Virus Cinta Sisil

Virus Cinta Sisil
#ramon merasa ada saingan #


__ADS_3

setelah ia cabut dari toko tempat sisil bekerja ramon langsung pergi ke kantor nya.


sampai di sana ia mengamuk di ruangan kerja nya, hal itu membuat asisten luki jadi pusing menghadapi tingkah ramon.


"luki aku benar-benar tidak bisa lagi bertahan seperti ini, cepat kau cari tahu siapa lelaki yang ada di tempat kerja sisil sekarang!" perintah ramon sambil membanting semua barang yang ada di dalam ruangan kerja nya.


"baik tuan, tapi tuan tenang dulu, tidak enak nanti di dengar karyawan yang lain!" jawab luki.


"bodoh....!aku tak peduli sama mereka!" kata ramon lagi sambil emosi.


tak terasa hari hampir sore dan ramon pulang tapi bukan pulang ke rumahnya, ia langsung saja ke rumah sisil.


sesampai di di rumah sisil ia sambut oleh papa sisil, ramon jadi mengobrol dengan papa sisil di ruangan tamu, sedangkan sisil ia tak nampak di rumahnya, sisil lagi pergi ke warung bakso ibu lesna, ia sudah kangen sama bakso ibu lesna dan juga dengan pemilik warungnya.


ramon jadi gelisah karena ia sudah hampir dua jam di rumah sisil, tapi sisil tak nampak, akhirnya ia bertanya kepada papa sisil di mana sisil yang tak nampak.


"pa sisil di mana? dari tadi aku tak nampak dirinya?"tanya ramon kepada papa sisil.


"tadi katanya mau cari bakso, tapi sampai sekarang belum pulang!" jawab papa sisil.


"oh....mungkin jauh kali yah, cari bakso nya!" ucap ramon lagi.


"mung...!


"papa aku pulang!" teriak sisil memotong pembicaraan papa nya dan ramon.


ramon jadi bahagia melihat sisil sudah ada di depan matanya, sedangkan sisil jadi cemberut melihat kehadiran ramon di rumahnya.


"kamu dari mana saja? sudah hampir dua jam nak ramon menunggu mu?" tanya papa riko kepada sisil.


"beli bakso pa, lagian siapa juga yang janjian ingin ketemu sama dia, kenapa ia gak pulang saja jika sudah bosan menunggu!"jawab sisil cuek.


"sisil......gak baik ngomong begitu!"kata papa riko lagi kepada sisil.


"baik pa.....!sisil mau salin bakso ini dulu ke mangkuk!" kata sisil lagi sambil melangkah pergi ke ruangan dapur tempat peralatan perabot masakannya.

__ADS_1


setelah ia menyalin bakso ke mangkuk sisil langsung membawanya ke tempat papanya dan ramon mengobrol.


"nih...baksonya pa!" kata sisil sambil menghidangkan bakso tiga mangkuk di atas meja.


"papa makan di belakang saja, kamu temani lah nak ramon makan bakso, papa juga sudah kenyang makan martabak di bawa ramon tadi!" kata papa sisil sambil membawa semangkuk bakso ke belakang, menghilang dari pandangan ramon dan sisil.


sisil akhirnya duduk di hadapan ramon, tapi ia hanya diam saja.


"wah....enak ni bakso, aku makan ya?" tanya ramon kepada sisil, untuk mencair kan suasana.


sisil masih diam saja.


"kalau diam, berarti boleh!" kata ramon lagi sambil meraih semangkuk bakso di hadapannya dan ia langsung memakannya.


"enaknya duduk di situ saja!" kata ramon lagi menunjuk ke samping sisil.


"stop.....tetap di tempat, jika kakak duduk di samping ku aku masuk ke kamar nanti!" kata sisil tegas, akhirnya ia bersuara.


"yah.....cuma mau duduk di samping saja gak boleh!" keluh ramon sambil memasukkan bulat bakso ke mulutnya.


" aku mau pedekate sama calon pacarku, atau sama calon istri ku lagi!" jawab ramon seadanya sambil tertawa.


