
"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di depan ruangan saya?"
Aslan memasang wajah tegasnya. Ia tak suka jika banyak karyawan yang terlalu ikut campur urusan pribadinya. Disha yang ada di belakang Aslan pun berusaha menenangkan Aslan.
"Tenang, Pak Aslan. Mereka mungkin ingin tahu kebenaran tentang pertunangan Bapak. Iya kan?" Disha menatap semua karyawan yang sedang berkumpul itu.
Tak ada yang berani menjawab Disha, semuanya diam. Hingga akhirnya, mereka membubarkan diri.
"Huft ... Ada-ada saja karyawan di kantor ini. Oh iya, Disha, silakan bekerja kembali!"
"Baik, Pak Aslan. Terima kasih."
Aslan dan Disha kembali bekerja. Aslan memperhatikan Disha yang sedang kembali ke meja kerja. Setelah Disha sudah duduk, barulah ia Aslan masuk ke ruang kerjanya.
Hari ini, cuaca begitu panas. Aslan mengambil kesempatan itu untuk mengajak Disha membeli sesuatu yang menyegarkan. Namun, Disha yang merasa tak enak pada karyawan lain, menolak ajakan Aslan dengan halus.
Aslan tak marah, tak juga memaksa. Ia lebih memilih minta tolong pada salah satu karyawan di kantornya, untuk membeli beberapa mangkok sop buah. Aslan juga meminta buah potong segar. Uangnya? Tentu saja dari Aslan.
Saat karyawan yang dimintai tolong oleh Aslan telah kembali, pintu ruangan Aslan diketuk. Aslan pun mempersilakan masuk. Setelahnya, Aslan dengan cepat bertanya, "Apa Disha masih ada di meja kerjanya?"
"Masih, Pak. Dia terlihat agak sibuk tadi. Apa Bapak ingin saya memanggilkan Disha?"
"Tidak perlu, terima kasih. Oh ya, terima kasih juga, sudah mau saya repotkan. Saya ambil sebagian, sisanya kamu bagikan dengan karyawan lain," titah Aslan yang sudah selesai memisahkan beberapa makanan.
"Baik, Pak. Terima kasih," ucap si karyawan yang kemudian berlalu pergi.
"Hah ...! Semoga saja, pak Toni bisa sampai kantor tepat waktu. Aku ingin bisa makan siang bersama Disha di sini," monolog Aslan dengan senyum manisnya.
Aslan : Disha, kita makan siang di ruangan ku, bagaimana?
Satu pesan telah dikirim Aslan melalui aplikasi berwarna hijau. Ia terus memegang ponselnya, karena ingin segera membaca balasan dari Disha.
Disha : Baik, Pak. Sebentar lagi saya akan ke ruangan Bapak.
Aslan pun merasa girang, hingga beberapa kali ia mengangkat tangannya ke udara dan berucap, "Yes yes yes! Akhirnya, makan bersama Disha!"
Sementara Disha yang masih bergelut dengan pekerjaannya, menggeleng heran. Bukan ia tak suka, hanya saja ia masih merasa aneh.
"Sebenarnya, dia orang yang baik, tapi aku merasa belum pantas mendapatkan perhatiannya. Huft ...," lirih Disha, sembari menyandarkan kepalanya ke punggung kursi.
"Siang, Nona Disha."
Disha langsung membenarkan posisi duduknya. "Selamat siang ... Eh, Pak Toni."
Toni tersenyum ramah. "Bagaimana kabar Nona hari ini? Kebetulan, saya di suruh datang ke sini, mengantar makanan untuk tuan Aslan."
__ADS_1
"Oh, begitu. Mau saya bantu antarkan ke dalam, Pak?" Disha pun berdiri.
"Tidak perlu, Nona. Tapi, silakan Nona ikut dengan saya ke ruangan tuan Aslan. Pasti tuan menunggu Nona di dalam," kata Toni.
Disha mengangguk dan tersenyum. "Baiklah, Pak Toni."
Disha dan Toni berjalan masuk ke ruangan Aslan. Sedangkan Aslan, tengah sibuk menata sop buah dan buah potong yang tadi di belikan oleh karyawannya.
"Masuk, Pak Toni!" seru Aslan, sambil tetap sibuk menata meja.
"Ekhem ...!"
"Pak Toni, saya akan makan siang bersama Disha. Apa menu siang ini, yang di masak oleh istri Bapak?"
Wajah Disha terheran. Ia tak menyangka, Aslan sampai meminta dikirimkan makanan dari rumah, agar bisa makan bersama dengannya.
"Tuan ...," panggil Toni, berusaha untuk memberitahu Aslan, bahwa Disha sudah ikut masuk bersama dirinya.
Disha yang melihat hal itu, berusaha menahan tawanya dengan cara melipat bibir. Begitu pun dengan Toni.
"Iya, Pak Toni, katakan saja. Saya sedang menata meja ini, agar terlihat rapi saat makan bersama Di — sha," ucap Aslan sedikit tergagap setelah menoleh ke pintu masuk.
