
hari menunjukkan jam 7 pagi, ramon sudah rapi di depan cermin kamarnya, sedangkan sisil belum juga bangun tidur, ia masih terbuai dalam mimpinya.
ramon melirik sisil sebentar, ''dasar bocah gak tau apa hari sudah siang seperti ini, masih saja tidur,'' kata ramon dalam hatinya, sambil melangkahkan kaki nya untuk menuju ke ruangan makan.
''pagi tuan,'' sapa pelayan kepada ramon.
''pagi juga bik, jawab ramon.
''apa tuan mau sarapan?'' tanya pelayan itu lagi.
''ia bik,'' kata ramon lagi sambil duduk di depan meja.
pelayan itu langsung menyiapkan makanan untuk tuannya sarapan.
selesai sarapan ramon langsung pergi ke kantor.
sedangkan sisil, masi menguap di atas ranjang, ia melihat di sekitar ruangan kamar tidak ada ramon, ''syukurlah dia tidak ada jadi aku tidak terlalu malu,'' kata sisil dalam hati saat mengingat kejadian malam tadi.
sebelum sisil beranjak dari tempat tidurnya, ia mendengar, ''tok....tok.....tok, nona apa kami boleh masuk?'' dari balik pintu kamarnya.
''boleh jawab sisil,'' ia bergegas menuju ke arah pintu untuk membuka pintu itu, tapi sebelum sisil dapat membukanya pintu itu sudah terbuka, dan muncul lah empat wanita yang memakai baju yang seragam.
''eh nona kenapa turun dari ranjang, emang gak sakit lagi apa?'' tanya salah satu wanita tersebut, sambil tersenyum malu-malu kepada temannya.
mendengar itu, sisil jadi bingung, kapan dia sakit pikir sisil.
''aku sehat-sehat saja, kenapa anda mengatakan aku sakit?'' tanya sisil.
''hi......hi.....hi,'' mereka malah cekikikan serempak dan berbisik-bisik, mereka pikir nona mereka malu untuk berkata jujur kepada mereka prihal malam tadi.
melihat tingkah mereka begitu, membuat sisil sedikit kesal.
''baguslah kalau nona tidak sakit lagi, kami disini cuma mau tanya apa yang nona butuhkan sekarang?'' tanya salah satu dari mereka, melihat sisil sedikit cemberut.
''aku cuma mau mandi sekarang.'' jawab sisil lagi.
''apa nona mau kami membantu nona untuk mandi?'' tanya pelayan itu lagi.
''tidak usah, aku sudah besar emang aku bayi apa?'' jawab sisil lagi.
''apa nona mau sarapan di kamar saja, apa di ruangan makan?'' tanya pelayan itu lagi.
__ADS_1
''boleh juga kalau di kamar,'' jawab sisil lagi.
''baiklah nanti kami antar sarapan pagi nona di kamar,'' kata pelayan itu serempak lalu mereka keluar dari kamar sisil.
sisil yang melihat mereka sudah pergi, ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih tubuhnya.
selesai mandi sisil langsung sarapan di kamarnya, ''enak juga jadi orang kaya, makan enak-enak dan di antar ke kamar lagi, aku seperti ratu di rumah ini,'' kata sisil dalam hati sambil menyantap makanannya dengan penuh semangat.
setelah sarapan sisil menghubungi temannya lewat hemponnya, ia menanyakan apa kegiatan hari ini, karena tidak ada kegiatan antara mereka akhirnya mereka merencanakan untuk berjalan-jalan.
sisil sudah berias sangat cantik, dan memakai pakaian dengan rapi, ia keluar dari kamar untuk berjalan-jalan bersama temannya yang bernama luna.
saat sisil mau membuka pintu utama di rumah itu ia di tegur sama penjaga rumah, ''non sisil mau kemana?'' tanya penjaga itu kepada sisil.
''mau jalan-jalan,'' jawab sisil.
''maaf nona tuan ramon menitip pesan agar nona tidak keluar dari rumah.'' kata penjaga rumah itu lagi.
mendengar itu semua membuat sisil marah, ia tidak terima di perlakukan seperti itu, ''buka pintunya aku mau jalan-jalan, aku tidak mau mendengar alasan apa pun, kalian tidak bisa mengurung aku seperti ini,'' sambil mencoba menarik pintu itu, tapi percuma saja karena pintu itu di kunci, jadi sisil tak bisa membukakan, dan penjaga itu tidak mau mendengar kata sisil.
sisil akhirnya masuk ke kamar lagi, ia menangis meratapi nasibnya, ''hik...hik....hik....percuma saja jadi isteri orang kaya, tapi tidak boleh keluar dari rumah, aku seperti burung dalam sangkar emas, apa enaknya seperti ini, masih enak jadi orang miskin aku bisah bebas kemanapun aku mau,''rutuk sisil dalam hati nya.
ramon baru sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian malam tadi, ''bocah itu lagi ngapain ya?'' pikir ramon dalam hati nya.
ramon mengambil hemponnya, ia menelpon pelayan di rumah nya untuk menanyakan keadaan sisil, ''hallo bik, isteri ku lagi ngapain?'' tanya ramon dari dalam hemponnya.
''nona lagi di dalam kamar tuan, ia sangat sedih karena tidak di perbolehkan keluar rumah,'' jawab pelayan ramon dari dalam hemponnya.
''apa dia sudah makan siang bik?'' tanya ramon lagi.
''belum tuan, tadi disuruh makan tidak mau,'' jawab pelayan ramon lagi.
