Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 043


__ADS_3

Aslan menceritakan tentang ruangan yang dipertanyakan oleh Mama-nya. Tentu saja dengan mengarang, karena ia belum bisa memberitahukan yang sebenarnya pada kedua orang tuanya. Untung saja, Rita percaya dengan cerita Aslan.


"Ya sudah, kamu jaga baik-baik barang itu ya! Mama mau ke kamar dulu. Pasti Papa-mu masih tidur, padahal sudah jelang sore begini," kesal Rita seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar.


Aslan bernapas lega. Akhirnya ia terbebas dari pertanyaan yang membuatnya harus berpikir keras saat menjawabnya. Lalu, ia pun pergi ke kamar.


"Pa, bangun! Ini lho sudah jelang sore, masih tidur saja sih!" Rita mengguncang badan Bima berulang-ulang.


Bima melenguh dan membuka matanya perlahan. Dilihatnya sang istri yang tengah memasang wajah cemberut karena saat pulang tak disambut. "Ya ampun, Mama ini kenapa? Papa 'kan hanya istirahat sepanjang hari di waktu libur kerja. Apa salahnya?"


Bima lalu duduk dan menatap Rita dengan tersenyum jahil. Rita mendengkus kesal dan melipat tangan ke depan dada. "Mama minta ditemani keluar saja, Papa nolak. Giliran Mama pulang, Papa tak menyambut kedatangan Mama, ish!" kesal Rita yang kemudian memalingkan wajahnya.


Bima menggeleng heran, lalu mendekatkan wajah dan meletakkan dagunya ke pundak Rita. "Ma, memangnya Mama tadi pergi ke mana? Dan Mama pulang jam berapa? Hoam ...!"


Rita berbalik dan memukul lengan suaminya. "Iwww! Papa jorok!" Lalu, ia beranjak pergi dan turun menuju dapur.


Bima tertawa karena berhasil menjahili istrinya. Lalu, ia juga ikut bangkit dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelahnya, Bima menyusul Rita yang sudah lebih dulu turun ke lantai bawah.


Saat melewati kamar Aslan, Bima mendengar siulan. Karena penasaran, ia pun mengetuk pintu kamar Aslan.


"Eh, Papa. Ada apa, Pa?"


"Papa mendengar kamu bersiul. Kamu sedang bahagia hari ini ya, Nak?"


Wajah Aslan memerah. "Aih, Papa tahu saja. Hehehe."


"Hari ini sudah pergi bersama Disha?"


Aslan membawa Papa-nya masuk dan menceritakan tentang hari ini yang ia lalui bersama Disha. Bima ikut senang melihat Aslan bahagia.


"Berarti, minggu depan kalian sudah menikah. Syukurlah kalau semua persiapan sudah selesai."


"Oh iya, Pa. Kalau misalnya besok aku menjemput dan mengantar Disha pulang kerja, boleh 'kan?" Aslan memasang wajah memelas.


Bima menarik napas, lalu mengeluarkannya perlahan. "Tentu saja, tidak boleh! Kalau bertemu di kantor karena urusan kerja, tak masalah. Tapi, jangan sampai kalian pergi berdua. Bahkan, seharusnya kamu sudah meliburkan Disha, Nak."


"T-tapi, Pa ... Aku bisa terserang rindu berat jika tak berjumpa dengan pujaan hati," kata Aslan masih mencoba menawar.


"Sekali tidak, tetap tidak. Begini saja, Papa akan telepon Disha. Besok, dia sudah tak boleh lagi berangkat ke kantor. Sebagai gantinya, kamu boleh minta tolong pada pak Toni!"

__ADS_1


Wajah Aslan yang tadinya penuy harap, kini berubah lesu. "Yaaah ... Papa ini memang tak berperikebujangan. Haduhhh."


"Apa? Apa kamu bilang?"


Aslan langsung berlari keluar dan turun ke lantai bawah, setelah mendapat sedikit bentakan dari Bima. Ia tak berani menoleh ke belakang, karena takut dikejar oleh Papa-nya sendiri.


Melihat Aslan yang berlari, Bima teringat pada Aslan kecil, yang selalu ingin dekat dengan Papa-nya. "Sebentar lagi, kamu akan menjadi pemimpin rumah tangga, Nak ...," kata Bima dengan raut terharu. Hingga tak terasa, bulir bening menetes dari sudut mata dan ia langsung menyekanya.


***


Pagi harinya, Disha yang tadinya akan bersiap ke kantor, kembali berganti pakaian. Ia sudah ditelepon oleh Bima dan Aslan juga menyetujui usulan Bima.


"Nduk, hari ini kamu di rumah saja 'kan?" tanya Maryam yang sudah masuk ke kamar Disha. Lalu, ia duduk di tepi ranjang.


