
Beberapa hari telah berlalu. Elma masih setia mengawasi hari-hari Disha dan Aslan. Ia sendirian tanpa ditemani sang Kakak, Yoga.
"Halo, ada apa kak?"
"...."
"Apa?! Oke oke. Aku pulang sekarang."
Elma meletakkan ponselnya dan membereskan tas yang tadi berantakan. Mendengar kabar mengejutkan dari Yoga, Elma menjadi kesal dan menggerutu.
"Baru saja, aku ingin melihat bagaimana Disha kehilangan calon bayinya. Tapi, kabar mengejutkan dari kakak malah membuat aku jadi ... Argh!" Elma memukul setir, lalu melajukan mobilnya.
***
Aslan tengah menyiapkan vitamin yang harus diminum oleh Disha selama hamil. Ia tak menceritakan tentang wanita yang Aslan dan Disha temui di rumah sakit serta di cafe, yang sebenarnya Aslan ketahui identitasnya.
"Disha, mungkin hari ini akan ada lembur. Tapi tenang saja, akan aku usahakan untuk selesai secepat mungkin pekerjaan di kantor." Aslan mengusap pucuk kepala Disha. Satu tangannya lagi mengusap perut sang istri dengan gemas.
"Iya, Mas. Selesaikanlah tanpa terburu-buru. Oh iya, jangan lupa titipanku hari ini ya, Mas!"
"Apa itu?"
Disha mengerucutkan bibirnya sambil menepis kedua tangan Aslan. "Ah, Mas Aslan suka gitu. Padahal baru tadi pagi aku bilangnya."
Aslan tertawa dan mencubit pelan kedua pipi Disha. "Ya ampun, istriku yang cantik nan manis. Kenapa jadi mudah ngambek sih sekarang?"
__ADS_1
Aslan lalu mencium kening Disha. "Martabak coklat kacang dengan adonan pandan dan martabak telor special daging sapi. Siap, Nyonya Aslan!" Aslan memberi hormat pada Disha dengan mengangkat tangan ke pelipisnya.
Disha meraih tangan sang suami untuk diciumnya dengan takzim. "Hati-hati saat bekerja, Mas!"
"Siap, Nyonya Aslan! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Aslan keluar dari kamar dan menuju ke mobil yang sudah terparkir di halaman rumah. Sebelum menjalankan mobilnya, Aslan menelepon Toni.
"Halo, pak Toni. Bagaimana keadaan di sana?"
"Aman, Tuan. Dia sedang pulang ke rumah."
"Bagus, pak Toni. Sebentar lagi, saya menyusul."
***
Elma yang baru saja sampai di rumahnya, berlari ke dalam rumah dan mencari keberadaan sang Kakak. "Kak, Kakak di mana?"
Elma mengedarkan pandangan ke tiap sudut dalam rumah. Lalu terdengar suara dari lantai atas.
"Elma, Kakak di sini!" Yoga berteriak dari lantai atas.
Elma pun langsung berlari menaiki tangga menuju ruang keluarga yang ada di lantai dua.
__ADS_1
"Loh, kok Pak Toni di sini?"
Elma merasa heran kala melihat Toni sudah duduk bersama kedua orang tua dan kakaknya.
"Saya di sini, atas perintah dari tuan Aslan. Kebetulan, dia akan segera menyusul ke sini."
Elma dan Yoga terperanjat. Bagaimana tidak? Aslan pasti akan melakukan sesuatu yang mengejutkan kakak beradik itu.
Elma perlahan berjalan mendekati Yoga dan berbisik, "Kak, jangan-jangan, Aslan sudah tahu semuanya tentang rahasia kita?"
"Ssst! Diamlah, Elma! Berdoa saja, semoga Aslan ke sini karena ada hal yang ingin dia bicarakan."
"Benar sekali! Aku memang ingin membicarakan sesuatu dengan kalian. Terutama, dengan kamu!" Aslan baru saja tiba di lantai dua dan menunjuk Elma.
Elma yang setengah membungkuk, kembali menegakkan badan. Keringat mulai muncul membasahi pelipisnya.
"Kalian berdua, selama ini melakukan suatu kejahatan 'kan? Aku tahu semuanya. Termasuk ...." Aslan menggantung ucapannya.
Aslan berjalan mendekati Toni, lalu duduk di sebelah sang tangan kanannya itu. "Saat kamu pergi ke rumah sakit dan menukar salah satu obat milik istriku!"
Aslan menatap tajam Elma. Hal itu membuat Elma menjadi salah tingkah.
'Bagaimana bisa Aslan tahu hal itu? Padahal aku rasa, aku sudah main aman. Tapi tetap saja, ujungnya aku ketahuan lagi. Argh!' Elma terus saja merutuki kebodohannya dalam membalas Disha.
Elma lupa kalau Aslan punya tangan kanan, yaitu Toni. Dan Elma juga lupa, tidak hanya Toni yang selalu mengawasi gerak geriknya. Ada banyak anak buah Aslan yang lain, yang selalu melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan oleh Elma.
__ADS_1
"Bagaimana, Elma? Apa kamu juga siap menyusul Iyan dan Sisca?" Aslan tersenyum meremehkan.
Elma dan Yoga saling tatap, merasa heran bercampur bingung.