Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 010


__ADS_3

"T-Tuan Muda ...! Kapan datangnya?" tanya Toni terheran. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Pria itu berdecak. "Haish! Pak Toni ini kebiasaan. Saya 'kan selalu datang tanpa memberi kabar. Seperti sekarang ini," ucap pria yang dipanggil tuan muda oleh Toni, sambil memasukkan tangannya ke saku celana.


"Duduklah, Tuan. Saya belikan minuman hangat dulu. Mau teh atau kopi, Tuan?"


"Tidak usah, Pak Toni. Saya sudah minum kopi di rumah."


"Baiklah, Tuan," ucap Toni, seraya membungkuk, memberi hormat.


Sang tuan muda yang merasa risih dengan perlakuan Toni pun menegur, "Jangan terlalu formal begitu, Pak Toni! saya lebih muda dari Bapak."


Wajah Toni berubah menjadi gugup. "B-baik, Tuan. Maaf."


Lalu, Toni kembali duduk setelah dipersilakan oleh majikannya. Keduanya menunggu di luar ruang operasi, sambil mengobrol dan kadang bermain dengan ponsel masing-masing. Hingga tak terasa, lampu operasi yang tadinya menyala, kini sudah padam.


Lekas, sang tuan muda berdiri, menunggu keluarnya dokter dari ruang operasi. "Bagaimana operasinya, Dok?" tanya-nya dengan ekspresi penasaran, setelah dokter keluar, dan melepas maskernya.


"Berjalan lancar, saudara ...? ucap dokter, sambil memiringkan kepalanya.


"Aslan, Dok."


"Oh, iya.. saudara Aslan. Sekarang kita tinggal menunggu pemulihan pasca operasi yang memakan waktu berbulan-bulan. Saudara ini, kerabat dekat dari pasien yang saya operasi tadi 'kah?"


Sang tuan muda mengangguk mantap. "Iya, Dok. Saya kerabat dekatnya. Terima kasih, Dok. Dokter sungguh berjasa ... Terutama bagi saya."


"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu, karena ada beberapa obat yang akan saya resepkan untuk pasien."


"Baik, Dok. Terima kasih sekali lagi," ucap Aslan, tersenyum pada sang dokter.


Sang dokter hanya mengangguk dan menepuk pundak Aslan. Lalu, ia melenggang pergi, meninggalkan Aslan yang masih tersenyum lebar, karena mendapat kabar baik tentang Disha.

__ADS_1


Kemudian, Aslan langsung berbalik badan, menatap Toni. "Pak Toni, tolong carikan satu rumah yang sederhana, tetapi sangat layak untuk dihuni Disha dan keluarganya!" titah Aslan dengan wajah tegas, namun tetap bertutur sopan.


Aslan yakin, Disha dan keluarganya tidak akan mau menerima pemberian rumah yang mewah darinya. Menerima rumah yang sederhana pun, belum tentu diterima. "Namun, apa salahnya jika aku mencoba?" tanya Aslan dalam hati.


"Siap, Tuan!" Toni mengangkat tangannya, memberi hormat. Lalu, ia segera melaksanakan perintah dari sang majikan.


***


Malamnya, saat jam menunjukkan pukul setengah delapan, Hamzah diantar salah satu suster jaga, menemui sang adik yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Ia melihat wajah Disha yang tertutup dengan perban tebal. Lalu, ia memberanikan diri untuk berbicara pada Disha, setelah sudah berada di dekat sang adik.


"Disha ... Semoga kamu tidak marah pada kakakmu ini, karena sudah menandatangani surat persetujuan, tanpa meminta kesepakatan darimu," wajahnya memperlihatkan raut penyesalan.


Disha melenguh. Lalu, perlahan ia mulai membuka matanya. "Mas ... Mas Hamzah ...!" lirih Disha, sembari memutar bola mata, mencari keberadaan sang kakak.


"Mas di sini, Dek," Hamzah memegang dan mengusap punggung tangan Disha yang terpasang infus. "Tenanglah, Dek. Mas tidak akan ke mana-mana," ucap Hamzah dengan suara bergetar, karena menahan tangis.


Air mata Disha tumpah, kala ia mengingat kejadian terakhir, saat ada di perjalanan pulang. "Mas, apa Ibu sudah tau dengan keadaan kita?" tanya Disha, yang hanya bisa menatap ke langit-langit kamar perawatan.


Hamzah menggeleng pelan, dengan wajah sendu. Ia ingin menghibur adiknya, tetapi saat ini, ia juga butuh ibunya. Perasaan campur aduk yang dirasakan Hamzah, membuatnya tak kuat lagi menahan air matanya.


