Upik Abu Kesayangan Bos Mafia

Upik Abu Kesayangan Bos Mafia
bab 49 Soraya mengunjungi Fella


__ADS_3

Soraya tampak frustasi mendapati tak ada satupun pesannya yang dibalas oleh Fella beberapa hari ini,anak sulungnya itu sudah beberapa hari susah untuk dihubungi padahal persediaan uang yang dikirim Fella tempo hari telah habis tak bersisa bahkan hanya untuk membeli sarapanpun tak ada.


"Kemana anak ini? kenapa susah sekali dihubungi? apa dia tidak tahu kalau ibunya kesulitan? bahkan kelaparan..!!!" Soraya memaki saat panggilan telponnya yang kesekian kali pada Fella tak kunjung tersmbung.


"Iiissshhh...!!! kemana dia? kenapa telponnya tidak aktif??!!!" Soraya makin geram saja.


"Apa yang harus ku perbuat sekarang? uang pun tak ada,apa aku harus mencari Fella? tapi bagaimana??? aku tak punya uang,aaaaakhhhhh!!!!!!" Soraya menjerit frustasi.


"Ibu????!!! ibu kenapa berteriak??" Silvi tergesa menghampiri ibunya karena terkejut dengan teriakan ibunya.


"Ibu? ibu kenapa?" cecar Silvi lagi.


"Ibu kesal Silvi..!!! kakakmu tidak bisa dihubungi ibu sudah kehabisan uang..!!!!" teriak Soraya.


"Kak Fella sibuk mungkin bu."


"Sibuk?? apa dia sangat sibuk hingga melupakan ibu??!!" Soraya masih berteriak.


"Coba telpon lagi nanti bu,siapa tahu kak Fella akan mengangkat telponnya nanti"


"Kakakmu tak dbisa dihubunngi sejak seminggu lalu Silvi..!!!"


"Apa??seminggu?"


"Ya seminggu,apa selama itu kau pernah menghubunginya?" tanya Soraya.


"Tidak bu,aku jarang menghubunginya akhir-akhir ini pesan dariku pun jarang dibalasnya,jadi aku malas berkabar padanya" sungut silvi.


"Ada apa dengan kakakmu ya? tidak biasanya dia begini...."


"Bagaimana jika kita cari kakak bu?"


"Cari kemana??"


"Ya ketempat tuan Beni lah bu,terakhir kali kan ibu bilang kakak ada disana"


"Iya juga ya,tapi masalahnya ibu sudah tak punya uang Silvi,bagaimana caranya kita kesana?"


"Ibu,Silvi masih punya uang yang dari ibu waktu itu kita bisa memakainya untuk menemui kakak" ujar Silvi berbinar.


"Kau punya uang?"tanya Soraya heran karena Silvi kan sangat boros,sama seperti dirinya.


"Iya bu,uang yang kuminta tempo hari belum ku pakai"


"Bukankah kau bilang kau ingin membeli sesuatu? tidak jadi?" tanya Soraya heran.


"Ya tapi benda yang ku inginkan sudah keburu dibeli orang" ketus Silvi.


"Oh begitu,ya sudah kita pakai uang itu untuk pergi menemui kakakmu ya,ibu akan bersiap-sia dulu"


"Baiklah bu aku pun akan bersiap bu" ucap Silvi beranjak menuju kamarnya.


*


"Kealamat ini y pak" ucap Soraya menunjukkan sebuah catatan kecil pada sang sopir yang mereka sewa mobilnya seharian ini.


"Baik nyonya" jawab sang supir dan segera tancap gas menuju alamat yang dituju kedua penumpangnya.

__ADS_1


Sepanjang jalan tak ada pembicaraan yang berarti diantara ibu dan anak itu,bahkan mereka lebih banyak tidur saat perjalanan karena jarak tempuh ke kota tempat Fella berada memang cukup memakan waktu.


Beberapa jam kemudian akhirnya mobil yang mereka tumpangi itu berhenti.


"Kita sudah sampai nyonya" ucao sang sopir,Soraya dan juga silvi yang baru terbangun dari tidurnya terlihat memulihkan nyawanya yang sempat berhamburan keluar dari raga karena tidur nyenyaknya.


"Ibu..apa kita sudah sampai?" tanya Silvi.


"Kau dengar kan tadi pak supir bilang kita sudah sampai" ucap Soraya yang masih mengerjap-ngerjapkan matanya.


Silvi membuka jendela kaca mobil menatap rumah yang begitu indah dan megah.


"Ibu...apa itu rumah kak Fella?"


"Ish..bukan..itu pasti rumah tuan Beni,ayo kita turun" ajak soraya.


Mobil yang mereka sewa pun telah pergi,perlahan Soraya melangkah mendekati pos jaga,seorang security ada disana.


"Permisi..." teriak Soraya.


"Cari siapa nyonya?" tanya seorang pria paruh baya dengan seragam hitam-hitamnya.


