
Ketiga wanita itu menoleh ke arah sumber suara,pandangan mereka pun menangkap sosok seorang yang sangat familiar.
"Mengapa kalian membawa semua koper-koper itu? kalian mau pergi?" tuan Beni terheran dengan ketiga istrinya yang masing-masig membawa dua koper besar.
"Kita hanya ingin liburan" Indah menjawab mewakili kedua madunya.
"Liburan???" tanya tuan Beni.
"Ya liburan,kenapa?" Indah bersungut dan melipat tangan didadanya.
"Kenapa tiba-tiba kalian ingin pergi liburan tanpa meminta izinku?" Beni mulai marah.
"Izin? sejak kapan kami perlu izin darimu untuk pergi?" tanya Indah sinis.
"Bukankah kau tak pernah perduli dengan semua yang kami lakukan? kenapa tiba-tiba kami harus meminta izin untuk melakukan sesuatu?." lanjut Indah lagi.
"Aku hanya sibuk bukan berarti tidak perduli padamu" Beni membela diri.
"Cih...sibuk dengan gundik barumu?" Indah berdecih mencemooh lelaki yang masih menjadi suaminya itu.
"Jaga mulutmu..!!" bentak Beni.
"Memang benar kan dia gundikmu?" Hani ikut bersuara.
"Dia istriku sama seperti kalian"
"Ah sudahlah buang-buang waktu berdebat denganmu suamiku,dengan atau tanpa izinmu kami akan tetap pergi" Indah menantang.
"Kau mulai berani melawanku?? jika kau memaksa pergi kupastikan kau akan menyesal." Beni mengancam.
"Kau ini kenapa sih? kita hanya ingin liburan!!" Ika ikut bersuara juga,tak terima dengan ancaman suaminya.
"Liburan itu memerlukan uang bukan? dan aku sedang berusaha meminimalisir pengeluaran karena perusahaan sedang tidak baik" Beni akhirnya terpaksa berkata jujur.
"Apakah kau akan bangkrut?" tanya Indah dengan wajah datar.
"Seseorang ada dibalik ini semua,aku harus memulihkan perusahaan sebelum melakukan perhitungan dengannya" rahang Beni mengeras,mukanya merah padam menahan amarah.
"Seseorang? maksudmu ada yang berusaha membuatmu bangkrut?" tanya Indah.
"Ya,seseorang yang seharusnya ada diposisiku saat ini,harusnya dia yang sedang merasakan ini semua,tapu dia begitu licik sangat pandai membalikan keadaan" Beni berkata panjang lebar yang secara tidak langsung dia sedang mempermalukan dirinya sendiri didepan para istrinya.
"Jadi itu artinya senjata makan tuan?" Indah berkata dengan nada mengejek.
"Mukutmu sungguh tajam,apakah kau tidak berpikir jika aku bangkrut maka kau dan yang lainpun akan merasakan dampaknya? dasar wanita bodoh!!" umpat Beni.
"Bodoh? hahaha...kau yang bodoh disini Beni,jadi jangan menunjuk-nunjuk" ujar Indah.
__ADS_1
"Kau...??!!!"
Indah tak menjawab suaminya lagi dan berlalu menyeret koper-kopernya.
"Jika kalian tetap pergi maka jangan pernah kembali...!!!!" Beni geram karena ancamannya tak diperdulikan.
Ketiga wanita itu berhenti melangkah,Indah menoleh ke arah suaminya.
"Apa kau begitu takut kami tinggalkan?"
Tak ada jawaban dari mulut suaminya,hanya nafasnya yang memburu karena menahan amarah.
Indah melangkah mendekati Beni.
"Suamiku...aku dan kedua maduku hanya ingin refreshing saja tidak lebih" Indah membelai lengan lelakinya.
"Aku hanya bosan,dan butuh suasana baru,kami akan segera kembali...lagi pula masih ada satu istrimu disini bukan? dia akan mengurusmu saat kami tidak ada" lanjut Indah yang kini tangannya menyentuh rahang suaminya.
Cara itu berhasil menenangkan lelaki paruh baya itu,Indah memang selalu tahu cara menghadapi suaminya,bagaimanapun dia yang pertama membersamai Beni.
*
*
*
"Jangan biarkan siapapun menyuntikkan dananya pada perusahaan itu atau mereka akan berhadapan denganku"
"Sejauh ini mereka tunduk pada perusahaan kita tuan,tapi tuan Haris masih berpihak padanya." lanjut Jodi lagi.
"Biarkan saja,itu tidak akan membuat keadaan. perusahaan Beni lebih baik bukan?" Jodi hanya mengangguk mengiyakan.
