
''tok....tok....tok!'' bunyi pintu di ketuk oleh ramon dari luar sambil ia berkata, ''sisil buka kan pintu ini aku mau masuk, aku tau kamu ada di dalam,'' perintah ramon.
''gak mau, lebih baik kakak pulang saja, ngapain nyusul kesini,'' jawab sisil dari dalam sambil tidur-tiduran di ranjang.
''kalau gak mau aku gebrak ini pintu,'' ucap ramon lagi.
''gak peduli, aku gak mau tidur sama kakak, tidur saja sana sama bunga.'' jawab sisil lagi, ia benar-benar kecewa sama ramon.
ramon sangat kesal jadinya, ia langsung mau gebrak itu pintu, tapi gak jadi ia sempat berpikir lebih baik ia minta kunci cadangan sama papa riko untuk membuka kamar itu.
ramon langsung pergi mencari papa riko di ruangan tamu, teryata papa riko masih ada di sana dan ramon langsung saja minta kunci cadangan kamar yang di tepati sisil sekarang.
papa riko langsung saja memberi kunci cadangan kepada ramon tanpa bertanya dahulu mengapa ramon meminta kunci cadangan itu.
setelah ramon mendapat kunci cadangan kamar yang di tepati sisil sekarang ia langsung saja membuka kamar itu menggunakan kunci cadangan yang sudah ia pegang.
tak berapa lama akhirnya pintu kamar itu terbuka dan ramon langsung saja masuk ke dalam ia mencari keberadaan sisil tapi ia tak menemukan sisil di dalam kamar itu.
saat ramon mendekati pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar yang di tepati sisil sekarang, ia mendengar ada suara gemericik air dari dalam, dan ramon menebak pasti sisil lagi mandi.
ramon mempunyai ide ia akan mengerjai isteri nya itu, ia bersembunyi di tirai jendela yang ada di dalam kamar itu.
tak berapa lama sisil selesai mandinya, sisil langsung saja duduk di ranjang sambil mengeringkan rambutnya pakai handuk kecil.
tak berapa lama ia mendengar ada suara!
''hi.....hi.....hi,'' sisil jadi terkejut, handuk yang ia pegang terjatuh, dan keringat mulai bercucuran di dahi nya, sisil sangat takut, tak berapa lama ia mendengar lagi suara itu, semangkin jelas.
__ADS_1
''hi.....hi......hi!" bulu kuduk sisil langsung berdiri ia jadi takut, apalagi ia teringat malam ini malam Jum'at, ia langsung berdiri mendekati pintu kamarnya ingin keluar.
tapi sebelum ia sempat membuka pintu itu Ramon langsung memeluknya dari belakang.
hal itu sontak membuat sisil memejamkan matanya dan ia ingin berteriak, tapi mulutnya langsung bungkam karena ramon langsung menutup mulut sisil, karena ramon tahu sisil akan berteriak.
sisil hanya bisa terisak menangis dalam keadaan itu, hampir ia pipis di celana.
ramon sangat bahagia melihat isterinya ketakutan, ia menahan tawanya sedari tadi, tapi tak berapa lama ia mulai menghirup aroma wangi sabun dari tubuh sisil yang sangat ia sukai hingga akhirnya ia mulai mendekatkan wajahnya di tengkuk isterinya dan mengecup sedikit lama di sana dan ia tertawa sekeras-sekerasnya.
''ha.......ha....... ha.......! kau sangat lucu isteri ku yang cantik!'' ucap ramon dari belakang ia sudah tak tahan lagi untuk tidak tertawa melihat mimik wajah ketakutan sisil.
sisil langsung memutar tubuhnya menghadap kebelakang saat mendengar ketawa dari ramon, dan ia sangat kesal setelah ia tahu bahwa ia di kerjain ramon.
langsung saja ia memukul suaminya itu dan melempar semua yang dapat ia lempar ke ramon tapi ramon dengan cekatan menghindar dari barang yang di lempar sisil kearahnya.
