
ramon akhirnya keluar dari persembunyiannya karena mendengar teriakkan sisil, sambil tertawa terbahak, ia tak sanggup lagi untuk menahan tawanya.
"puas kakak melihat orang menderita hah!" ucap sisil sambil memasang wajah masam pada ramon.
"dia benar-benar lucu saat minum minuman tadi!" kata ramon sambil tertawa terbahak-bahak sampai ia memegang perutnya karena tak tahan akan tawa nya.
sisil yang melihat itu ia jadi geram melihat ramon, hingga akhirnya ia mengambil sapu yang ada di teras nya, dan langsung memukul ramon.
"aduh......aduh......sakit!" kata ramon lagi karena mendapat pukulan dari sisil.
"rasakan, bukannya menyesal sudah berbuat jahat pada orang, malah tertawa!" kata sisil lagi.
ramon tambah menjadi membuat sisil marah, ia langsung menangkis pukulan sisil selanjutnya dan merampas sapu itu dari tangan sisil dan membuangnya jauh, setelah itu ia langsung mendekat perlahan pada sisil dan saat ia sudah sangat dekat dengan sisil ia langsung memeluk sisil dengan erat, sambil tangannya yang nakal membelai tubuh sisil, dari paha sampai ke dada sisil dengan tangan sebelah, tangan satunya lagi memeluk sisil dengan erat, ia benar-benar sudah tak bisa menahan nafsu nya, ramon benar-benar di rasuki setan.
sisil yang mendapatkan perlakuan ramon seperti itu, ia tambah marah pada ramon, dan juga takut terjadi yang tidak-tidak karena ramon bukan hanya memeluknya tapi juga mulai membelai tubuhnya.
"lepaskan diriku kakak!" teriak sisil sambil memberontak di pelukan ramon, tapi ramon tak peduli akan teriakan sisil, ia seakan tuli.
"biarkan begini dulu sayang, aku benar-benar rindu pada mu!" kata ramon, masih memeluk sisil.
"apa kau sudah gila, kita bukan suami-isteri lagi, kau sudah melampaui batas!" kata sisil lagi dengan tegas.
"mangkanya jadi lah isteri ku lagi, biar kita tak ada batasnya, aku benar-benar gak bisa melupakan mu dan tak bisa hidup tanpa mu!" ucap ramon, ia masih tak mau melepas pelukannya pada sisil.
"aku akan teriak minta tolong nanti, jika kakak gak mau melepaskan ku, biar semua orang-orang akan datang dan menggebuk kakak!" ancam sisil pada akhirnya.
"teriak saja, aku tak takut, kalau nanti orang datang dan memergoki kita seperti ini, aku katakan saja kita lagi bercinta pasti mereka akan menyuruh kita untuk menikah, dan aku akan siap sayang!" kata ramon lagi sambil tersenyum.
sisil yang mendengar itu, ia tambah marah, ia menggerutu dalam hatinya, tapi ia tidak bisa melepaskan dirinya dalam pelukan ramon, tapi setelah hampir dua puluh menit akhirnya sisil lega, karena ia mendengar ada orang memanggil dirinya.
"sisil.....papa pulang!" kata papa sisil di balik pintu utama rumah sisil sambil mengetuk pintu itu.
__ADS_1
"ia pa...!" jawab sisil dari dalam sambil melotot pada ramon dan akhirnya ramon mengerti ia melepaskan pelukannya pada sisil karena ia mendengar suara papa sisil.
setelah ramon melepas kan pelukannya sisil bergegas membuka kan pintu untuk papa nya.
"eh...ada nak ramon!" kata papa sisil saat ia masuk dan melihat ada ramon.
"hehe ia pa...!" jawab ramon sambil duduk di sofa yang ada di ruangan tamu.
"sebaiknya kakak pulang, ini sudah malam!" kata sisil sambil cemberut.
"aku kan belum ngobrol sama papa, lagian emangnya kamu sangat terganggu apa, kehadiran ku ini?"kata ramon lagi.
"sangat!" jawab sisil dengan cemberut sambil melangkah masuk ke kamar.
ramon akhirnya mengobrol dengan papa sisil, ia memang enggan untuk pulang kerumahnya, bila di ijinkan ia mau menginap.
sedangkan sisil yang di kamarnya ia sangat benci atas perlakuan ramon tadi terhadapnya.
"oh ya....aku lupa menghubungi mas revan, bagaimana keadaan nya sekarang?" pikir sisil dalam hatinya.
sisil akhirnya menghubungi revan dengan ponsel nya.
"hallo mas, bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya sisil lewat ponselnya.
"baik, kau sengaja ya ngerjain ku tadi?" tanya revan pada sisil lewat ponselnya.
"maaf mas, bukan aku yang ngerjain kamu, tapi kakak ramon, sebelum kamu datang ia sudah datang duluan di rumahku tadi, entah bagaimana caranya hingga ia bisa mencampurkan minuman itu dengan cabe, yang aku buat untuk mu!" jelas sisil pada revan.
"oh.... teryata dia, biarkan saja sayang yang penting kamu tidak menyukai dia lagi kan?" tanya revan pada sisil dengan penuh harap.
"em.....aku belum bisa menjawab nya!" jawab sisil pada revan, sisil memang masih bingung dengan perasaan nya, kadang ia kesal dengan ramon, kadang ia rindu, kadang ia cemburu bila ramon dekat dengan wanita lain.
__ADS_1
"kau masih suka ya padanya,aku benar-benar kecewa bila kau masih suka padanya!" kata revan lagi.
"sekali lagi aku minta maaf, aku belum bisa menjawabnya!" kata sisil.
setelah mengucap selamat bobok, mereka berdua mematikan ponselnya.
selang lima menit, ponsel sisil berbunyi lagi, ia sedikit malas mengangkat nya karena dari ramon.
tapi setelah di pikir-pikir akhirnya ia mengangkat nya juga.
"hallo ada apa?" kata sisil lewat ponselnya sedikit tegas.
"aku cuma mau bilang, selamat bobok mimpikan aku, semoga kita bertemu di alam mimpi, aku pamit pulang dulu!" kata ramon setelah itu ia mematikan ponselnya.
sisil mau membalas perkataan ramon, tapi tak ada kesempatan ramon langsung mematikan ponselnya, hingga ia berkata.
"oh....cuma mau bilang itu!" kata sisil dalam hatinya sambil melangkah kearah jendela ia mau memastikan ramon beneran sudah pulang apa tidak.
tapi saat ia mengintip di balik tirai pintu jendelanya, ia melihat ramon bersandar di mobilnya sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya, setelah itu baru ia masuk ke mobilnya dan meninggal kan rumah sisil.
"mengapa kalau ia jauh aku kangen, tapi kalau dekat selalu bertengkar dan dia selalu buat aku kesal!" kata sisil lagi saat sendiri sambil melangkah ke ranjangnya.
"jika aku terima kembali dia jadi suami ku, pasti ia mengekang ku lagi, arogan cemburuan, pemaksa, aku rasa lebih baik aku mencoba lupakan dia, dan menerima cintanya revan!" pikir sisil dalam hatinya.
"tapi hati ku sakit melihat dia dekat dengan cewek lain!"
"bagaimana aku pura-pura saja pacaran sama mas revan biar ia tidak mengganggu ku lagi!"
"tapi kalau mas revan benar-benar cinta sama aku, dan tak mau melepaskan aku gimana, diakan sudah menyatakan cintanya pada ku?" pikir sisil lagi.
hingga jam menunjukkan pukul setengah sebelas, akhirnya sisil tertidur serta memeluk foto pernikahan dia dan ramon waktu itu.
__ADS_1