
ramon dan sisil berjalan-jalan di pantai, mereka menulusuri pantai dengan berjalan kaki di tepi laut yang indah, sambil bersenda gurau dan saling bergandengan tangan.
''sisil besok kau mulai masuk kuliah, asisten luki sudah mengurus semuanya!'' kata ramon.
''asisten luki mendaftarkan aku di fakultas sama dengan luna kan tuan?'' tanya sisil.
''ia, tapi aku minta kau jangan banyak ulah kuliah di sana, jangan genit, apalagi kalau kau ketauan selingkuh dariku, aku tak akan menguliahkan kamu lagi, kau mengerti!'' jelas ramon kepada sisil.
''ia tuan, aku akan selingkuh!'' jawab sisil ngasal, ia emang sengaja mau bikin ramon marah.
''apa kau bilang?tanya ramon lagi, ia mulai ingin memarahi sisil dan ingin menjitak kening sisil, tapi sisil berhasil, menghindar dan berlari meninggalkan ramon.
''awas kau yah, kau tak akan bisa kabur dari ku, kau kira aku tak bisa mengejar mu, hah!'' teriak ramon kepada sisil, dan ia bergegas mengejar sisil.
''dapat kau,'' ucap ramon lagi ia langsung menarik sisil, dan menggendongnya ia langsung membawakan sisil ke tengah laut.
sedangkan sisil langsung berteriak, ''ampun tuan.''
''apa kau mau aku tenggelamkan ke dalam laut ini?'' kata ramon lagi.
''tidak mau tuan, aku cuma bercanda tadi, jangan kau tenggelamkan aku dalam laut ini, aku bisa mati nanti,'' jawab sisil dengan wajah yang takut.
''mangkanya, jika aku serius, kau jangan bercanda terus,'' kata ramon lagi, ia langsung membawa sisil ke tepi lagi, masi dalam gendongannya.
''sisil aku sangat menyayangi mu, jadi jangan coba-coba kau selingkuh dari ku,'' ucap ramon lagi, ia langsung menurunkan sisil dari gendongannya dan memeluk sisil dengan erat.
''iya tuan,'' jawab sisil, dan sisil membalas pelukan ramon, mereka saling berpelukan mesra, tak peduli jika ada orang yang melihatnya.
''ayo kita pulang, hari ini sudah sore, kau harus mempersiapkan juga persiapan kuliah besok!'' ucap ramon lagi.
dan sisil hanya menganggukkan kepalanya.
akhirnya mereka pulang kerumah, setelah puas berjalan-jalan, setelah sampai di rumah sisil langsung mandi, dan ramon ke ruangan kerjanya, entah apa yang ia perbuat di sana.
setelah mandi sisil mempersiapkan keperluan untuk ia kuliah besok, sedangkan ramon pergi mandi, setelah itu mereka makan malam bersama.
saat makan malam bersama ramon tak menghabiskan makanannya ia terburu-buru menuju ke ruangan kerja dan menerima telepon seseorang, hal itu membuat sisil sedikit curiga, ''kenapa ia harus keruangan kerja jika menerima telepon seseorang? biasanya gak begitu?'' pikir sisil.
''ya sudah lah, lebih baik aku selesaikan makannya, dan langsung tidur, besok hari pertama aku kuliah,'' pikir sisil lagi, dan dia menyelesaikan makannya dan kembali ke kamar.
__ADS_1
sesampai di kamar, sisil sibuk mengirim pesan sama luna sahabatnya, ia lupa untuk segera tidur.
sedangkan ramon yang di ruangan kerjanya, lagi berbahagia ia mendapat kabar dari orang suruhannya, bahwa bunga akan pulang besok ke negara ini.
''aku tidak sabar bunga untuk bertemu kamu kembali, apakah perasaan kita masih tetap seperti dahulu?'' pikir ramon dalam hatinya.
setelah itu ia masuk ke kamarnya, ia melihat sisil cekikikan memainkan hemponnya, membuat ramon curiga.
''kau lagi ngapain cekikikan seperti itu?'' tanya ramon sambil ingin menyambar handphone sisil,
tapi sebelum ia dapat menyambarnya, sisil lebih dahulu menghindarkan hemponnya dari ramon, hal itu membuat ramon sedikit kecewa, karena ia tak tahu apa sumber dari sisil cekikikan.
''kenapa sih tuan ini, selalu ingin tahu saja dengan urusan orang?'' tanya sisil dengan sewot kepada ramon.
''wajar dong, aku ini suami mu!'' jawab ramon sedikit kesal.
''jika kau suamiku, mengapa aku tak boleh mendengar kau menerima telepon tadi?'' tanya balik sisil.
''oh....itu tak penting, kau dengar, itu tadi telepon dari rekan bisnisku,'' jawab ramon sedikit berbohong.
''sekarang kau jawab, kau lagi ngapain lewat hempon mu itu?'' tanya ramon sedikit penasaran.
''aku cuma berbalas pesan bersama luna tuan!'' jawab sisil malas.
''ampun tuan.....! kamu itu kenapa bertanya sedetil itu?'' jawab sisil lagi.
''sudah kau jawab saja!'' ucap ramon lagi, masih penasaran.