''ya sudah, berhubung aku juga belum makan suruh sisil mengantar makanan ku kekantor, biar kami makan sama-sama di sini,'' kata ramon lagi, ia langsung mematikan handphone nya secara sepihak.
setelah mendapat perintah tuannya seperti itu, pelayan itu langsung ke kamar sisil, untuk menyuruh sisil mengantar makanan buat tuan ramon.
sisil sebenarnya tidak mau, ia masih marah di perlakukan seperti itu, tapi karena merasa ia sudah rapi dan berdandan cantik, ia akhirnya mau juga mengantar makanan buat tuan ramon, dengan di antar sama supir pribadinya, yang sudah di tunjuk sama tuan ramon.
setelah sisil sampai di kantor tuan ramon, sisil langsung masuk, ia tak canggung lagi, karena ia sering dahulu mengantar makanan buat papanya, sisil berencana mau ketemu dulu sama papa nya, tapi ia di tegur sama asisten luki yang dari tadi mengawal sisil dari pintu masuk hingga sisil ingin berbelok arah ke ruangan tempat papanya kerja, ''nona sisil mau kemana?'' tanya asisten luki.
''aku mau ketemu sama papa ku dulu tuan!'' jawab sisil.
__ADS_1
''nona jangan panggil aku tuan, nanti tuan ramon marah, panggil saja aku luki, papa non sisil sudah tidak bekerja di sini lagi.'' jawab asisten luki.
mendengar cerita luki seperti itu, sisil sangat marah, ''apa sih mau nya om tua itu? setelah memaksa aku menikah dengannya dan sekarang papa ku di pecat nya, ini sungguh keterlaluan, ini tidak bisa di diamkan,'' rutuk sisil dalam hatinya sambil berjalan mengikuti asisten luki dengan wajah yang cemberut.
saat sisil berjalan melewati beberapa karyawan ramon,
banyak karyawan ramon yang memuji kecantikan sisil sehingga dia pantas menjadi isteri tuan ramon, tapi banyak juga yang mengejek sisil, karena bagi mereka sisil itu tidak pantas, baik umur dan juga tingkah lakunya.
sesampai di pintu ruangan tuan ramon luki menyuruh sisil untuk langsung masuk, sedangkan ia tidak masuk ia memilih tuk berada di luar ruangan tuan ramon, ia takut mengganggu mereka.
sisil langsung membuka pintu ruangan tuan ramon, ''ceklek,'' bunyi pintu di buka oleh sisil dan sisil langsung melangkah masuk ke ruangan itu, nampak lah dia sesosok ramon yang lagi fokus dengan laptopnya, tampak melihat kearah nya.
ramon yang mendengar pintu ruangannya di buka dan mendengar ada hentakan kaki seseorang masuk keruangan nya, tampak mengetuk dulu pintu, ia mulai mengomel, ''apa kamu tidak tau sopan santun sehingga masuk tampak permisi dahulu,'' kata ramon sambil mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang masuk keruangan nya.
setelah ia melihat siapa yang datang, ramon akhirnya tertawa apalagi melihat raut wajah sisil yang cemberut itu.
''teryata kamu bocah, pantas saja langsung menyelonong masuk ke ruangan orang, tampak permisi dulu, dasar tidak sopan,'' kata ramon lagi.
''bodoh amat harus sopan-sopan sama om, emang om ada sopannya apa? memecat orang dengan semaunya,'' jawab sisil masi dalam keadaan cemberut.
''hey bocah kamu bisa tidak, jangan panggil aku om, aku ini suami mu, bagaimana kalau karyawan ku mendengarnya, awas saja jika aku masih mendengar kau memanggil aku om, aku buat kau membusuk di rumahku, yang tak akan keluar rumah walaupun hanya sebentar, dan kau ku buat menjadi kutu rumah ku,'' kata ramon sedikit emosi kepada sisil.
sisil sejenak diam saja mendengar omelan ramon, tapi saat ramon mengatakan kutu rumah, membuat sisil bertanya kepada ramon, ''emang ada ya tuan kutu rumah? setahuku yang ada itu kutu buku, kutu rambut!'' kata sisil lagi.
''ada yaitu kamu,'' jawab ramon lagi.
''prihal aku memecat orang dengan semauku, aku rasa itu tidak betul, jika memang ada tunjukkan pada ku siapa orangnya?'' tanya ramon.
''ada, yaitu papa ku,'' jawab sisil sambil meletakkan ranjang makanan di atas meja ramon.
mendengar itu ramon hanya geleng-geleng kepala, ''asal kau tau isteri ku, aku memecat papa mu, itu karena aku tidak mau satu tempat kerja dengan mertua ku, aku merasa tidak enak jika nanti memerintah mertua ku, kau gak usah mikir yang tidak-tidak aku sudah memberi uang yang banyak kepada papamu, untuk bikin usaha sendiri,'' jelas ramon kepada sisil.
mendengar itu sisil sedikit lega, setidaknya papanya mempunyai usaha, untuk menghasilkan uang.
''baiklah tuan ramon itu makanan untuk mu, aku mau pulang dulu,'' kata sisil lagi, sambil keluar dari ruangan ramon.
''sisil aku mau kita makan sama-sama,'' panggil ramon kepada sisil saat sisil sudah melangkah keluar dari ruangannya.
''lain kali saja tuan aku lagi malas makan,'' jawab sisil lagi sambil berlalu.
''kalau begini sama saja aku makan sendiri,'' kata ramon lagi dalam hati nya sambil membuka ranjang makanan untuk makan siang.
__ADS_1