Upik Abu Kesayangan Bos Mafia

Upik Abu Kesayangan Bos Mafia
bab 4


__ADS_3

Di markas haris....


"jadi...siapa gadis yang bersama ken yang kau tembak itu?" tanya haris pada anak buahnya


"saya tidak tahu tuan,yang saya tahu musuh tuan itu membawa gadis itu bersamanya sesaat setelah tertembak" jawab anak buah haris gamblang dan lancar jaya.


"menarik sekali...Ben,cari tahu tentang gadis itu" titah sang bos yang tidak lain adalah haris kepada anak buahnya


"baik tuan" jawab Ben yang merupakan orang kepercayaan dari Haris dan Ben pun segera pamit demi menunaikan perintah dari sang bos


Haris sangat terobsesi untuk dapat menyaingi Kenan dalam segala hal,sedari mereka masih sama sama remaja dulu hingga sekarang saat sudah dewasa,kobaran api persaingan diantara mereka seperti tidak pernah padam.


Awalnya persaingan mereka hanya sebatas sebuah prestasi saja,tapi persaingan sehat itu berubah menjadi permusuhan setelah Ken mendapatkan perhatian dari seorang gadis yang sebenarnya Ken sendiri tidak terlalu menyukainya.


Agnes nama gadis itu, gadis angkuh yang selalu bersikap manja pada Ken,sedangkan Ken sendiri sebenarnya merasa risih dengan sikap Agnes,tapi gadis itu dengan tanpa malu dan sungkan selalu bergelayut manja pada Ken disetiap kesempatan,Ken memang membiarkan Agnes bertingkah seperti itu karena Ayah Agnes adalah orang yang sangat berjasa kepada keluarga Ken.


Ronald,ayah Agnes adalah orang kepercayaan tuan Alex yang merupakan ayah dari Kenan.


Agnes yang sedari dulu memang menyukai Ken selalu mencari kesempatan untuk selalu dekat dengan Ken dan itu semua membuat Haris kesal dan mengibarkan bendera permusuhan dengan Ken hingga kini.Permusuhan semakin memuncak setelah Agnes menolak Haris yang menyatakan cintanya pada Agnes 2 tahun lalu sebelum Agnes pergi ke negara C untuk melanjutkan studi nya.


"Maafkan aku haris,tapi aku tidak bisa menerimamu karena aku mencintai Ken"


kata kata itu masih terngiang di telinga haris hingga saat ini,yang membuat kebenciannya pada Ken semakin bertambah.


Dirumah naya...


"Ibu...minum obat dulu ya,naya sudah membelikan obat untuk ibu"


naya dengan cekatan menyiapkan obat untuk ibunya,sakit pada lengannya tidak membuat naya mengeluh untuk merawat ibunya itu,naya menghaluskan semua obat dan mulai menyeduhnya dengan air hangat,dan bersiap untuk menyuapkannya ke ibunya lewat slang kecil yang terpasang dari hidung ibunya.


Naya menuangkan obat itu sedikit demi sedikit sampai obat itu habis,pemandangan yang sangat pilu itu tak pernah terlihat oleh orang lain di luaran sana,Naya pun merasakan sesak di dada tiap kali harus menyuapi makanan kepada ibu nya lewat slang itu,tapi mau bagaimana lagi?


hanya dengan cara itu ibunya bisa tetap makan untuk kelangsungan hidup.


Naya duduk di tepi ranjang ibunya,memegang tangan sang ibu yang putih bersih,meletakkan tangan itu di pipinya


"ibu...Naya rindu belaian tangan ibu,Naya rindu bu...kapan ibu akan bangun? tidakkah ibu merindukan anak ibu ini?" naya terisak pelan


"Bangunlah bu...buka matamu,lihatlah...naya bukan lagi gadis kecil yang cengeng bu,naya sudah besar"


isak naya lagi,namun sang ibu masih setia dengan mimpi indahnya,ya...naya selalu menganggap ibunya ini tertidur,seolah larut dalam mimpi yang indah hingga enggan untuk terbangun.

__ADS_1


Sementara seseorang telah berdiri di pintu kamar miranda,ya...dia adalah soraya


Naya menyadari kehadiran ibu tirinya itu,dia segera menghapus air matanya tanpa diketahui oleh soraya


"hey upik abu,sampai kapanpun ibumu akan tetap seperti itu,jadi jangan buang waktumu untuk mengurusinya saja" sarkas Soraya yang sama sekali tidak dilirik oleh naya sekalipun hanya dengan ekor matanya


"hey!!!! kau dengar aku tidak??!! kerjakan pekerjaanmu jangan hanya mengurusi mayat hidup itu!!!" teriak soraya kesal, seketika Naya menoleh dan menatap soraya dengan tatapan tajam yang mengerikan tatapan membunuh yang pasti akan membuat orang yang melihatnya bergidik ngeri.


" k..kau mau melawanku hah??" soraya tergagap tapi tetap berusaha mempertahankan sikap arogannya


"kau tahu kalau aku bisa melakukan apa saja pada mayat hidup itu bukan?" soraya menunjuk miranda yang terbaring


"jangan pernah coba coba menyentuh ibuku,dan berhenti memanggil ibuku mayat hidup" ucap naya dingin dan dengan tatapan membunuhnya


"tentu saja,selama kau menjalankan peranmu dengan baik,maka mayat...owh aku lupa,ibumu itu akan tetap pada tempatnya" seringai soraya dengan sinis, dan berlalu dari tempat itu.