Tok..tok..tok..
Jodi berinisiatif membuka pintu,nampak sekertaris Ken menyembul dari balik pintu yang tebuka.
"Maaf tuan,ada nona..."
"Hai Ken..." Agnes menyembul dari balik punggung Susan sekertaris Ken sebelum Susan selesai melapor.
Susan menepuk jidatnya mendapati gadis itu telah masuk keruangan Ken.Padahal dia menyuruhnya menunggu sebentar saat dia ingin melapor pada atasanya.
"Kau boleh pergi" ucap Jodi pada Susan,gadis dengan rok span hitam diatas lutut itupun mengangguk dan segera menghilang di balik pintu yang ditutup oleh Jodi.
"Ken,ini jam makan siang mari kita makan siang bersama,ada restoran baru yang katanya hidangannya enak,kau mau coba?"Agnes begitu antusias.
Ken memijit keningnya,menunduk dan tak menghiraukan ocehan Agnes.
__ADS_1
"Ken? apa kau sakit?" tanya Agnes mendapati Kenemijit keningnya dan sekarang juga memijit pelipisnya.
"Apa kau perlu pergi ke dokter?" Agnes mendekat dan berusaha menggapai wajah Ken.
Ken menepis tangan Agnes.
"Aku tidak apa-apa" Agnes terlihat kecewa dengan penolakan Ken tapi dia takkan menyerah.
"Bagaimana dengan makan siangnya? apa kau mau mencoba restoran yang ku bicarakan tadi?" Agnes masih tak menyerah.
"Aku banyak pekerjaan" Ken menolak seperti biasanya.
"Tapi kau harus tetap makan Ken kau bisa sakit nanti" Agnes memberikan perhatiannya,tapi Ken tak juga luluh dia malah makin jengah dengan situasi ini.
"Aku akan mentraktirmu bagaimana?" Agnes masih saja maju tak gentar.
"Aku tidak lapar" Ken tetap dingin tak tersentuh.
"Kenapa kau selalu menolakku??!!!" Agnes meninggikan suaranya,cukup membuat Ken terkejut,namun dia segera memulihkan expresinya.
"Kau selalu menjaga jarak denganku kenapa Ken kenapa???!!!" Agnes berteriak,namun Ken tetap memberikan tatap datar.
Jodi yang masih berdiri disana hanya menatap lurus kedepan tanpa expresi.Tak mendapatkan jawaban apapun dari mulut Ken,Agnes pun pergi dengan menghentakkan kakinya,sungguh emosinya meluap saat ini,kecewa dengan semua penolakan Ken.
Agnes keluar dari gedung Smith Group dengan muka kusut,sungguh cintanya tak pernah terbalas oleh Ken.Agnes masuk kedalam mobilnya dan membawa mobilnya keluar dari halaman parkir perusahaan raksasa itu.
"Apa kekuranganku hingga dia selalu menolakku??."
"Aku cantik,aku menarik banyak pria yang menyukaiku tapi kenapa susah sekali mengambil perhatianmu sih Ken?!!!!" Agnes terus mengumpat dalam mobilnya yang melaju.
"Aku harus mendapatkanmu bagaimanapun caranya,harus...!!!! walaupun dengan cara kotor sekalipun, kau harus jadi milikku Kenan Smith..!!!"
Mobil Agnes melaju dengan kecepatan tinggi,sungguh emosinya tak terkendali sejenak kemudian dia menghentikan mobilnya di tepi jalan.Dia berteriak didalam mobilnya meluapkan segala emosinya,tangannya tak henti melampisakan kekesalan pada kemudi mobil di depannya.
"Baiklah Ken,apapun caranya akan ku lakukan untuk mendapatkanmu lihat saja,kau akan jadi milikku..." seringai licik muncul di wajahnya,senyum tipis tersungging di bibirnya.
Entah apa rencananya.
"Sepertinya nona Agnes tidak akan menyerah tuan" Jodi memberanikan diri mengatakan yang ada dalam pikirannya.
"Bagaimana jika dia nekat dan membuatmu terjerat dengannya tuan?" lanjut Jodi.
"Itu akan jadi tugasmu untuk membuatnya tidak terjadi" Jawab Ken enteng.
"Sudah kuduga jawabanmu itu tuan,baiklah apapun untukmu tuan" gumam Jodi dalam hati.
"Jangan membicarakannya,itu membuat moodku memburuk" ujar Ken,Jodi pun terdiam urung melanjutkan sesuatu yang dia pikirkan tentang Agnes.
__ADS_1