Ustadz Tampan Pemikat Hati

Ustadz Tampan Pemikat Hati
Baby


__ADS_3

Happy reading...


Setelah satu minggu di rawat di rumah sakit pasca kecelakaan yang menimpa ibu Ida, akhirnya beliau di nyatakan pulang dan bisa kembali ke rumah secepatnya.


Seperti yang diketahui di episode sebelumnya, ibu Ida di ketahui telah dengan sengaja di celakai oleh seseorang yang Dian mengira orang itu adalah lelaki yang dia tolak cinta dan keinginannya untuk menjadikan Dian sebagai istri keduanya. Mengingat dia dan ibunya tidak pernah mengusik siapapun, jadi siapa lagi? Tetap saja, suaminya yang tampan ini selalu mengingatkan untuknya jangan berburuk sangka kepada orang lain, karena juga untuk apa? Belum tentu dia orangnya bukan?


*


"Sayang, tumben lama dapetnya?" tanya sang suami


"Hmm, dapet apa mas?" tanya Dian kebingungan atas pertanyaan yang di ajukan suaminya


"Itu, palang merahnya"


Hah? Benar juga, kenapa tidak terpikirkan?


Sesaat mulut dan jarinya saling beradu di atas kalender kecil di tangannya.. Hah, apa aku lagi isi?

__ADS_1


Dian bergegas berganti pakaiannya dan meminta suaminya untuk mengantarkan ke apotik terdekat. Kemudian keduanya membeli benda pipih yang banyak di beli oleh pasutri lain.


Tebak apa yang terjadi setelah sampai dirumah? Benar, benda pipih itu menunjukkan dua garis yang terlihat samar disana. Sang ustadz yang terlihat sangat senang karena sekarang statusnya sudah menyandang gelar calon ayah.


"Besok kita periksa ke dokter ya..." kemudian di angguki oleh sang istri


Keduanya sepakat untuk tidak memberitahu orang rumah dan merahasiakan dahulu berita menggembirakan ini. Hitung hitung membuat kejutan, yakan?


**


"Ntar jawabnya gimana kalau kita pamitan? Masa mau bohong? Mending langsung pergi aja kan?"


Benar juga..


Keduanya langsung mengambil nomor antrian untuk kemudian di rujuk ke ruangan tempat dokter kandungan.


"Selamat ya pak, bu... Kehamilan nya sudah berusia lima Minggu" kata dokter dengan matanya yang terfokus pada monitor kecil di depan

__ADS_1


Sedikit berkonsultasi, mau tidak mau sang ustadz menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya..


"Ee, anu dok... Kalau buat begituan, gimana? Masih dibolehkan tidak?"


"Ih, mas.. malu tau" ujar Dian menyenggol lengan kekar di sampingnya


"Tidak apa apa bu, pak.. Memang masih rentan untuk berhubungan dengan kandungan yang masih muda, masih di bolehkan tetapi jangan terlalu sering juga jangan terlalu keras. Jika kandungan sudah memasuki usia tujuh bulan justru di sarankan karena akan lebih mudah membuka jalan lahir bagi bayi" *kalau salah koreksi jawab si dokter


Senyum bahagia tak henti-hentinya luntur dari wajah kedua sejoli itu, setelah tiba di rumah keduanya tidak menunda untuk memberitahu kabar bahagia ini kepada semua orang. Jangan tanya bagaimana reaksi calon kakek dan nenek itu. Nasihat dan saran juga banyak keduanya terima dari ibu maupun mertua masing masing.


Kehamilan pertamanya sangat berkesan hingga saat mengadakan acara tujuh bulanan di pesantren tempat Ummah dan Ayah sang suami sembari di doakan pula oleh santri dan santriwati disana.


Hingga akhirnya tiba saat usia kandungannya yang ke sembilan bulan, perut besarnya makin susah untuk tidur, mual yang sudah menghilang seiring berjalannya waktu, juga dengan tidak adanya drama ngidam dan ini sangat di sesali oleh Abdar. Sebagai suami dia ingin di repotkan oleh sang istri dengan ngidam itu, tetapi bagaimana lagi? Sepertinya sang baby akan menjadi anak yang mandiri bukan?


Terdengar tangisan bayi dari dalam ruangan tersebut setelah kurang lebih empat puluh lima menit tertutup dengan satu dokter, dua perawat sekaligus suaminya di dalam sana yang membuat semua orang yang menunggu di luar bisa bernafas lega.


"Akhirnya, cucu kita sudah lahir" seru keduanya

__ADS_1


__ADS_2