
"sayang......jangan salahkan aku bila sekarang kamu aku culik, hehehe!" ucap ramon sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena pusing setelah minum alkohol tadi, ia jadi terjatuh dan tertidur di samping ranjang tempat sisil berbaring.
keesokan paginya sisil jadi terkejut melihat ia berada satu kamar dengan mantan suaminya.
"aaaaaa......!" teriak sisil dengan keras, membuat ramon jadi terbangun dari tidurnya.
"ada apa sayang kamu teriak-teriak? tanya ramon dengan suara seraknya seperti orang baru bangun.
"masih tanya lagi, kakak kenapa kita bisa satu kamar?" tanya sisil dengan emosi sambil melotot mata nya dengan ramon.
"hehehe, itu berarti kita di takdir kan untuk bersama lagi sayang!" jawab ramon sambil memijit-mijit kepalanya yang terasa sedikit sakit, mungkin karena pengaruh ia mabuk malam tadi.
"kakak jangan bercanda ya!" kata sisil lagi sambil bergegas menuju pintu kamar ia hendak pergi dari tempat itu.
ramon hanya tersenyum hambar melihat sisil mau keluar dari kamar, sambil berkata, "silakan saja kau keluar kalau bisa!" setelah mengatakan itu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
sisil mencoba memutar gagang pintu kamar itu, ia tak menghiraukan perkataan ramon tapi ternyata sia-sia pintu itu tak terbuka, ia masih terkurung di kamar itu.
"hey.....apa ada orang di luar, tolong buka pintunya!" kata sisil sambil menggedor-gedor pintu itu, ia masih berharap dapat kabur dari kamar itu.
setelah hampir dua puluh menit ramon keluar dari kamar mandi, dengan hanya memakai handuk membelit di pinggang nya, ia melihat sisil berdiri dan menangis di sebelah pintu sambil menghapus air matanya.
"kau kenapa begitu sedih, seakan di culik sama penjahat saja!" kata ramon dengan tersenyum sambil melangkah kearah sisil.
"jangan mendekat, kakak memang sudah gila, untuk apa kakak mengurung aku di sini!" teriak sisil dengan emosi yang berapi-api.
"ya aku memang sudah gila karena cinta mu, aku mengurung mu di sini agar kau tak bisa di miliki sama siapa pun, selain diriku!" kata ramon lagi, ia tak peduli akan perkataan sisil, ia masih mendekat kearah sisil.
"lepaskan aku.....lihat saja papa dan revan akan mencari aku, ia akan melaporkan kakak ke polisi!" kata sisil lagi dengan emosi dan memukul-mukul dada ramon karena ramon memeluknya.
"hehehe.......!" ramon hanya terkekeh mendengar perkataan sisil, baginya lucu perkataan sisil itu, dan ia terus memeluk sisil walau sisil memberontak.
"papa mu tak akan pernah menelpon aku ke polisi, karena ia merasa kau berada pada orang yang tepat!" kata ramon lagi.
__ADS_1
"tidak mungkin kita lihat saja nanti!" kata sisil lagi.
"baiklah, kalau kau tak percaya!" jawab ramon.
sisil hanya dapat menangis, dan pasrah saja di pelukan ramon, karena percuma ia terus berontak ia tak akan menang melawan mantan suaminya itu.
"sudah tenangkan dirimu, aku hanya ingin memeluk mu, aku sangat merindukan dirimu, dengarkan detak jantungku selalu bergetar bila di dekatmu!" kata ramon lagi.
"apa kakak lupa, kita ini bukan suami-isteri lagi, tidak baik berpelukan seperti ini, ada batasannya, pakai lah dahulu pakaian kakak!" kata sisil memperingati ramon, ia sedikit tenang namun ia takut ramon nanti khilaf bila terus memeluknya seperti ini.
"mangkanya jadilah istri ku lagi, kita nikah lagi yuk, biar gak ada batasan!" kata ramon lagi ia masih memeluk sisil bahkan lebih erat, sehingga membuat adik kecilnya yang di bawah berdiri.
"gak mau, aku sekarang sudah pacaran sama revan, lagian jika aku menjadi istri kakak lagi pasti hidupku akan terpenjara lagi, dan selalu terkekang oleh kakak!" jawab sisil dengan tegas.