"ibu,naya akan kembali lagi nanti setelah menyelesaikan pekerjaan naya di rumah ini,hanya ibu yang membuatku bertahan bu..." naya mengelus pipi ibunya dan mencium keningnya sebelum meninggalkan ibunya dikamar itu sendirian untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang tiada habisnya.


seperti biasa naya melakukan semua pekerjaan di rumah itu,pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh pelayan atau asisten rumah tangga,


"aaaw...lenganku nyeri sekali..." naya memegangi lengannya yang tertutup kaus lengan panjang warna kuning,karena terlalu banyak bekerja,luka pasca oprasi itu mengeluarkan darah yang merembes ke baju naya,beruntung tidak ada yang melihat dirumah itu,naya bergegas ke kamarnya yang merupakan kamar miranda,yaa...naya tidur di kamar yang sama dengan miranda.


Naya mengambil baju ganti di lemari dan kemudian masuk ke kamar mandi,Naya melepaskan bajunya, terlihat kain kassa (perban) yang tidak lagi berwarna putih,sudah berubah menjadi warna merah karena darah


Naya membersihkan lukanya dan mengompresnya dengan es yang dia bawa dari dapur sebelum dia masuk kekamar dan mengganti sendiri perban penuh darah itu dengan perban yang baru,


"aku lupa meminum obat ku pagi ini" gumam naya pada dirinya


Naya segera mengambil obatnya dan segera meminumnya.


.


.


.


Tak terasa hari telah gelap,naya baru saja selesai bergelut dengan piring piring kotor bekas makan ibu tiri dan saudara tirinya


Naya bergegas hendak menyuapi ibunya,


"Ya Tuhan...susunya habis,aku lupa membelinya kemarin,bagaimana ini? ibu belum makan" naya terduduk lemas di lantai menyadari susu untuk ibunya telah habis,

__ADS_1


dan uang terakhir yang nanya miliki pun sudah dia belikan obat lagi untuk ibunya karena obat yang pertama naya beli hilang entah kemana saat kejadian penembakan itu,


dengan slang yang terulur dari hidung ke lambung miranda itu,hanya memungkinkan umtuk mengkonsumsi makanan cair seperti susu khusus yang selalu naya belikan dengan uang yang dia sisihkan saat berbelanja,itu sebabnya naya rela berjalan jauh ke pasar tradisional agar dapat membeli sayur mayur dan bahan makanan yang lebih murah agar naya dapat membelikan ibunya obat dan susu,


sekarang tidak ada yang tersisa,susu ibunya habis dan uangpun tak ada,lama naya terduduk lemas dilantai,alkhirnya naya memutuskan untuk membersihkan dirinya,naya bangkit dari duduknya,melangkah ke arah lemari pakaian untuk mengambil baju ganti,naya mengambil baju kaos polos warna coklat dan celana panjang,


saat naya mengambil celananya tiba tiba ada sesuatu yang terjatuh,seperti kertas yang dilipat lipat,naya menunduk untuk mengambil kertas yang jatuh itu


betapa terkejutnya naya mendapati kertas itu ternyata adalah uang 100rb an yang sudah terlihat sangat pipih bahkan pada lipatan yang sudah berbentuk persegi,menandakan uang itu telah lama ada di bawah tumpukan baju bajunya,


bagaikan menemukan mata air ditengah gurun pasir,


"uang???tapi uang siapa? eh...ini kan dilemari bajuku,tentu saja uangku kan? tapi kapan aku menyimpannya?" tanya naya pada dirinya sendiri,tapi naya tidak mau terlalu lama membiarkan ibunya menunggu untuk makan malamnya,naya segera menyimpan uang itu kembali dan masuk ke kamar mandi dengan senyum cerah.


.


.


.


"hey upik abu,mau kemana kau malam malam begini?" silvi mengagetkan naya yang hendak keluar rumah untuk membeli susu untukibunya


"bukan urusanmu" jawab naya datar dan tanpa membalikan badan untuk hanya sekedar melihat silvi


"ya kau benar,memang bukan urusanku kau mau kemana,bahkan jika kau menghilangpun aku tidak perduli" silvi melenggang menaiki tangga menuju kamarnya


"kau bicara dengan siapa tadi vi?" tanya soraya yang baru keluar dari kamarnya


"itu bu,aq melihat upik abu itu seperti hendak keluar rumah" jawab silvi


"kemana dia malam malam begini?"tanya soraya


"mana silvi tau bu,itu juga bukan urusan silvi kan?"


"dasar bodoh...!! kau tidak ingat kejadian sarapan beberapa hari lalu soal racun di makanan ibunya? pasti ada seseorang yang memberitahunya,jika tidak,tidak mungkin dia akan tahu,karena aku sudah melenyapkan semua bukti bukti" soraya menerangkan panjang lebar


"ishh...kemana dia ya? apa dia akan bertemu seseorang?andai saja kakakmu di rumah pasti kita bisa mengikutinya kan?" gumam soraya lagi


"memang kakak kapan pulang bu?"


"ibu tidak tau kapan kakakmu pulang dari kota D,karena kakakmu harus menyelesaikan misi kita untuk menjual tanah peninggalan ayah tirimu yang ada disana,agar kita tetal bisa hidup enak tanpa harus capek bekerja"imbuh soraya yang hanya ditanggapi dengan wajah bengong silvi

__ADS_1


"issh..sudahlah masuk ke kamarmu,kau tak akan mengerti apa yang ku bicarakan" soraya meninggalkan silvi begitu saja dan masuk ke kamar


.


__ADS_2