Aslan berjalan mendekati Toni. "Pak Toni, kenapa tidak mengatakannya sedari tadi?" bisiknya, dengan wajah merona malu.
Aslan hanya menarik napas dalam setelah mendengar jawaban Toni. Lalu, Toni memberitahukan menu makan siang hari ini pada Aslan.
"Baiklah... Terima kasih, Pak Toni. Biar saya yang menghidangkan." Aslan langsung mengambil kotak makanan tiga susun yang dibawa oleh Toni. Ia melakukan itu, agar tidak mendapat penolakan dari Toni.
"Tuan ini, selalu saja begitu...," ucap Toni, lirih.
"Apa di rumah, Pak Aslan juga bersikap begitu, Pak?" tanya Disha, penasaran.
Toni langsung menatap Disha dan tersenyum. "Tentu saja, Nona. Saya dan istri saya, sangat menghormati Tuan Aslan. Dia sangat baik, seperti ayahnya," jawab Toni.
Disha manggut-manggut mendengar jawaban Toni. Lalu, Toni mempersilakan Disha untuk duduk. Sedangkan Toni, ia ingin membantu Aslan. Namun, Disha segera mencegahnya.
"Biarkan saya yang membantu Pak Aslan, Pak," katanya.
"Baiklah kalau begitu, Nona. Tuan Aslan, Nona Disha, saya permisi dulu, ya! Selamat makan siang," ucap Toni.
Aslan dan Disha hanya mengangguk tersenyum. Lalu, Disha mengantar kepergian Toni. Setelahnya, ia menghampiri Aslan yang tengah sibuk membuka kotak makanan.
Disha tertawa melihat Aslan yang kesulitan membuka kotak makanan. "Pak Aslan, begini cara membukanya," kata Disha, sembari membuka kotak makanan itu.
Tanpa sengaja, tangan keduanya bersentuhan. Hal itu membuat Aslan dan Disha sedikit canggung. Aslan mengusap tengkuknya, sedangkan Disha memalingkan wajahnya yang merah.
__ADS_1
"Baiklah Disha, mari kita mulai makan siangnya!"
"I-iya, Pak."
Lalu, keduanya pun makan siang bersama.
***
Malam hari, di kamar Disha ....
"Mba, menurut kamu, apa aku tidak salah memilih Aslan sebagai calon suami?"
Riyani yang tengah menemani Disha di kamar itu pun menjawab, "Insya Allah tidak, Dek. Justru, Mba setuju banget kalau kamu menikah dengan Aslan. Setelah mendengar cerita kemarin tentang masa lalu kamu, Mba jadi ikut benci pada Iyan dan Sisca. Ugh ...!" Riyani meninju kasur.
"Hahaha. Mba Riyani ada-ada saja. Tapi, aku pun juga begitu, Mba."
"Kapan rencananya kalian menikah, Dek?"
Disha terdiam, berpikir sejenak. "Apa akan secepat itu, Mba? Ini 'kan bulan November, mungkin nanti saat bulan Januari. Hehehe."
"Lebih cepat lebih baik, Dek."
Keduanya mengobrol panjang, hingga tak terasa, waktu sudah satu jam lebih berlalu. Hingga kemudian terdengar suara deru mobil dari luar. Itu adalah Maryam dan Hamzah, yang baru saja pulang dari toko kue. Hamzah selalu menemani ibunya, memantau toko. Hamzah juga bekerja sebagai pengantar kue pesanan.
"Assalamualaikum ...!" seru Hamzah dan Maryam kompak.
"Waalaikumsalam," sahut Riyani dan Disha, sambil membuka pintu utama.
"Alhamdulillah... Selamat datang Ibu, Mas Hamzah," ucap Disha, mencium tangan kedua Ibu dan kakaknya bergantian.
Riyani juga melakukan hal yang sama. "Bu, Mas... aku buatkan teh panas dulu, ya!"
"Wah, terima kasih mantunya Ibu," ucap Maryam mengusap lembut pipi Riyani.
Hamzah tersenyum melihat pemandangan di depannya saat ini. "Oh iya, Dek. Mas mau minum kopi hitam saja deh," katanya, sambil mengedipkan sebelah matanya pada Riyani.
"Dih, ganjen!" celetuk Disha.
"Iri? Bilang, bos. Hahay...!" balas Hamzah.
"Ish! Apaan sih." Disha melipat tangan ke depan dada, dan berlalu pergi, menuju kamar lagi.
Sedangkan Maryam, Hamzah dan Riyani, hanya bisa tertawa melihat tingkah Disha yang seperti anak kecil.
Di kamar, Disha mengambil headset dan menyetel lagu favoritnya. Saat sedang asyik mendengarkan lagu, ponselnya tiba-tiba berdering. Terlihat tulisan nomor tak dikenal di ponselnya. Dengan rasa malas tapi juga penasaran, Disha pun akhirnya menjawab telepon itu.
__ADS_1