka bully itu telah mendapat kekuatannya,entah dari mana.
"Kakak jal*ng itu mulai berani menunjukkan taringnya,dia begitu berani tadi kak" Hani membuka suara.
"Kau benar kak,dia seperti mendapatkan kekuatan saja melawan kita" imbuh Ika ikut bersuara.Sedangkan Indah tampak masih terdiam dan berpikir.
"Kak kita tidak boleh diam saja,kita harus memberinya pelajaran kan?" tanya Hani.
"Benar kak,dia semakin bertingkah,bertindak seolah dialah nyonya besar disini" Ika menimpali.
"Diam!!!" Indah membentak,matanya melotot membuat kedua madunya bungkam.
"Aku tidak perduli dengan wanita itu,aku lebih perduli dengan nasib kita selanjutnya..!!!" teriak Indah tampak begitu emosi.
"Nasib kita? apa maksudmu kak?" Hani memberanikan diri untuk bertanya.
"Tua bangka itu dalam masalah,dia bangkrut..!!!" pernyataan Indah sukses membuat kedua madunya itu terkejut.
"A..apa..??? bangkrut? k.kau bercanda kan kak?" Ika tergagap,tak percaya dengan pendengarannya.
"Bagaimana bisa kak? kau tahu darimana jika suami kita bangkrut?" Hani sama tak percayanya seperti Ika.
"Lalu...yang dia bilang dia ada urusan di luar kota pada si jal*ng tadi....."
"Itu hanya alasannya saja,dia sedang melarikan diri.." Indah menjawab pertanyaan yang bahkan belum hani selesaikan kalimatnya.
"Astagaaa...apakah kita akan jatuh miskin kak?!"
pekik Ika histeris.
"Sumber pendapatan suami kita kolaps otomatis itu berdampak juga pada kita semua,entah apa yang akan tersisa nanti" Indah memijit keningnya yang terasa pening dan berdenyut.
"Kita harus mengamankan barang-barang berharga kita sekarang juga,semua perhiasan kalian dan beberapa aset atas namaku." lanjut Indah lagi.
"Aset atas namamu kak?" Hani terkejut.
"Ya,aku memiliki beberapa aset atas namaku,itu pemberian Beni saat aku baru menikah dulu" terang Indah.Memang hanya dia yang mendapatkan itu dari suaminya,sedangkan istri-istri yang lain hanya mendapatkan uang dan perhiasan saja tidak lebih.
Hani tampak cemberut mendengar kebenaran itu,dia merasa di tipu.
"Hani,kau kenapa?" tanya Indah tapi yang di tanya masih tetap tak bergeming.
__ADS_1
"Hey ada apa? jangan bilang kau iri padaku" ujar Indah.
"Tentu saja aku iri padamu kak,ternyata diantara kita hanya kau yang paling disayang oleh suami kita" jawab Hani lirih.
"Disayang? apa maksudmu?" Indah terheran dengan pernyataan Hani,jelas-jelas Beni telah menduakannya dan menghadirkan Hani walaupun akhirnya Hani pun merasakan yang indah rasakan dengan kehadiran Ika.
"Kau diberikan beberapa aset kekayaan suami kita sedangkan aku dan yang lain tidak"ujar Hani lagi.
"Aku istri sahnya,istri pertamanya,dan semua itu aku dapatkan saat kedua orang tuaku masih hidup,Beni cukup segan dengan mereka,tapi setelah mereka tiada,Beni mulai bertingkah dan menghadirkanmu diantara kami,walaupun alu tahu itu bukan kemauanmu sendiri,tapi apa kau pikir aku tidak terluka saat itu?" Indah mengatakan itu dalam satu tarikan saja,dan sejenak mengambil nafas kembali.
"Sudahlah bukan waktunya kita berdebat,yang terpenting sekarang kita harus bergegas mengamankan semua hak kita" ujar Indah,Ika mengangguk saja dia sedari tadi hanya diam dan menyimak karena dia memang cukup tahu diri disini.
"Kakak..." tiba-tiba Hani menggapai tangan Indah.
"Terimakasih.." ucapnya kemudian,Indah mengernyitkan dahinya tak mengerti apa arti ungkapan terimakasih itu.
"Terimakasih karena telah menerimaku" ujar Hani lagi.
"Sudahlah,kita hanya korban saat ini kita harus saling menguatkan" Indah menggenggam tangan Hani,dan di iyakan dengan anggukan kedua madunya.
"Lalu bagaimana dengan wanita itu kak?" tiba-tiba Ika menyuarakan yang ada dalan hatinya.
"Biarkan dia tetap disini,kita saja yang pergi biarkan dia jadi nyonya rumah ini sebelum rumah ini harus terjual" ucap Indah.
"Terjual?" Hani dan Ika serentak.
"Tentu saja,Beni akan melakukan segala cara untuk mempertahankan perusahaannya bukan? dia butuh banyak uang,aku yakin rumah ini akan dijualnya demi menutup kerugian perusahaan,sudahlah cepat berkemas,kita akan keapartemenku" tukas Indah.
Mereka bertiga segera berkemas,membawa semua barang berharga milik mereka,setelah siap mereka segera membawa semua barang-barang yang telah berada dalam koper.
Ketiganya menyeret koper itu ke lantai bawah.
Fella tak mengetahuinya karena dia masih berada dalam kamarnya.
"Mau kemana kalian..??!!!!"
Hai readers,mohon maaf ya kalau author lama update nya,karena jelang lebaran jadi author agak sibuk memeprsiapkan keperluan lebaran,🤭 tenaga banyak terkuras di persiapan lebaran ini jadi kali ini baru ada waktu untuk update.😁😁
Author juga harus bekerja di dunia nyata jadi mohon maaf sekali lagi karena telah membuat para readers menunggu up nya🙏🙏🙏🙏
Author akan berusaha semaksimal mungkin untuk terus up bab selanjutnya🥰 terimakasih buat yang sudah setia mendukung karya recehan ini 🥰🥰🥰
Mohon tingkatkan terus like,dan vota nya ya biar author makin semangat up bab2 selanjutnya🥰🥰🥰🥰🙏🙏🙏
__ADS_1