Disha yang mendengar kakaknya menangis, langsung menoleh ke kakaknya. "Tidak, Mas ...! ini bukan salah Mas Hamzah, ini musibah. Jangan salahkan diri sendiri, Mas!"


Hamzah masih terisak, merasa bersalah pada adik dan juga mendiang ayahnya. Ia merasa gagal menjadi seorang anak, sekaligus kakak laki-laki.


"Mas Hamzah, percayalah ... dibalik musibah yang kita terima saat ini, pasti ada hikmah di kemudian hari. Sudah, Mas Hamzah ... jangan menangis lagi ...." pinta Disha, yang akhirnya berusaha untuk tidak menangis.


"Seharusnya, Mas yang kuatkan dan hibur kamu, Dek. Ini malah kamu yang melakukannya," ucap Hamzah, dengan tersenyum kecil, merasa malu pada adiknya.


Disha ikut tersenyum, lalu tertawa lirih. "Tadinya mau sedih aku, Mas. Tapi, dengar ucapan Mas Hamzah barusan, aku jadi ingin tertawa."


Keduanya pun tertawa lirih, dengan kondisi air mata yang masih berlinang. Lalu, tiba-tiba terdengar suara pintu berdecit, pertanda adanya orang yang masuk.

__ADS_1


"Kalian berdua tenang saja! Saya sudah membawa Ibu kalian ke sini," Aslan masuk ke kamar rawat Disha, dengan membawa serta Maryam.


Setelah sebelumnya ....


"Bu, saya Aslan. Saya datang ke rumah Ibu, ingin mengabarkan sesuatu. Tapi, tolong Ibu kuatkan hati, ya!" ucap Aslan, saat sudah bertemu dengan Maryam, ibu dari Hamzah dan Disha.


Maryam mengangguk pelan. "Baiklah ... Ada apa, Nak Aslan?" tanya Maryam penasaran.


Aslan pun meminta ijin dengan sopan, untuk duduk bersama Maryam di dalam rumah. Setelahnya, Aslan menceritakan semua, tentang kecelakaan yang dialami kedua anak Maryam, dengan pelan dan hati-hati. Hal itu ia lakukan, agar Maryam tidak terlalu khawatir.


"Jadi, saya langsung ke sini, setelah operasi yang dilakukan pada Disha selesai, Bu," ungkap Aslan.


Maryam yang tengah menangis pun menjawab, "Terima kasih, Nak Aslan. Jika tidak ada Nak Aslan, mungkin kondisi Disha akan berbeda," ucap Maryam, dengan menangkupkan kedua tangan.


"Tidak, Bu! jangan menangkupkan tangan seperti ini pada saya! saya melakukan semuanya, murni karena ingin membantu," tegur Aslan, sembari memegangi tangkupan tangan Maryam.


Lalu, Maryam pun hanya bisa menangis, setelah mendengar ucapan Aslan, yang ia rasa sangat tulus. "Terima kasih, Nak Aslan. Terima kasih ...!"


"Sudah Bu, sudah ... Saya sudah mendapat ucapan terima kasih berkali-kali dari Ibu. Mari, saya antarkan Ibu ke rumah sakit, tempat di mana kedua putra-putri Ibu sedang dirawat," ajak Aslan, yang kemudian mendapat anggukan dari Maryam. Setelahnya, Aslan membawa Maryam pergi, dengan mobilnya.


***


Maryam menghampiri Hamzah dan Disha, bergantian. Lalu, ia membantu Disha untuk duduk. Maryam pun menjelaskan pada Disha, tentang kondisi Disha saat ini.


Sedangkan Disha hanya bisa pasrah menerima keadaan. Ia merasa sangat sedih dan terpukul, harus kehilangan wajah aslinya. Namun, sang Ibu selalu berusaha untuk menghibur dirinya. Kemudian, Maryam mengusap lembut, lengan Disha.


Agak lama, Disha menangis. Setelahnya, ia mulai kembali semangat untuk terus menjalani hari-harinya. Maryam, Hamzah dan Aslan, turut senang mendapati Disha, yang mulai menerima kondisinya.


"Jadi, kamu adalah majikannya pak Toni?" tanya Hamzah pada Aslan, dengan tatapan terkejut.


Aslan mengangguk. "Benar, Mas Hamzah. Perkenalkan, saya Aslan. Aslan Putra Mahendra," ucap Aslan, sembari mengulurkan tangannya pada Hamzah.

__ADS_1



"Apa?! Aslan Putra Mahendra?" seru Disha dan Hamzah bersamaan.


__ADS_2