Ustadz Tampan Pemikat Hati

Ustadz Tampan Pemikat Hati
Pria aneh


__ADS_3

Happy reading...


"Hah? Gimana?" gumam Arra menyadari bahwa lelaki itu tengah menyinggung nya


Ia hanya memandangi punggung itu hingga lama lama menghilang. Sejenak ia berpikir, apakah lelaki itu seorang yang memiliki kelebihan? Hingga tau banyaknya masalah dan beban yang dirinya tanggung.


"Apa sebegitu kelihatan ya dari raut wajahku..?" gumam Arra meraba raba wajahnya


"Gawat, aku mulai menua" gumamnya


..


Surya menghampiri ibunya yang menunggu di tempat mobilnya terparkir, dan kemudian membuka bagasi mobil untuk memasukkan semua belanjaan mereka.


"Ibu traktir deh, mau apa sebelum pulang" ujar ibunya


"Bener ya?" Surya mulai berpikir keras untuk meminta apa dari ibunya karena tidak selalu ibunya akan menuruti keinginannya


Ibunya menyadari bahwa dirinya dalam bahaya, terlihat jelas sepertinya Surya akan meminta hal hal aneh.


Wkwkwk kebaca ya bun


"Mau jengkol" jawab Surya dengan wajah berbinar


"Hah?"


"Beneran?" tanya ibunya memastikan


"Kenapa tadi gak ngomong?"

__ADS_1


"Lah ibu baru nawarin" jawab Surya dengan nada santainya


Karena ibunya tidak mau di cap sebagai pemberi harapan palsu, akhirnya mereka memutuskan untuk mampir ke pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah. Akhirnya kali ini ibunya menurut untuk Surya agar menunggu di mobil saja.


"Kangen banget sama rasa jengkol" membayangkannya saja Surya sudah ngiler huahaha


Setelah ibunya kembali, Surya langsung tancap gas menuju rumah. Sesampainya di rumah mereka langsung menurunkan barang barang yang sudah mereka beli, lebih tepatnya yang ibunya beli..


"Ayo Buu.. masak" layaknya anak kecil, rengekannya terdengar hingga ke kamar adiknya


Aina menghampiri suara yang membuat telinganya terganggu, itu kakak kenapa ya?


"Iya sebentar ya, ibu lagi mastiin gak ada yang kurang.." jawab ibunya sambil tangannya membongkar barang barang yang berserakan di dapur itu


"Siap kapten" ujar Surya memberi hormat seperti saat upacara bendera


Melihat ibunya yang kerepotan, jiwa menolong yang ada di diri Aina memberontak. Ia langsung membantu sang ibu menyusun dan membereskannya.


"Loh, tadi kayaknya udah" Surya kemudian mengingat


"Mana?"


"Hehehe.. lupa" jawab Surya seadanya


"Yaudah balik lagi"


"IKUTTTT" ujar Aina menimpali


"Yuks, naik motor ya.. mobil udah masuk"

__ADS_1


Sebelum berangkat, Surya bertanya lagi apakah hanya itu saja yang kurang atau ada lagi. Dasar emak emak...


Ia baru teringat setelah sampai disana, bagaimana jika dia bertemu dengan perempuan tadi yang dia bilang untuk tidak memendam masalah? Harus bagaimana? Pura pura tidak ingat atau bodoamat?


Dengan terpaksa ia harus masuk, dan langsung menuju rak yang di tujunya untuk hanya membeli minyak goreng.


"Beli tiga aja kali ya"


"Buset, empat puluh ribu? Yang bener aja? Seliter doang.."


Niatnya dia urungkan setelah melihat harga minyak goreng yang melunjak dan tidak seperti biasanya itu.


Harga minyak goreng lagi mahal ya bu ibu..


Surya menuju rak kasir dan benar saja, kasir tersebut masih orang yang sama dengan sebelumnya.


"Hah? Pria ini lagi?.. Oh, udah punya anak. Cantik banget anaknya" gumam Arra


Mata Aina langsung tertuju dengan barisan cokelat yang berjejer tepat di depannya.


"Kak, beli cokelat" ujar Aina menarik ujung baju kakaknya


"Boleh"


"Kak? Kukira anaknya, ternyata adiknya" gumam Arra sambil tersenyum kecil


"Bukan anak saya mbak, maaf soal yang tadi" ucap Surya spontan menyadari bahwa perempuan di depannya sedang mengira bocah ini adalah anaknya, dan permintaan maaf itu juga spontan dari mulutnya karena menurutnya sangat tidak sopan untuk Surya berbicara seperti yang di episode sebelumnya


"Sial, ucapan maaf ku gak terima malah senyum senyum" gerutu Surya dalam hatinya. Ia mengambil belanjaan nya dan langsung pergi dari situ

__ADS_1


"Pria aneh" ucap Arra


__ADS_2