
Happy reading πΌπΌπΌ
...
Sang ustadz yang semenjak kedatangan Dian di kediamannya, makin tak henti-hentinya ingin segera mengutarakan niat baiknya kepada orang tuanya.
"Baiklah, aku sudah siap" ucapnya kepada diri sendiri di depan kaca kamarnya.
Menuruni anak tangga untuk menghampiri Abi dan Umi nya terasa berat ia lakukan.
"Pasti Abi nanti mengejekku" gumam nya
"Ah sudahlah, nanti keduluan orang lagi"
_____
"Ngapain berdiri disitu?" Sini!!! perintah Umi
Kemudian Abdar mendekati mereka, duduk di sebelah Abi.
"Bi, Umi... Ada yang ingin Abdar bicarakan" ucapnya memulai obrolan
"Katakan" jawab Abi
"Khitbah kan Dian untuk Abdar"
Entah seolah kata kata itu yang langsung keluar dari mulutnya, tanpa ia pikir terlebih dahulu.
"Masya Allah" ucap Umi histeris ditambah kaget
Abdar yang mendengar jawaban Umi nya yang seperti itu langsung menundukkan kepalanya.
Abi langsung berpindah tempat mendekati anak semata wayangnya itu.
"Syukurlah, jika itu keputusan mu dan kau sudah melupakan wanita masa lalu mu... Besok kita langsung kesana" jawab Abi seraya menepuk pundaknya
__ADS_1
Mendengar jawaban Abi nya membuat Abdar langsung menegakkan kepalanya.
"Abi, Umi ini serius?" jawabnya seraya tak percaya mencoba meyakinkan dirinya sendiri
"Untuk apa kami bercanda? Umi pasti bakalan senang jika gadis itu yang menjadi menantu nya... Iyakan Umi?" tanya Abi
Umi hanya mengangguk tanda setuju.
Abdar yang mendengar penuturan orang tuanya tersenyum puas
Setelah Abdar kembali ke kamar...
"Alhamdulilah, niat baik ku diterima oleh orang tuaku. Semoga ini awal yang baik"
"Gadisku, tunggu aku" ucapnya dengan diri sendiri
Keesokan harinya...
Sesuai janji Abi dan Umi, esoknya benar mereka bersiap untuk mengutarakan niat baik putra mereka.
"Kan dari madrasah deket Bi" jawab Abdar
"Eh, kan Abi cuma nanya"
Sedangkan di rumah Surya...
"Apa aku temuin aja ya?"
"Tapi buat apa?"
"Aduhh"
Menggaruk kepalanya yang sebanar tak gatal, seolah bingung langkah apa yang selanjutnya ia lakukan.
"Udah, kalau suka bilang langsung aja.. Takutnya keduluan orang nanti panik"
__ADS_1
"Panik gak? Paniklah masak ngga"
"Astaga anak ini, dikasih tau ibunya ya"
"Hehehhe maaf Bu" jawabnya tersenyum
"Lagian Bu, kalau mau nemuin temuin dimana? Rumahnya aja gak tau, cari di sosial media nya gak ketemu" jawabnya sedikit putus asa.
"Haduhh, kaya gitu nyerah" ucap ibunya sedikit meremehkan anaknya itu
Kemudian, Surya yang langsung terfikir dengan kata kata ibunya. Benar juga, kalau keduluan orang gimana?
Tapi bingung, tak tau arah seakan ia mati langkah untuk maju.
"Selalu ada saja yang seperti itu, tapi ada benarnya juga sih. Apa memang sebaiknya aku katakan saja?"
Di pesantren Nur-Huda,,
Ummah yang mendapati anak sulungnya tengah melamun, memang Farhan memiliki seorang adik, tetapi sudah lebih dulu menghadap ke pencipta nya saat berumur 6 tahun.
"Farhan, mikirin apa?" tanya Ummah nya
"Tidak ada Ummah" jawab nya mengelak
"Jangan bohongi Ummah mu"
"Maaf Ummah, saat berkunjung ke madrasah Abi Farhan menemui seorang gadis. Ntah apa yang terjadi dengan perasaan Farhan setelah itu" jawab nya lesu
"Kau mengenalnya?" tanya Ummah
"Iya Ummah, saat hendak pulang Abi memperkenalkan ia kepadaku.
Assalamualaikum....
Dukung karya pertama author ya, mohon maaf jika masih ada salah penulisan atau lainnya nanti akan author revisi πππ
__ADS_1
Mohon dukungannya dan jangan lupa tinggalkan jejak π**