
Happy reading
.
Kok masih gini gini aja thor? Sabar ya sayang, kalau misalkan author langsung kelarin sad/happy ending kan episodenya jadi dikit, ngejar cuan juga bun 😩
Abdar yang sore itu selesai menyelesaikan pekerjaan nya akan beranjak pulang dari pesantren...
Saat di jalan pulang, tiba tiba seorang wanita datang mengehentikan mobilnya. Untung saja tidak tertabrak, kalau iya?
😱
Hehe lanjut
"Kok kaya kenal, siapa dia?" batin Abdar
Abdar terus memperhatikan wanita yang menghampiri mobilnya, terlihat seperti gelandang tapi parasnya cantik... Mana mungkin Arra, iya kan?
"Tunggu? Arra??"
"Astagfirullah, kenapa Arra jadi begini?"
"Hhhh, ini Abdar ya? Kau tampan sekali" layaknya orang gila Arra yang tengah itu tengah mengalami drop mentalnya bergeliat tidak tahu malu di pinggir jalan
"Aku menyesal meninggalkanmu dulu,, ayo kita menikah sekarang" sambil memegang pergelangan tangan Abdar yang sudah geli sendiri menyaksikan kondisi mantan nya kini
__ADS_1
Dekil, kumuh, dengan baju yang sudah tak layak pakai. Mungkin gitu kali ya deskripsi in nya wkwkwk
Abdar dibuat terkejut dengan kedatangan beberapa lelaki berseragam putih disana, mau apa mereka?
"Permisi pak, ini pasien kami yang kabur tadi pagi.. Bapak siapa ya?" tanya salah satu dari lelaki itu
"Pasien?"
"Benar pak, wanita ini di jebloskan ke Rumah Sakit Jiwa karena diketahui terang terangan membunuh temannya di sebuah apartemen. Kemudian di bawah dugaan polisi wanita ini di perkirakan mengalami kelainan jiwanya, kan kami juga menyadari itu terkadang tiap malam dia juga meracau menyebut nama Abdar"
"Baiklah pak, silahkan bawa dia kembali"
Kemudian petugas itu menyeret paksa tubuh kurus Arra dan pergi dari sana.
"Bagaimana bisa Arra masuk Rumah Sakit Jiwa? Dan kemana suaminya? Bukankah dia sudah menikah dan pindah ke tempat lain? Kenapa bisa ada di sini?"
Lamunannya kemudian terbuyarkan karena dari belakang terdengar bunyi klakson mobil yang juga ingin melintas...
Hadeuh babang kalau melamun g inget tempat ya..
"Ada apa?" tanya Umi setibanya Abdar tiba di rumah
"Arra Umi... Dia.."
"Jangan gugup, ayo Umi dengerin"
__ADS_1
"Dijalan tadi aku bertemu dia, tetapi penampilan nya mirip seperti pengemis... Dan tanpa tau malunya dia bilang ingin menikah lagi denganku, dia bilang dia menyesal meninggalkan ku dulu"
"Lalu? Apa yang kau pikirkan? Apa kau juga menyesal tidak menerima permintaannya?
"Tidak Umi, dengarkan dulu"
"Lanjutkan"
"Umi tau apa siapa yang datang? Petugas Rumah Sakit Jiwa..."
"Jadi dia pasien RSJ?"
"Kok ekspresi Umi biasa aja ya? Gak ada kaget kagetnya?" gumam Abdar dalam hati
"Lagian kenapa Umi harus kaget? Sudah makan dulu..." kemudian Umi beranjak pergi
"Hah apa apaan ini? Sejak kapan Umi bisa bisa baca pikiran? Wah bahaya nih"
Sejujurnya baca pikiran memang biasa di lakukan oleh orang yang ahli, ibarat kata "profesional", cuma ada beberapa sumber yang menyebutkan apa yang pikirkan oleh seseorang bisa ketahuan dari gelagatnya...
"Dasar anak labil" gerutu Umi memasuki kamar
"Umi, datang datang kok ngomel.. Ada apa sini cerita" kata Abi membelai kepala istrinya yang terbungkus oleh hijab
Tanpa ba,bi,bu lagi Umi menceritakan apa yang Abdar alami tadi...
__ADS_1
"Dan anak nakal itu mengira Uminya ini bisa membaca pikiran.. Teori dari mana itu Abi" protes Umi
"Hahah,, ada ada aja... Lagian sekarang untuk apa kita memikirkan itu... Pikirkan saja bagaimana readers tidak meneror author buat crazy up" ðŸ˜