
Happy reading..
Hari pernikahan yang tinggal dua minggu hari lagi akhirnya sudah di depan mata. Tak lupa, ia juga berpamitan kepada mendiang ayahnya bahwa anak gadis gadis satu satunya akan jatuh ke pelukan orang lain.
Jarak yang cukup jauh tidak membuat Dian terlelap, ia masih memikirkan nasib selanjutnya dimana ia menjadi seorang istri, tentu itu akan lebih berat daripada hidup bersama ibunya. Sebelumnya tentu ia sudah meminta izin untuk membawanya pula, pastinya dengan senang hati syarat tersebut di setujui oleh sang calon suami dan keluarganya.
Ibunya yang melihat perbedaan di raut wajah anaknya pasti merasakan hal serupa, kemudian memberinya nasihat.
"Istri itu ibarat pakaian bagi suami, jadi jika suami mu memiliki kekurangan jangan kau perlihatkan di depan khayalak ramai tetapi tutupi dengan sebaliknya kekurangan mu"
Setelah sampai di pemakaman..
"Ayah, maafkan aku kali ini aku tidak bisa memenuhi janjiku. Dan ayah tau, aku juga merasa bersalah bahwasanya aku pernah berkata tidak akan ada laki laki yang mencintai ku melebihi mu. Kau tau ayah, semoga laki laki ini adalah orang itu, doakan aku yah, putri mu ini sebentar lagi akan menjadi istri dan insyaallah ibu. Ayah senang kan?"
Ibu Ida yang mendengar hal itu langsung menitihkan air mata yang dia tahan, ia paham betul hal seperti ini pasti tidak akan terulang kembali, dan tentu nya Ibu Ida tidak ingin mengganggu antara Almarhum suami dan anaknya ini.
__ADS_1
"Pulang yuk" sahut Ibu Ida di karenakan hari sudah mulai mendung dan akan turun hujan,
"Ayah, Dian sama ibu pulang dulu ya. Insyaallah nanti Dian akan kemari lagi dengan lelaki pilihan Dian itu, dia baik ayah bahkan keluarganya yang tidak menganggap Dian menantu tetapi menganggap Dian adalah anak kandungnya sendiri. Doakan semoga selalu seperti itu ya yah" Dian yang akhirnya tidak kuat menahan akhirnya tangisnya tumpah juga saat itu.
"Ayo" kata Ibu Ida menyahuti
"Ayah, Dian sudah bahagia sekarang. Dian juga yakin ayah juga pasti bahagia bukan? Anak gadis mu sebentar lagi akan menjadi istri" tangis nya ia tumpahkan kembali di sana
"Bu, ayo" yang akhirnya ia menuruti perintah ibunya untuk pulang
"Umi mau kemana?" tanya Abdar menyadari jika Umi akan bepergian membawa rantang makanan di tangannya
"Ya mau ke rumah menantu lah"
"Tapi Umi, mereka sedang tidak dirumah"
__ADS_1
Kemudian Abdar menjelaskan bahwa Dian dan juga ibunya tengah mengunjungi makam mendiang ayahnya dan juga menginap di tempat bibinya selama beberapa hari.
"Yah, yaudah kamu antarkan ini untuk Ayah dan Ummah mu saja ya"
Dengan sigap Abdar menerima perintah dari Uminya dan bergegas menuju pesantren. Setibanya ia langsung di sambut oleh sepupunya, Farhan.
"Bakalan ada pengantin baru nih" Farhan yang tentu saja sudah mengetahui berita itu hanya berniat menggoda kakak sepupunya saja. Tidak ada rasa tidak rela ataupun tidak ikhlas di hatinya, karena baginya bagaimanapun juga Allah pasti akan memberinya yang lebih baik meskipun bukan sekarang saat nya
"Ingat kak, kau harus mencetak adonan yang berkualitas"
"Kau kira aku akan menjual kue? Ada ada saja.. lagipula itu masih lama"
"Hahaha, tapi aku benar kan?" Farhan yang masih membela dirinya
"Tentu saja"
__ADS_1