Ustadz Tampan Pemikat Hati

Ustadz Tampan Pemikat Hati
Menyakitkan, tapi selamat


__ADS_3

Selamat hari Selasa yuhuuu


Agak sedikit ngedown ya, istilahnya author baru saja "di langkahin" sama saudara yang lebih muda. Dan kalian tau mulut netizen indo? huu pedas pedas bun. Kamu kapan, bla bla bla... Cuma ya udah lah ya, wkwkwkw


Lanjut


Happy reading.


"Kenapa kau meminta waktu? Bukankah kau juga menyukainya?" tanya Ibu Ida selepas keluarga tersebut pulang dari rumahnya


"Ibu, apa ini mimpi?" tanya Dian seolah tidak percaya


"Ini nyata..." jawab Ibu Ida memeluk anak gadis nya


"Tapi bu, mana mungkin dia benar benar menyukaiku? Aku takut"


"Kenapa kau jadi ragu?"


"Karena kami berbeda bu. Lihatlah, dia begitu tinggi sedangkan aku?


Dia lulusan sarjana, aku hanya Sekolah Menengah."


"Kau percaya dengan yang namanya takdir?"

__ADS_1


Dian tidak bergeming...


"Setinggi apapun dia dan serendah apapun kau, jika takdir sudah menetapkan demikian apa yang bisa kalian lakukan?"


Tidak perduli seperti apapun dirimu, orang yang tulus denganmu tidak akan melihat itu. Baginya, kau tetap yang terbaik sekalipun orang lain tidak memandang begitu.


"Terimakasih bu, Dian sudah memutuskan" jawabnya dengan mantap


3 Hari kemudian..


"Bagaimana Nak?" tanya Umi yang sudah mulai tak sabar


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mas Abdar karena telah mempercayakan hati kepada saya. Terima kasih telah memantapkan hati untuk melamar saya. Bismillahirrohmanirrahim, atas ridho dari Allah SWT yang diiringi dengan restu dari Ayah dan Ibu serta keluarga besar… Lamaran dari mu akan aku terima"


"Alhamdulillah" ucap semuanya serentak


Dian Pov*


Setelah resmi menjadi calon istri dari Ustadz Tampan itu, hari hariku berubah drastis. Calon ibu mertua yang sangat baik dan menyayangi ku dan juga calon ayah mertua yang menganggap ku sebagai anak kandungnya sendiri juga tidak membeda bedakanku sama sekali.


Sangat bersyukur karena di pertemukan oleh keluarga yang begitu hangat ini, sesaat aku teringat lagi dengan Ayah yang pasti juga sama bahagia nya dengan ku di atas sana.


"Ayah, maaf aku menduakan mu. Aku dulu bilang bahwa pasti tidak akan ada laki laki yang mencintai ku lebih dari mu, tapi aku salah." rasanya aku seperti anak remaja yang curhat dengan nya

__ADS_1


Dan kalian tahu? 2 bulan kemudian resepsi pernikahan kami akan di gelar. Itu waktu yang sangat cepat.


Author di undang gak nih?


Hari itu, aku pergi ke supermarket yang sama seperti beberapa episode lalu. Dan ya, kembali menemui Mas Surya disana. Takdir seperti apa lagi ini?"


"Kita bertemu lagi ya" sapa Surya dengan senyum manisnya


Sepertinya dia salah fokus dengan cincin yang ku kenakan, hingga akhirnya dia melempar pertanyaan


"Cincin apa itu?"


"Saya sudah di lamar oleh seorang laki-laki mas, dan dua bulan lagi kami akan menikah.. Mas jangan lupa hadir ya, ini undangan khusus dari saya loh" aku tertawa kecil menjawabnya


Dari raut wajah nya menunjukkan dia tidak senang atas berita ini, jangan bilang mas Surya juga menyukai ku? Apa aku yang terlalu pede? wkwkwk maaf ya


"Selamat ya, insyaallah saya akan datang. Kalau begitu saya permisi, assalamualaikum"


"Mas Surya tidak apa apa?" tanyaku memastikan


"Tidak, saya permisi. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"

__ADS_1


Biasanya tidak seperti itu, entahlah.


Haduh sampe ngucap salam dua kali ya wkwkwk


__ADS_2