"jangan harap ya, aku mau kembali jadi istri kakak lagi!" kata sisil tegas.


"klau gitu kita pacaran saja dahulu!" jawab ramon menanggapi perkataan sisil, ia masih tak mau menyerah.


"gak mau!" jawab sisil langsung singkat dan padat.


ramon mulai hilang kesabarannya ia mulai berdiri dari tempat ia duduk dan melangkah ke arah tempat duduk di samping sisil, ia langsung duduk di samping sisil, namun sisil mau pergi melihat ramon duduk di sampingnya tapi dengan cekatan ramon memegang pergelangan tangan sisil dengan kuat, ia mencoba mencegah sisil pergi.


"lepaskan tangan ku!" kata sisil kepada ramon dengan emosi.


"gak mau!" jawab ramon malah ia memeluk sisil membuat Sisil tambah emosi, sisil langsung menampar pipi ramon.


"pergi, aku jijik melihat kakak, atau mau aku teriak biar kakak di gebukin sama semua orang!" teriak sisil dengan keras sampai terdengar oleh papanya di ruangan keluarga, papa sisil jadi menghampiri sisil di ruangan tamu, ia ingin tahu kenapa sisil, teriak-teriak seperti itu.

__ADS_1


"sisil ada apa? tanya papa riko kepada anaknya.


"tanya saja sama lelaki bodoh ini, kenapa ia tak mau pulang-pulang!" kata sisil sewot sambil melangkah pergi masuk ke kamar nya.


sedangkan ramon masih terdiam dan memegang pipinya yang sakit karena di tampar sisil.


"nak ramon ada apa? tanya papa sisil ke ramon dengan penasaran.


"tidak terjadi apa-apa pa, cuma salah paham saja, aku pamit dulu pa!" kata ramon lagi sambil melangkah keluar dari rumah sisil langsung masuk ke mobilnya dan pergi menghilang dari rumah sisil.


di tengah perjalanan ramon menyesali tadi perbuatannya, "kenapa aku tak bisa mengontrol emosiku dan berbuat semau ku tadi, pasti sisil tambah benci padaku, sakit juga tamparan nya tadi, tapi enak memeluknya tadi, aku tak akan menyerah sampai kau menjadi istri ku lagi!" kata ramon dalam hatinya sambil tersenyum.


sedangkan sisil yang masuk kedalam kamar saat ia marah kepada ramon, ia tanpa emosi sekali.


sisil benar-benar tak habis pikir atas perlakuan ramon tadi pada nya, berani nya ia melewati batas, mencoba untuk menyentuh tubuh nya pikir sisil.


"ia pikir aku cewek apaan seenaknya saja peluk-peluk! kata sisil dalam hatinya, sambil tidur-tiduran di ranjang.


selang sepuluh menit hp nya berbunyi, ada panggilan masuk untuk dirinya dan sisil langsung mengangkat nya tanpa melihat siapa yang menelepon nya.


"hallo?ini siapa?" tanya sisil lewat hemponnya.


"ini aku sayang, aku minta maaf atas perbuatan ku tadi!" ucap ramon kepada sisil lewat hemponnya.


sisil terkejut dan ia langsung melihat siapa yang menelepon nya, ia jadi mematikan hemponnya saat mengetahui bahwa ramon yang menelepon nya.


"huh..... teryata dia!" kata sisil sambil membuang nafas beratnya.


setelah mematikan hemponnya sisil langsung tidur, ia capek terus memikirkan ramon tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa ada sesuatu yang hilang dari hidup nya.


sedangkan ramon yang di rumah, saat sisil langsung mematikan panggilan nya, ia jadi tambah merasa bersalah.


"aduh.....kenapa aku tidak berpikir dahulu tadi sebelum bertindak!" kata ramon dalam hatinya.


ramon malam ini tidur di dalam kamarnya karena ia merasa sedikit bahagia karena bisa memeluk sisil, tapi ia juga takut jika sisil bertambah marah padanya akibat perlakuan nya tadi.

__ADS_1


__ADS_2