"terserah lah nona manis kau mau ngomong apa, tapi yang pasti kau tak bisa lepas dari ku, jika kau mau menjadi istri ku lagi, aku janji tak akan mengekang dirimu lagi!" bisik ramon di kuping sisil sambil melepas pelukannya dan pergi masuk ke ruang ganti pakaian.
ramon terpaksa melepaskan pelukannya terhadap sisil karena ia takut khilaf, saat berpelukan tadi saja gairah nya mulai naik, itu mangkanya ia pergi keruang pakaian cepat-cepat agar tak tergoda oleh rayuan setan.
setelah ia berganti pakaian ia keluar dari ruangan itu, dan ia melihat sisil masih termenung di sudut ruangan.
setelah kepergian ramon, sisil langsung ke kamar mandi, untuk bersih-bersih tubuhnya.
sekitar dua puluh menit, ia sudah selesai mandi dan langsung menuju ke ruang ganti pakaian, setelah merasa cukup rapi akhirnya sisil keluar dari ruangan itu.
tidak banyak yang bisa ia lakukan di kamar itu, ia hanya bisa tidur-tiduran di ranjang saja.
jam menunjukan pukul tujuh pagi, pelayan di villa itu membawa kan sarapan untuk sisil.
"ceklek!" bunyi pintu kamar di buka oleh seseorang wanita sedikit tua, ia adalah pelayan di villa tersebut yang akan melayani sisil, pelayan itu masuk dan membawa kan sarapan untuk sisil.
"nona ini sarapan nya!" kata pelayan itu sambil meletakkan makanan tersebut di atas meja yang ada di kamar tersebut.
"tolong keluar kan aku dari tempat ini!" kata sisil kepada pelayan tersebut, ia mengabaikan apa perkataan pelayan itu.
__ADS_1
"maaf nona, aku hanya di perintahkan untuk melayani apa keperluan anda, untuk yang lainnya itu bukan wewenang ku!" kata pelayan itu, ia sedikit menunduk dan berlalu dari kamar itu.
sisil jadi pusing sendiri, "apa sih maunya lelaki itu, sudah menceraikan aku sekarang mau menjadikan aku isteri nya lagi, memaksa lagi!" gerutu sisil dalam hatinya.
sedangkan revan yang sudah tiba di kantor ia tak fokus dengan pekerjaannya karena ia selalu memikirkan sisil pacar barunya.
"ia kemana sih? di telpon tak di angkat malam tadi, saat pagi ini ia juga tidak masuk kerja, aku telepon lagi pagi ini, hemponnya tidak aktif- aktif!" pikir revan dalam hatinya.
"ah.... sudahlah lebih baik aku kerumahnya, mungkin ada sesuatu yang terjadi sehingga ia tidak masuk kerja!" kata revan lagi sambil bergegas ke rumah sisil.
sesampai ia di rumah sisil, ia bertemu dengan papa sisil.
"assalamualaikum!" ucap revan dengan sopan, di balik pintu gerbang rumah sisil.
"waallaikum salam!" jawab papa sisil dari dalam sambil membuka kan pintu gerbangnya.
"maaf om sedikit mengganggu, aku revan bos nya sisil sekalian pacarnya sisil, boleh kah aku meminta waktu om sebentar?" tanya revan dengan sopan.
"boleh, silakan masuk!" jawab papa sisil singkat.
papa sisil dan revan akhirnya duduk di ruangan tamu.
"om...kedatangan ku kesini mau bertanya, kenapa sisil tidak masuk kerja, dan no nya tidak aktif?" tanya revan langsung.
"sisil sekarang mau kuliah lagi, dan ia kuliah di luar kota, jadi om harap kamu gak usah ganggu dia lagi, masalah kerja anggap saja ia mengundurkan diri!" kata papa sisil lagi dengan tegas.
"tapi om.... boleh kah aku bicara sebentar lewat handphone kepada sisil, dengan hemponnya om, karena kalau handphoneku no nya tidak aktif!" kata revan lagi.
"maaf tidak bisa, sudah om bilang jangan ganggu sisil lagi!" kata papa sisil sedikit emosi.
"aku tidak mengganggu nya om aku.....!"
"maaf waktu ku tidak banyak, aku mau keluar, jika tidak kepentingan lagi aku harap kau bisa pergi!" kata papa sisil memotong perkataan revan sambil menunjuk ke arah pintu!"
__ADS_1
"huh......!" revan hanya bisa membuang nafas berat nya dan bergegas meninggalkan rumah sisil.