
Happy reading πΌπΌπΌ
...
Mohon maaf buat readers setia, memang di episode kemarin author lebih pengen cerita si Arra gimana perasaan dia kehilangan Abdar wkwkwk...
Stay tuned teruss oke ππ
____
"Ngomong ngomong Dian dimana Bu?" tanya Abdar
"Dia sedang mengantar kue buatan ibu, memang kami titipkan di warung depan. Karena dari situ mata pencaharian kami nak, selain dari dia mengajar madrasah di tempat bapak" jelas Ibu Ida
"Sebelumnya mohon maaf, kami lupa memperkenalkan diri. Saya Husain dan ini istri saya Ratna" ucap Abah memperkenalkan diri
"Sepertinya saya tidak asing dengan nama bapak" jawab Bu Ida sedikit mengingat
"Benar, dulu saya berkawan baik dengan Syarif"
"Dan ia pernah bercerita bahwa ia sangat menyayangi anak perempuan semata wayangnya"
"Saya juga kaget mendengar dari Dian bahwa ayah nya telah tiada" jelas Abi
Ibu Ida yang mendengar penuturan dari Abi hanya bisa menunduk kepala. Lagipula untuk apa menyesalkan takdir bukan? Kemudian Umi mendekati seolah menguatkannya bahwa ia tak sendiri an.
"Assalamualaikum" suara merdu itu yang membuat semua orang menatap ke arah pintu
__ADS_1
"Waalaikumsalam" jawab mereka berbarengan
Seolah wajah polos itu membuat Abdar tak berhenti menatap, hingga sampai Dian selesai menyalimi semua orang dan duduk di sebelah Umi.
"Mohon maaf Abi, Umi, Ustadz ada perlu apa kalian kemari?" tanya Dian yang seolah bingung
"Tidak ada neng, kami hanya ingin menyambung silaturahmi saja. Tidak salah kan?" jawab Abi
"Tidak bi, silahkan di minum. Maaf hanya ada ini saja yang bisa kami sediakan" ucap Dian mempersilahkan tamu nya
"Tidak perlu repot repot neng" jawab Umi
Menanggapi jawaban Umi hanya membuat Dian tersenyum dan terlihatlah 2 lubang di pipinya membuat Abdar cepat cepat menundukkan kepalanya.
"Ya Allah, maafkan hamba telah zina mata dengan seseorang yang bukan mahram hamba" kata Abdar dalam hati
"Baiklah, sudah mulai sore juga. Kami rasa kami pamit dulu. Kapan kapan ibu sama Dian mampir ke rumah ya" kata Umi
Abdar yang merasa keheranan, menyenggol lengan Abi.
Abi yang tak merespon apapun mengerti dengan maksud putra nya itu.
Setelah berpamitan dan memasuki mobil, Abdar mengeluarkan keluh kesah nya.
"Abi bagaimana?"
"Kau juga baru mengenal nya tidak mungkin jika langsung mengkhitbah nya bukan?" kata Umi padahal itu memang rencana Umi dan Abi agar Abdar sedikit bersabar
__ADS_1
"Bukankah itu bagus?" tanya Abdar lagi
"Bagaimana jika ia menolak dengan alasan belum mengenal mu?" jawab Abi yang membuat Abdar Dian seribu bahasa dan tak henti-hentinya berpikir
"Bersabarlah... Minta kepadanya, jika ia untuk mu ia tak akan kemana mana" jawab Umi yang langsung mengena ke hati Abdar
"Jika ada orang yang lebih dulu bagaimana?" tanya Abdar lagi
"Percayalah, sesungguhnya Allah tengah menyiapkan yang lebih baik dari nya" jawab Umi lagi
Setelah sampai di rumah...
"Loh, ustadz Hasan telepon"
"Angkat saja dulu" kata Umi
"Assalamualaikum" ucap ustadz Hasan di seberang telepon
"Waalaikumsalam, wah ustadz tumbenan menghubungi saya" ucap Abi sedikit bercanda
"Kita sudah lama tidak bertemu, mampir ke rumah sekali kali dengan keluargamu kita makan bersama"
Ajakan Ustadz Hasan yang langsung di iyakan oleh Abi
Assalamualaikum....
Dukung karya pertama author ya, mohon maaf jika masih ada salah penulisan atau lainnya nanti akan author revisi πππ
__ADS_1
Mohon dukungannya dan jangan lupa tinggalkan jejak π**