
setelah sampai di kantor ramon menemui orang suruhannya yang sejak tadi menunggu nya, untuk memberi informasi tentang bunga.
ramon mengajak orang itu ke ruangan kerja nya, mereka mulai membicarakan tentang bunga.
''ini tuan foto bunga yang terakhir aku ambil selama penyelidikan,'' ucap orang suruhan itu kepada ramon.
ramon langsung menyambar foto itu, dan ia mengamati foto bunga mantan kekasihnya yang sangat ia rindukan selama ini.
''terimakasih, hasil kerja mu bagus, ini bayaran mu,'' kata ramon ia sekalian menyodorkan selembar cek dengan isi yang lumayan besar, kepada orang suruhannya itu.
''kau harus menyelidikinya lagi, jika ia sudah sampai di negara ini kau harus hubungi aku langsung,'' ucap ramon lagi.
''terimakasih tuan, aku akan menyelidikinya lagi nanti, aku permisi dulu,'' kata orang suruhan itu dan ia beranjak keluar dari ruangan ramon.
setelah orang suruhannya keluar dari ruangan, ramon masih memandang foto bunga, ia tak menyangka jika bunga belum menikah, mungkinkah bunga masih mencintainya, pikir ramon.
sedangkan sisil di rumah ia sungguh menyesal sudah menuruti ide luna temannya, ia akan menghubungi luna, ia akan memarahi luna karena gara-gara dia semua ini terjadi, pikir sisil.
''hallo.....? luna kau lagi ngapain?'' tanya sisil lewat hemponnya.
''lagi santai saja di rumah, bentar lagi mau ke kampus, ingin mendaftar kuliah,'' jawab luna lewat hemponnya.
''kau harus tanggung jawab!'' kata sisil lagi.
''emang apa masalahnya aku harus tanggung jawab?'' tanya luna.
''gara-gara ide kamu, aku di perkosa oleh suamiku!"
"ha.....ha.....ha......! sisil,sisil mana ada suami perkosa isteri, itu kan emang kewajiban mu melayani nya, berarti kau sudah merasakannya, enak tidak?" tanya luna lagi.
"enak apanya, sakit tau,semua tubuhku rasanya remuk, aku sampai susah berjalan, tapi ngomong-ngomong soal kuliah, aku juga akan kuliah luna, tuan ramon akan menguliahkan aku katanya!" jawab sisil lagi.
"oh....kalau begitu bagus dong, gimana kamu kuliah di kampus ku saja, biar kita sering ketemu, ambil jurusan sama seperti aku!"
"baiklah, tapi aku gak suka jurusan seperti mu, aku mau mengambil jurusan manajemen."
"ya sudah, yang penting kita nanti satu kampus, dah dulu yah....! aku sudah mau berangkat ke kampus, semoga apa yang kita impikan menjadi kenyataan ya, teman ku yang cantik selamat beristirahat di ranjang!" kata luna, sambil mematikan hemponnya.
sementara itu ramon yang baru sudah dari rapat dengan karyawannya, ia teringat sisil.
''sisil sekarang lagi apa ya?'' tanya ramon dalam hatinya, ia mau nelpon sisil langsung tapi tak ada no nya, lucu juga pasangan yang sudah menikah hampir satu bulan ini belum ada no handphone pasangan masing-masing, hingga akhirnya ramon menelpon pelayannya di rumah.
''hallo bik! apakah sisil sudah makan siang?'' tanya ramon kepada pelayannya lewat hemponnya.
__ADS_1
''belum tuan, nona sisil belum mau makan, nona sisil nampaknya sakit tuan, badan nya sedikit panas!'' jawab pelayan ramon lewat hemponnya.
''apa? dia sakit, kenapa kalian tak mengabari aku!'' marah ramon kepada pelayan itu, ia langsung mematikan hemponnya dan bergegas menuju ke parkiran untuk mengambil mobilnya dan segera pulang ke rumah.
ramon menyetir mobil sendiri, ia sangat kuatir dengan keadaan sisil, sesampai ia di rumah ia sangat marah sekali pada semua pelayannya.
''kenapa kalian tak satupun mengabari aku bahwa istriku sakit, kalau ada apa-apa sama dia kalian mau tanggung jawab!'' marah ramon lagi kepada semua pelayannya, ia langsung ke kamar melihat keadaan isterinya.
ramon menghampiri sisil ia menyentuh dahi sisil, ''panas,'' ucap ramon dalam hatinya!
ia langsung menghubungi dokter pribadinya, yaitu dokter rihwan.
''hallo dok? tolong langsung ke rumah, isteri saya sakit,'' kata ramon lewat hemponnya.
''baik, saya langsung kesana!'' jawab dokter rihwan lewat hemponnya.
''baiklah saya tunggu!'' ucap ramon lagi ia langsung mematikan hemponnya.
ramon duduk di dekat sisil, ia menyesali perbuatannya gara-gara dia sisil jadi sakit, ia mengambil lampan dan handuk kecil untuk mengompres sisil supaya suhu panas tubuh sisil turun, tak berapa lama dokter rihwan datang.
dokter rihwan langsung memeriksa sisil, yang di dampingi ramon.