''bagaimana ini, masa aku ceritakan, ia pasti marah besar jika mengetahuinya,'' pikir sisil, ramon emang pasti marah jika ia tau apa isi pesan dari sisil dan luna, mereka berencana akan menjadi primadona di kampus, yang terutama ingin mencari pacar buat sisil.
''hey......jawab!'' kata ramon lagi penasaran.
''i'ini, tadi kami membahas bagaimana kalau kami nanti akan jadi mahasiswa yang amat pintar, jika kami belajar sama cowok yang amat pintar, walau cowoknya jelek sekalipun, jika cowok itu mintak imbalan kami tinggalkan he...he....kan lucu tuan!'' jawab luna asal, ia membohongi ramon.
''kalau begitu kau tak usah belajar-belajar seperti itu, aku tak suka, nanti ada guru les untuk mu, jika kau membutuhkan itu,'' kata ramon lagi.
''baik tuan,'' jawab sisil ia bahagia ramon percaya dengan kebohongannya.
teryata keduanya sama-sama bohong, untuk menjawab pertanyaan masing-masing, mereka mempunyai tujuan tertentu untuk menyimpan rahasia itu, setelah itu ramon mengajak sisil tidur.
__ADS_1
''ayo sekarang kita tidur, kau kan harus bangun cepat besok!'' ajak ramon.
''baik tuan,'' jawab sisil.
mereka berdua sudah berbaring di atas kasur, ramon melirik isterinya, dan ia mulai mendekati sisil, ia menarik sisil dalam pelukannya dan sisil tak mempersalahkan hal itu.
tapi saat ramon mulai membelai tubuh sisil, dari palak sampai ke paha, membuat sisil meremang jadinya, ia tak jadi memejam matanya, ia melihat ramon dengan intens dan ramon tersenyum kepada nya.
''tuan mau ngapain?'' tanya sisil, sedikit cemas.
''cuma menyentuh mu sedikit,'' jawab ramon, ia mulai menyentuh sisil lagi.
''tuan aku mau tidur cepat, besok aku mau kuliah,'' tegas sisil yang dari tadi sudah dak dik duk jantungnya tak beraturan saat ramon melakukan aksinya.
''cuma sebentar masa gak boleh?'' tanya ramon, dan ia mulai menindih sisil.
''tuan aku takut jangan begitu, nanti aku sakit lagi gimana!'' jawab sisil sedikit ketakutan karena ramon sudah ada di atas tubuhnya dan menyerang nya penuh nafsu, sisil saat ini memang masih ketakutan karena ulah ramon waktu merenggut perawan nya penuh berutal.
ia masih trauma atas kejadian itu.
''tidak sayang.......! aku tidak akan melakukannya seperti itu lagi, maafkan aku waktu itu sedikit kasar kepada mu, pasti tidak sakit lagi dan kau mau kan melayani aku malam ini, untuk melakukan kewajiban mu?'' tanya ramon, ia memang memintak persetujuan sisil dahulu, ia tak mau memaksa sisil lagi, tetapi ia akan memaksa dengan cara dari kata-katanya sebagai seorang isteri itu kewajiban sisil, maka sisil tak dapat menolaknya.
ramon memang menyesali telah memaksa sisil saat pertama kali merenggut keperawanan sisil.
ramon mulai menyerang lagi sisil dengan penuh kelembutan ia sekarang tak mau berbuat seperti waktu pertama itu menginginkan sisil sedikit berutal, ia sekarang lebih bisa mengatur birahinya, ia tak terburu-buru, ia akan memberi kesan baik, kepada sisil.
sisil hanya mampu berdiam, ia takut tapi ia tak juga menolak atas tindakan ramon, ia memejamkan matanya.
ramon hanya menyengir melihat isterinya seperti itu, ia tak akan membuang waktu sia-sia, saat penyatuan mereka untuk kedua kalinya, ramon masih merasa sulit, ''mengapa masih terasa sempit juga, semoga sisil gak terasa sesakit waktu itu ya!'' kata ramon dalam hatinya.
sedangkan sisil mencoba ingin teriak, tapi bibirnya langsung di ***** oleh ramon sehingga ia tak bisa melakukannya, tapi saat terakhir kali ia menikmatinya juga, dengan ******* yang tak bisa di bohongi.
setelah semua selesai, sisil menggerutu, ''kata nya tidak sakit lagi, tapi kenapa masih sakit?'' tanya sisil kepada ramon.
''kita kan baru melakukannya dua kali sayang, jadi wajar, kita harus melakukan nya sering- sering,'' kata ramon lagi sambil tertawa bahagia.
''enak saja, aku tak mau lagi, tuan bohong!'' jawab sisil sambil cemberut.
''alah.....kau juga menikmatinya tadi, kau tak bisa berbohong, kau mendesah kenikmatan tadi!'' jelas ramon lagi.
__ADS_1
sisil hanya memejamkan matanya dan ia memalingkan wajahnya, karena ia malu mendengar perkataan ramon, dan ia akan purak-purak tidur.
sedangkan ramon melihat sisil seperti itu, ia langsung memeluk sisil dari belakang dan mereka tidur.