Ustadz Tampan Pemikat Hati

Ustadz Tampan Pemikat Hati
Aku masa depanmu


__ADS_3

Happy reading...


Selamat malam Jumat wkwkwk


"Maaf, tetapi aku tidak bisa menerimamu?" ujar gadis itu dua tahun lalu


"KENAPA?!.. Apa karena seorang wanita yang menunggu ku dirumah dan berstatus istri ku itu" lelaki tersebut berbicara dengan nada tingginya


Ardiyanto Fajri, lelaki dewasa dengan kini pekerjaan nya yaitu sebuah admin di salah satu perusahan yang bergerak pesat setelah beberapa tahun terakhir terlihat mendatangi sebuah rumah untuk meminang seorang gadis di dalamnya. Sayangnya, ia tidak ingat betul apa statusnya kini. Yakni masih sebagai suami orang dan juga memiliki putra dari pernikahannya.


*Flashback off


"Apa yang kau pikirkan sayang?" tanya Abdar membuyarkan lamunan istrinya


"Mas, menurutmu apakah penting untuk seseorang menceritakan masa lalu kepada pasangannya yang sekarang?"


Dian bertanya dengan penuh harap, sebenarnya ini cukup menanggung pikirannya.


"Tidak."

__ADS_1


Tidak? Benarkah? gumamnya menatap dalam wajah tampan suaminya... kenapa tidak?


"Baik atau buruknya masa lalu selamanya juga akan tetap menjadi masa lalu, kau simpan saja dan untuk sekarang biarkan aku yang menjadi masa depan mu"


Bagai merasa di terpa angin yang lembut, mengapa bisa suaminya berpikir sejernih itu. Tetapi pikirannya tetap tidak bisa di bohongi.


"Aku akan menceritakan sesuatu kepada mu, Mas. Mohon untuk tidak memotong pembicaraan ku sebelum aku selesai, oke?"


Abdar pun mengangguk kepala tanda setuju.


"Saat umur ku sembilan belas tahun, seorang lelaki datang ke rumah. Dia menemui ibu waktu itu, dan tidak di temani siapa siapa. Dia adalah salah satunya orang yang bisa bekerja kantoran di daerah rumah saat itu. Berita tentang pekerjaannya juga sudah terdengar ramai ke tetangga dulu, apalagi pernikahannya yang di gelar dengan mewah di sebuah gedung tengah kota" ujar Dian dengan wajah seriusnya


"Tetapi siapa sangka, dia datang ke rumah kala itu untuk memintaku dan berniat ingin menjadikan ku istri ke duanya. Lalu, dengan tegas ku jawab bahwa aku tidak bisa, bagaimana nasib istrinya jika dia tau hal itu?"


Dian lalu menceritakan bahwa lelaki tersebut juga memarahinya karena menolak lamarannya, katanya dia akan menceraikan istrinya untuk bisa bersama membina rumah tangga dengan Dian.


"Seminggu setelah itu, saat sesudah aku pulang dari warung untuk menitipkan dagangan ibu. Dia kembali menemuiku"


"Lalu apa yang dia lakukan?" tanya Abdar penasaran

__ADS_1


"Dia bilang bahwa dia akan pindah rumah dan tidak tinggal di sini lagi. Tetapi, satu hal yang selalu ku ingat bahwa dia juga mengatakan untuk menceraikan istri pertamanya dan ibuku.." ucapannya terhenti mengingat air mata nya sudah tidak bisa di bendung lagi saat menceritakan hal itu


"Aku takut, mas.. Hikss" Dian terisak dan langsung memeluk tubuh bidang suaminya


"Jadi, kau mengira jika yang mencelakai ibu adalah pria itu?"


"Aku tidak mau berburuk sangka, mas. Tetapi, siapa lagi? Kami juga dulu hidup tidak pernah mempunyai masalah dengan orang manapun" ujarnya


Mereka berdua di kejutkan dengan suara monitor di rumah sakit yang menunjukkan hanya garis datar yang lurus saja. Seolah memperlihatkan sudah tidak adanya kehidupan di tubuh yang terbaring lemah di atas ranjang kamar rumah sakit itu.


..


"Tenang saja, masih ada Umi dan Abi bersamamu... Jangan berpikir kalau kau sendiri saja ya"


Umi memeluk erat tubuh menantunya yang mulai terlihat kurus itu, tiga hari setelah pemakaman ibunya, Dian seolah sudah berubah seperti bukan dirinya. Tidak ada Dian yang ceria, hanya ada murung sedih dan tangis.


"Kau tidak apa apa, Nak?" tanya Abi


"Tidak apa, Bi. Maaf Dian terlalu banyak mendiamkan kalian semua" lirihnya

__ADS_1


Mereka memahami betul bagaimana perasaan menantu kesayangan nya ini, saat sudah tidak punya lagi sosok orang tua yang menemaninya.


__ADS_2