''gimana dok, apa sakit sisil parah?'' tanya ramon kepada dokter rihwan sedikit cemas.
ramon masih menemani sisil yang lagi tertidur, ia duduk di samping sisil sambil berkata dalam hatinya, maafkan aku gara-gara aku kau sakit, aku memang keterlaluan tak seharusnya aku melakukan hal itu kepada mu yang masih bocah, ramon memang menyayangi sisil sepenuh hatinya hanya kadang caranya sedikit kasar.
tak berapa lama sisil bangun, ia sedikit terkejut ''mengapa ramon ada di sini, padahal kan tadi ramon kerja,'' pikir sisil dalam hatinya.
ramon yang melihat sisil yang sudah bangun ia langsung bertanya, ''kamu mau apa? apa kamu masih sakit? sakit nya di mana?'' banyak sekali pertanyaan ramon, sehingga membuat sisil jadi bengong.
''kenapa ia jadi perhatian begini, aku sakit gara-gara dia, oho....aku kerjain aja dia!'' pikir sisil dalam hatinya!
''kau tadi belum makan siang kan?'' tanya ramon lagi, sisil hanya menjawabnya dengan gelengan kepalanya saja.
''kau harus makan sekarang, aku suapi!'' kata ramon lagi ia langsung mengambil makanan untuk sisil dan menyuapinya.
''sudah makan ini nanti, kamu makan obat langsung ya, biar cepat sembuh!'' kata ramon sambil menyuapi makanan kepada sisil.
sisil hanya mengangguk, ia seakan pelit sekali dengan suaranya, itu yang di rasa ramon saat ini, sehingga membuat ramon bertanya langsung kepada sisil, ''apa bibir mu juga sakit, sehingga dari tadi kamu hanya bisa menggeleng dan mengangguk?''
''tidak, jawab singkat sisil
''oh.....kalau begitu syukurlah,'' kata ramon lagi ia langsung menyuapi makanan terakhir kepada sisil, dan mengelap sisa makanan di bibir sisil. ''kau sekarang istirahatlah, jangan kemana-mana dulu, biar cepat sembuh.'' kata ramon lagi sambil mengecup kening sisil dan ia berlalu ke ruangan kerjanya.
__ADS_1
ramon yang fokus mengurus sisil sakit, sehingga ia lupa dengan makan siang ia sendiri, sehingga seorang pelayan menegurnya, ''tuan, apa tuan mau makan siang?'' tanya pelayan itu.
''nanti saja, aku mau menghubungi luki dulu,'' kata ramon.
ramon menghubungi luki, bahwa ia pulang cepat hari ini karena isterinya sakit, ramon menyuruh luki untuk mengerjai semua pekerjaannya, setelah itu ia masuk kembali ke kamarnya.
saat ramon sudah sampai di dalam kamar ia melihat sisil berjalan, ramon langsung saja menghentikan langkah sisil itu, ''kau mau kemana? aku sudah katakan bahwa kau istirahat saja di ranjang!'' kata ramon lagi.
''aku mau pipis tuan, masa pipis di ranjang!'' jawab sisil.
''baiklah sini aku bantu,'' ucap ramon lagi sambil menuntun sisil ke arah kamar mandi.
''tidak usah tuan, aku bisa sendiri,'' kata sisil ia langsung melepaskan dirinya dari pegangan ramon.
''nanti kau jatuh, biar aku antar sampai kedalam,'' kata ramon lagi ia masih keras ingin mengantar sisil kedalam kamar mandi.
''aku bilang tidak usah, ya tidak usah tuan, apa kau mau melihat ku pipis?'' kata sisil lagi sedikit marah, ia membantah perkataan ramon dan mendorong sedikit tubuh ramon agar menjauh dari dirinya sehingga ia bebas berjalan ke kamar mandi.
''kalau ia kenapa,'' jawab ramon ia sedikit kesal kepada sisil niat baiknya disalah artikan oleh sisil.
''enak saja, tidak boleh tau, malu aku!'' kata sisil lagi, sambil masuk ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi sedikit keras.
''kenapa tidak boleh, kenapa mesti malu, aku sudah melihat semuanya,'' jawab ramon lagi sedikit keras biar sisil mendengar dari dalam kamar mandi dan dia tertawa cekikikan.
sedangkan sisil yang mendengar itu, ia mengutuk ramon dalam hati, ''dasar suami brengsek aku jadi sakit gara-gara dia, nah ini masih sakit kan,'' keluh sisil saat ia pipis.
ramon akhirnya pergi makan siang saat sisil di kamar mandi, mungkin perutnya sudah minta di isi, setelah itu ia kembali ke kamarnya untuk mengecek keadaan sisil.
''kau sudah sembuh, belum? tanya ramon kepada sisil sambil menyentuh kening sisil.
''sudah mendingan,'' jawab sisil.
''benar, keningmu sudah gak panas lagi,'' kata ramon meyakinkan perkataan sisil.
''tapi tubuhku masih sakit semua,'' kata sisil lagi.
''biar aku pijit ya,'' sahut ramon lagi.
''boleh,'' jawab sisil sambil tersenyum.
''tapi aku ganti baju dulu!'' kata ramon lagi.
setelah ia mengganti bajunya, ramon memijit sisil hingga sisil terlelap tidur.
__ADS_1