
Naya tak tahan melihat adegan itu didepan matanya,hatinya terlalu sakit untuk masuk dan meminta penjelasan,dia memutuskan untuk pergi saja.
Rendi yang bingung dengan sikap Naya jadi penasaran apa yang terjadi sebenarnya,karena dia tadi ada dibelakang tubuh Naya.
Flash back on.
Rendi yang disuruh untuk makan siang duluan alhirnya memutuskan untuk turun kelantai dasar dan berniat pergi ke restoran didepan kantor Dawson Group,namun saat sampai di loby dia melihat Naya.
"Nona?." sapa Rendi.
"Aku membawakan makan siang untuk Jack." Naya menunjukan tas bekal makanan itu kearah Rendi.
"Kebetulan tuan memang belum makan siang,mari ku antar nona." ujar Rendi,dan Naya pun mengangguk.
"Rendi",
"Iya nona."
"Apa yang biasa dia makan saat makan siang?"
"Biasanya tuan meminta ku untuk membeli makanan dari restoran di depan kantor ini nona." jawab Rendi.
"Owh begitu,lalu apakah tadi kau ingin membelikan makan siang untuk Jack?."
"Tidak nona,tuan memintaku pergi makan siang sendiri,tuan berkata,akan memanggilku saat dia menginginkan makan siangnya."
"Kalau begitu pergilah."
"Aku akan pergi setelah mengantarkan nona,itu ruangan tuan,silahkan nona." ucap Rendi yang saat itu mereka telah sampai di lantai tempat Jack bekerja.
"Baiklah,kau boleh pergi." ucap Naya.
"Maaf nona,aku akan memastikan kau masuk dengan aman ke ruangan itu."
"Astaga Rendi,aku hanya perlu membuka pintu dan masuk,tidak mungkin kan ada musuh kalian disini?. ujar Naya yang kemudian membuka pintu ruangan Jack yang tak tertutup sempurna.
Saat pintu terbuka separuh,Naya menjatuhkan bekal makanan itu dan membuat Rendi terkejut,belum sempat dia bertanya Naya telah berlari pergi bahkan sebelum masuk ke ruangan Jack.
Flash back off...
Rendi yang bingung dengan sikap Naya segera melongokan kepalanya ke dalam ruangan Jack dan alangkah terkejutnya dia mendapati pemandangan didepannya.Sebuah kejutan yang sungguh menyakitkan bagi Rendi dan Naya,karena memang Rendi menyukai Sherly.
"Tuan..."
Sontak Sherly pun segera bangkit dan itu mebuat Jack punya kesempatan untuk bergerak dan mendorong tubuh Sherly.
"Beraninya kau...!!!" Jack terlihat sangat murka.
Sherly tampak sedang membenahi pakaiannya yang acak-acakan.
__ADS_1
"Bawa dia ke markas...!!!" ucap Jack dan langsung di turuti oleh Rendi.
Rendi membawa Sherly keluar,setelah sebelumnya dia menghubungi orang-orangnya untuk membawa Sherly ke markas seperti yang dia perintahkan tadi.
"Tuan...."
"Jangan berpikir macam-macam,aku tida pernah menginginkannya,semua itu terjadi begitu cepat." potong Jack.
"Tapi tuan...nona Naya tadi kesini...."
"Apa??? dimana dia sekarang??!!!" Jack panik.
"Nona pergi tuan..."
"Apa dia melihatnya??" tanya Jack lagi,dan Rendipun mengangguk.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi????!!!!!!" Jack segera berlari keluar ruangan,mengejar Naya dan berniat menjelaskan segalanya,bahwa yang dia lihat tadi bukan seperti yang dia bayangkan.
Namun sial bagi Jack,dia tak menemukan Naya di gedung perusahaannya,dia mengusap wajahnya dengan kasar,pikirannya kalut.Jack berlari keluar dari loby,terlihat mobil yang membawa Naya baru keluar dari pintu gerbang gedung megahiliknya itu.
Segera dia mencari ponselnya dibalik saku jasnya,Jack menghubungi Rendi.
"Turun dan sekarang dan siapkan mobil,aku akan pulang sekarang." ucap Jack saat sambungan telepon tersambung,tanpa menunggu jawaban Rendi,Jack mematikan panggilannya.