''kau masih marah?'' tanya ramon kepada isterinya dengan wajah yang lelah sambil duduk di ranjang disebelah sisil.
sisil tak memberi jawaban ia malah membuang muka, dan cemberut.
''kau pantas mendapatkan itu semua, anggap saja itu hukuman buat mu, karena tidak mau membukakan pintu buat suamimu,'' kata ramon lagi.
sisil pura-pura tak mendengar ia malah rebahan di ranjang dan menutup matanya, dan membelakangi ramon.
ramon yang melihat sisil seperti itu ia mulai serius, ''sayang apa kau masih marah dengan apa yang kau lihat di kantor tadi?'' tanya ramon.
sisil tetap diam, malah ia menarik selimut dan menutup semua badan nya sampai ke kepalanya.
__ADS_1
ramon akhirnya mendekati sisil dan memeluk sisil dari belakang sambil tidur di samping sisil.
''aku tadi cuma membantu bunga, ia hampir pingsan, tidak mungkinkan aku biarin ia jatuh di hadapan ku,'' kata ramon lagi.
sisil masih diam, melihat sisil terus mendiami dia ramon langsung berkata sinis, ''seharusnya aku yang marah, kau bahagiakan lelaki di kampus mu itu mengutarakan isi di hatinya, mengucap cinta pada isteri orang tidak tau malu!'' kesal ramon.
sisil yang mendengar perkataan ramon itu jadi berpikir dalam hati, ''ya juga, seharusnya aku bahagia, renal sudah menyatakan cintanya pada ku, tetapi mengapa aku tidak merasa bahagia, malah aku bahagia bila kakak yang menyatakan cintanya padaku, tapi sampai sekarang ia belum mengatakan apa-apa, hanya mengatakan sayang pada ku.'' gerutu sisil, dalam hatinya, ia masih malas melayani ramon bicara malah ia memejamkan matanya untuk tidur.
ramon akhirnya membalikkan tubuh sisil menjadi telentang di sampingnya, hingga ia bisa melihat bahwa sisil sudah memejamkan matanya, setelah ia membuka selimut yang menutupi tubuh sisil, ramon jadi membuang nafas beratnya.
''hah......!''
ia gak menyangka teryata sisil sudah tidur, ia pandangi wajah cantik isterinya itu.
'' kau selalu saja bikin aku marah tapi jika aku ada di hadapanmu amarah ku langsung beranjak sirna, itu karena aku sangat menyayangi dirimu dan mencintai mu, untuk kali ini aku maafkan, tapi jika lelaki itu berbuat lebih dari itu, jangan salahkan aku, bilah aku bisa berbuat suatu hal yang tak kamu sangka!'' ucap ramon dan dia akhirnya nya memainkan hemponnya, untuk segera tidur ia masih enggan.
ramon menghubungi asisten pribadinya yaitu luki, lewat hemponnya, di balkon kamar sisil ramon berdiri ia masih menunggu luki untuk menjawab panggilan dari hemponnya, tak berapa lama luki menjawab panggilan dari handphone ramon.
ramon langsung saja mengatakan pada intinya tanpa basa-basi, begitu lah karakter ramon
''luki tolong kamu urus secepatnya untuk perpindahan kampus sisil, aku tak mau melihat istriku satu kampus lagi sama lelaki itu.'' perintah ramon pada asistennya itu, lewat hemponnya.
''baik tuan, saya akan urus semua persyaratan perpindahan kuliah nona sisil.'' jawab luki.
setelah mendengar perkataan luki itu, ramon langsung memutuskan panggilan hemponnya kepada luki, dan ia beranjak dari balkon itu menuju keranjang tempat sisil yang sudah terlelap dalam mimpinya.
ramon langsung rebahan di samping sisil, ia memeluk erat isterinya yang sangat ia sayangi dan ia memejamkan matanya mengikuti sisil mengarungi alam mimpi.
__ADS_1