
Happy reading πΌπΌπΌ
...
Halo, author come back πΉ pada kangen gak nih?
Masih setia nunggu kan? Wkwk, belakangan author baru pulih.
Jangan lupa jaga kesehatan ya, tetep patuhi prokes juga π
Btw episode kali ini pendek dulu ya, kegiatan author makin padat soalnya πΉπ
Cekidot
____
"Kak Surya hari ini balik ke kapal, sebelumnya kakak bilang nitip salam sama mbak semoga mbak masih sama kak Surya meskipun dia gak disini"
"Masyaallah, terimakasih ya" kata Dian lagi
"Iya mbak, ayo pulang"
Mereka kemudian pulang ke rumah masing-masing.
Di perjalan pulang, Dian sempat terpikir apa maksud Aina mengatakan bahwa Surya berharap semoga dirinya masih bersamanya saat ia tak disini?
"Ah halusinasi doang kali ya"
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum" Dian seraya memasuki rumahnya
"Waalaikumsalam" teriak Bu Ida dari arah dapur
"Makan dulu sini"
__ADS_1
Kemudian mereka makan bersama dan Dian menceritakan apa yang ia lalui, tanpa ia kurangi atau ia tambah.
"Mungkin lelaki itu hanya menganggap mu sebagai teman, tidak kurang dan tidak lebih"
"Iya Bu, Dian juga berpikir seperti itu"
Dian kemudian memasuki kamarnya, dan melaksanakan kewajibannya nya.
Juga mendoakan mendiang ayahnya, yang sudah lebih dulu pergi.
Dian sebenarnya memiliki kebiasaan sebelum dia tidur, yaitu berbicara dengan dirinya sendiri. Begitupun dengan malam itu.
"Aku kan bukan siapa siapanya Mas Surya, begitupun ustadz Abdar tetapi kenapa tingkah laku mereka begitu?"
"Apa jangan jangan?"
Dian sudah senyum senyum sendiri membayangkan nya.
"Ah gak mungkin, Ayo Dian sadar" katanya menepuk pipinya sendiri
Dan ia melanjutkan aktivitas nya ke alam mimpinya.
Di Madrasah...
Hari hari kemudian mulai berjalan seperti biasa, hingga pada suatu hari Ayah Ahmad dan Ummah Ratna begitupun Farhan memutuskan untuk mengunjungi kediaman Abi dan Umi, dan mereka sampai sore hari.
Pada saat mereka sampai disana, bertepatan pula dengan Abdar yang akan berangkat ke rumah makan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, ayah... Ayo masuk"
Kemudian mereka masuk ke dalam...
"Abi, Umi lihat siapa yang datang" kata Abdar
__ADS_1
Mereka kemudian ber cipika-cipiki ala ala π
"Maaf ya, Abdar gak bisa lama lama nih masih ada urusan" seru Abdar
Abdar lalu berpamitan kepada semua orang.
"Abi juga, mau ke madrasah dulu"
"Farhan ikut ya Bi"
Kemudian Ayah Ahmad berdehem seakan mengerti apa yang dipikiran anaknya.
"Ayah..." tegur Ummah
"Boleh, yuk"
Farhan dan Abi kemudian berjalan ke arah garasi rumah
"Bi, kita pakai motor aja yuk biar Farhan yang bawa"
"Boleh, Abi juga sudah lama tidak naik motor. Eh Han, memangnya kamu punya SIM?"
"Abi tenang saja, yuk keburu makin sore nanti makin gelap"
"Ayok, hati hati bawanya ya Han, nanti lecet"
"Tenang saja Abi, Farhan lebih jago daripada Valentino Rossi" kata Farhan sambil mengeluarkan motor
Farhan memang lebih terkesan hangat daripada sifat Abdar yang cenderung dingin. Dari kecil mereka sudah tumbuh dan dibesarkan bersama sama meskipun hanya selisih 4 tahun, saat mereka beranjak dewasa sifat mereka muncul masing masing.
Assalamualaikum....
Dukung karya pertama author ya, mohon maaf jika masih ada salah penulisan atau lainnya nanti akan author revisi πππ
Mohon dukungannya, tap favorit biar kalian tau kalau author sudah up.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote juga ya...π