Tanpa lama menunggu Rendi telah siap dengan mobilnya,Jack segera masuk dan memyuruh Rendi segera pergi menyusul Naya.Mobil yang di tumpangi Naya tak terlihat lagi,Jack tak sabar ingin segera sampai di mansionnya.
"Rendi apa kau tuli??!! aku ingin lebih cepat..!!!"
"Tuan,tapi ini sudah cepat."
"Kau berani menjawabku???!!!"
"Maaf tuan,tapi jalanan memang sangat padat dan kita.."
"Aku tidak perduli...!!! aku ingin cepat sampai ke mansionku kau dengar itu!!"
"Astagaaa....andai saja aku punya sayap maka akan terbang meninggalkanmu disini ...!!! bukankah kau juga lihat saat ini jalanan sedang macet??"
"Jangan mengumpatku dalam hati...!!!" teriak Jack.
Deggg!!! Rendi tak menyangka jika tuannya tahu jika dia sedang mengumpat.
"Cih..indra ke 6 mu sungguh luar biasa tuan."
"Aku akan membunuhmu jika kau masih mengumpatku...!!!"
Degg!!!!! Seketika Jack menelan ludahnya,dan kembali fokus dibelakang kemudi.
Tiga puluh menit berlalu Jack sampai di depan mansion,dia segera turun dari mobil dan masuk ke dalam mansion.
__ADS_1
Bi Asih terkejut melihat tuan mudanya datang tergesa.
"Tuan..."
"Dimana Naya bi?"
"Bukankah nona pergi ke kantor tuan?"
"Tapi dia sudah pulang bukan?" tanya Jack lagi.
"Tidak tuan,nona belum pulang,supir yang mengantar bilang nona meminta supir meninggalkannya karena nona bilang dia akan pulang bersamamu." keterangan bi Asih sungguh membuat Jack semakin frustasi.
"Apakah tuan tidak bersama nona?"tanya bi Asih lagi.
"Aaaaakkkkkhhh....!!!!!" Jack berteriak dan menendang udara.
"Kerahkan orang-orang kita untuk mencari Naya,kita pergi sekarang" Jack memberi perintah.
"Baik tuan." Rendi segera menjalankan semua perintah tuannya,lalu kembali ke mobil dan melajukannya untuk mencari keberadaan Naya.
.
.
.
Di bawah sebuah pohon di tepi danau buatan,terlihat seorang gadis yang tengah duduk dengan wajah muram,air mata sesekali menetes dari pelupuk matanya.Beberapa kali juga gadis itu tampak menghapus air matanya dengan telapak tangannya.
Gadis itu adalah Naya,baru tadi pagi dia merasa permintaan Jack begitu tulus padanya,pelukan dan ciuman dikeningnya masih teringat jelas di kepalanya,hal yang sangat membuat dirinya begitu berharga dan merasa begitu dicintai.Tapi sejenak kemudian semua itu hancur berantakan,kepercayaannya dihianati didepan matanya.
Naya memegangi dadanya yang sesak,tak ada kata yang bisa dia ucapkan untuk menggambarkan rasa sakit di dadanya.
Pemandangan yang menyakitkan itu terus saja beeputar di kepalanya,tak pernah menyangka jika Jack akan tega melakukan itu padanya.
"Kenapa sesakit ini..." lirih Naya masih memegangi dadanya yang sesak.Tanpa Naya ketahui sepasang mata tengah memperhatikannya dari bangku yang terletak beberapa meter dari tempatnya.
Lama mata itu mengamati Naya yang kini tengah menangis di tepi danau buatan di sebuah taman kota.
Naya yang tak mengetahui keberadaan sepasang mata yang mengawasinya itu masih asyik terduduk ditempatnya,tangisnya tak lagi menderu walaupun masih terdengar isakan sesekali air mata masih juga luruh di pipinya.
Sebuah tangan terulur memberikan sebuah saputangan putih dari arah samping.Seketika Naya menoleh kearah pemilik sapu tangan itu,dan tatapan mereka pun beradu.
Tatapan mata yang begitu teduh dan menyiratkan kerinduan yang begitu mendalam.
Sepasang mata yang sangat familiar dan diam-diam membuat Naya mengingat segala kejadian yang mempertemukan mereka.
"Tuan..." ucap Naya akhirnya,dan pemilik mata teduh itu hanya tersenyum dengan masih mengulurkan saputangan putih miliknya.
Bersambung......
__ADS_1