"Apa betul ini rumah tuan Beni?" lanjut Soraya.


"Iya betul,anda siapa dan ada perlu apa ya?" sang security menelisik penampilan Soraya dan Silvi.


"Aku Soraya dan ini anakku Silvi,kami ingin bertemu tuan Beni,apakah dia ada dirumah?"


"Sebentar nyonya saya melapor dulu" ucap si security,dia nampak kembali masuk ke dalam pos jaganya dan menggunakan telpon dan terlihat seperti sedang berbicara pada seseorang dalam sambungan telpon itu.


"Sebentar nyonya saya bukakan pintu"


Pintu gerbangpun dibuka,Soraya dan Silvi diijinkan masuk.


"Mari nyonya saya antar" ujar security itu lagi,Soraya hanya mengangguk.


Mata Soraya terpesona dengan bangunan megah dihadapannya,begitu juga dengan Silvi.


"Ibu,rumah ini sangat besar bahkan lebih besar dari rumah kita" ujar Silvi dengan mata berbinar.Soraya tak menghiraukan ucapan Silvi,dia sendiri tengah sibuk dengan tatapan takjubnya pada bangunan itu.


Saat sampai di teras rumah terlihat dua pelayan menunggu disana.


"Nyonya silahkan ikuti mereka,saya hanya mengantar sampai disini" ucap security itu lagi.


"Mari nyonya,nona,ikuti kami" ucap salah seorang pelayan.


Soraya hanya menurut saja,dia merasa tersanjung dengan penyambutan ini,yang sebenarnya memang seperti itulah peraturan di rumah tuan Beni.


Tatapan Soraya makin terperangah saat memasuki ruangan tamu rumah itu,mulutnya ternganga mendapati semua furniture mewah disana.


"Silahkan menunggu disini nyonya" ucap salah satu pelayan,Soraya hanya mengangguk.


"Ibu...rumah ini benar-benar luar biasa,lihat ini bu,semua barang-barang disini adalah barang mahal." ucap Silvi sambil mengamati semua yang ada disana.


"Ibu tau Silvi,awas jangan pegang-pegang ibu tidak mau jika nanti harus mengganti jika ada yang rusak..!!!" hardik Soraya.


"Aku hanya mengamatinya bu aku tidak akan menyentuhnya" tukas Silvi.

__ADS_1


Cukup lama ibu dan anak itu dibuat menunggu di ruang tamu megah itu,hingga keduanya merasa bosan.


"Ibu kenapa mereka lama sekali? sudah hampir satu jam kita menunggu tapi tak ada yang muncul satupun,kemana pelayan tadi??" Silvi mulai kesal.


"Kau benar Silvi,kenapa kita dibuat menunggu selama ini ya? tidak sopan!!!" Soraya ikut kesal.


"Apa mereka sesibuk itu bu? atau jangan-jangan pelayan tadi tidak menyampaikan kedatangan kita pada tuan Beni?"


Tok..tok..tok..


"Sayang..hentikan,ada yang mengetuk pintu..." ucap Fella manja.


"Biarkan saja...aku menginginkanmu saat ini sayang..." ujar tuan Beni yang saat ini sedang mencumbui Fella.


"Buka dulu pintunya...siapa tau ada yang penting kan?" bujuk Fella lagi yang sebenarnya mulai muak dengan kelakuan si tua bangka Beni.


"Tidak ada yang lebih penting dari kesenanganku sayang...." bantah tuan Beni lagi.


tok..tok..tok..


"Sayang...hentikan,buka pintu dulu dan kita lanjutkan nanti" Fella masih membujuk.


"Hhhhh menganggu saja...!"


Ceklek...


"Ada apa?" tuan Beni membuka pintu.


"Ada tamu tuan,mereka mencari anda" ucap pelayan menunduk hormat.


"Mereka? siapa?"


"Nyonya Soraya dan anaknya tuan" ucap pelayan lagi.


"Soraya? siapa Soraya?" tanya tuan Beni lagi.


Mendengar nama Soraya seketika Fella tersentak kaget.


"Benarkah itu ibu?" Batin Fella lalu bangkit dan mendekat sambil membenarkan gaunnya yang tadi acak-acakan karena ulah tuan Beni.


"Sayang...apa itu ibumu?" tanya tuan Beni.


"Aku rasa begitu,aku akan turun" ucap Fella.


"Okey,aku akan turun bersamamu" ucap tuan Beni mengecup pucuk kepala gadis kesayangannya.


Sementara Soraya dan Silvi terus saja mengumpat kesal karena dibuat menunggu.


"Ibu apa kita pulang saja?" ujar Silvi.


"Kau bercanda?? bahkan kita belum bertemu kakakmu"


"Tapi sampai kapan kita menunggu ibu,aku bosan..!" Silvi bersungut.


"Ibu juga bosan menunggu tapu mau bagaimana lagi?"


"Siapa kalian?"

__ADS_1


__ADS_2