Disha memegang tangan Maryam dan tersenyum. "Tidak, Bu. Hari ini, aku akan di rumah saja. Mba Riyani juga di rumah saja 'kan, Bu?"


"Iya, Nduk. Kamu temani mba Riyani saja ya! Ibu dan mas-mu akan pergi ke toko."


"Baiklah, Bu. Nanti aku akan menemani mba Riyani di kamarnya."


Maryam pamit pergi pada Disha. Disha pun mengantar Maryam sampai ke pintu utama. Hamzah sempat menitipkan Riyani pada Disha dan Disha pun menyanggupinya. Setelah Maryam dan Hamzah pergi, Disha langsung menuju ke kamar Kakak iparnya itu.


***


"Pak Toni, semua berkas yang Disha siapkan sudah diambil semua?" tanya Aslan sambil terus berjalan tanpa melihat ke arah karyawan yang sedang bergerombol.


Toni yang berjalan di samping Aslan menjawab, "Sudah, Tuan. Ini berkas-berkasnya." Toni memperlihatkan berkas yang dimaksud oleh Aslan dan langsung diangguki oleh Tuan-nya.


Meeting berjalan lancar tanpa ada gangguan. Hanya saja, Aslan tidak bisa untuk tak memikirkan calon istrinya, Disha Maharani. Aslan merindukan Disha, yang biasanya selalu menemani kapanpun ia meeting. Berulang kali Aslan mengecek ponsel, berharap ada pesan atau panggilan tak terjawab dari Disha. Tapi hasilnya nihil.


Melihat kegelisahan Aslan, Toni pun mendekati Tuan-nya. "Tuan, hari ini nona Disha tidak pergi ke mana-mana. Dia di rumah menemani Kakak iparnya yang sedang hamil muda."


"Hamil muda? Maksud Pak Toni, mba Riyani hamil?"


Toni menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya tho, Tuan. Masa mas Hamzah yang hamil."


"Hahaha ...!" Aslan dan Toni tertawa bersama. Lalu, keduanya istirahat sebentar sebelum kembali melanjutkan pekerjaan.


***

__ADS_1


"Mba, aku mau buat jus dulu ya? Mba Riyani ingin jus apa?" kata Disha yang sedang berada di kamar Riyani.


Riyani berpikir sebentar. "Ada buah apa saja Dek, di dapur?"


"Ada melon, mangga, jeruk, alpukat dan naga. Mba, mau yang mana?"


"Ya sudah, Mba ikut kamu saja, Dek!"


Disha mengangguk semangat dan segera pergi ke dapur. Lalu, ia mencari blender, pisau dan mengeluarkan buah dari kulkas. Dipotongnya buah-buahan itu dengan cekatan. Kali ini, Disha sedang ingin minum jus melon. Jadilah, ia membuat dua gelas jus melon.


Selesai membuat jus, Disha langsung membawanya ke kamar Riyani. Riyani yang sempat kelelahan dan muncul flek, membuatnya harus istirahat total sampai usia kehamilan tertentu.


"Ini ya Mba, jus-nya. Special untuk bumilda," kata Disha penuh semangat sambil memberikan satu gelas jus.


Riyani menerima gelas itu. "Bumilda itu apa, Dek?"


"Ibu hamil muda. Hehehe."


"Owalah, ada-ada saja. Hahaha."


Keduanya lalu duduk di atas ranjang dan meneguk jus bersama. Saat Disha akan meneguk kembali, ponselnya berbunyi. Ada satu pesan masuk dan ia langsung membukanya.


Elma : Hei, wanita murahan! Enak sekali kamu bisa menikah dengan Aslan. Aku yang lebih dulu dijodohkan dengan dia, tapi malah kamu yang dipilih dan dinikahi olehnya!


Disha menarik napas dalam. Wajahnya terlihat sedikit kesal dan tak peduli dengan pesan itu. Riyani yang penasaran, menanyakan apa yang terjadi pada Disha. Lalu, Disha menjelaskan kalau baru saja, Elma mengiriminya pesan. Entah dari mana Elma tahu kontak whatsapp-nya.


"Terus, kamu akan bicarakan hal ini dengan Aslan tidak?"


"Tak perlu, Mba. Aku bisa atasi ini sendiri," kata Disha mantap.


Riyani mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu meneguk lagi jus yang masih tersisa setengah gelas. "Ini ngomong-ngomong, jus-nya best banget, Dek! Yahuuud! Akhhh ... Seger banget!"


"Wah, syukurlah kalau Mba Riyani suka dengan jus-nya."


Ponsel Disha menerima pesan lagi. Dengan sedikit malas, Disha membuka kunci layar ponselnya.


Aslan : Hai, calon istri. Sedang apa hari ini?


Disha tersenyum malu setelah membaca pesan dari Aslan. Dan Riyani sudah bisa menebak, siapa yang mengirim pesan kali ini.

__ADS_1


__ADS_2