
"Hai, Aslan ...!" seorang wanita dengan setelan casual, masuk ke ruangan Aslan.
Disusul oleh Disha, yang kemudian meminta maaf pada Aslan. "Maaf, Pak Aslan ... Saya sudah berusaha mencegahnya masuk. Tapi —"
"Tidak apa-apa. Silakan kamu kembali bekerja," potong dan titah Aslan.
Disha hanyak mengangguk pelan. Lalu, ia keluar dari ruangan itu, meninggalkan wanita tadi bersama Aslan.
Setelah kepergian Disha, Aslan menatap malas wanita itu. "Untuk apa, kamu datang ke sini?"
"Kamu tidak mempersilakan aku untuk duduk, Aslan?"
"Tidak perlu. Karena aku tak mau berlama-lama berbincang denganmu!"
"Hahaha. Benarkah begitu, Sayang? Ups." Tawa wanita itu terdengar nyaring. Ia menutup mulut setelah berucap, memainkan mata dan senyum liciknya.
"Diam kamu, Elma!" bentak Aslan, seraya bangkit dan menggebrak meja.
Elma kaget, mundur dua langkah. Tak disangka, kedatangannya ke kantor itu dengan modal nekat, malah menyulut kemarahan Aslan.
"Aku ke sini, karena aku menagih perjanjian perjodohan kita, Aslan!" ucap Elma, dengan intonasi sedikit meninggi.
Rahang Aslan mengatup rapat, pertanda bahwa ia tengah menahan gejolak emosi. Meski rasanya sulit, sebisa mungkin Aslan tidak terpancing untuk lebih marah lagi pada Elma.
"Itu urusan orang tua kita, bukan urusan mu, Elma! Tolong, jangan pernah lagi, datang ke kantor ku. Silakan keluar sekarang juga ...!" Aslan merendahkan nada bicaranya, tetapi penuh penekanan.
Elma berdecak kesal, dengan melipat tangan ke depan dada. Wajahnya kusut, ingin menjawab Aslan. Tapi, ia mengurungkan niatnya itu.
"Baiklah, Aslan. Untuk kali ini, kamu masih bisa bebas. Tapi, ke depannya aku pastikan! kamu akan menerima perjodohan itu!" ucap Elma, yakin.
Aslan hanya menatap tak percaya pada Elma. Lalu, ia mengedikkan bahu dan menunjuk pintu tanpa menatap Elma.
Elma merasa kesal mendapat perlakuan seperti itu dari Aslan. Dihentakkannya kaki, dengan begitu keras, karena tak terima dengan sikap Aslan.
Elma berjalan keluar, sambil celingukan mencari keberadaan Disha. Setelah melihat Disha, ia langsung menghampiri Disha dan berkata, "Ini semua gara-gara kamu! kamumenggoda Aslan 'kan? harusnya kamu jadi perempuan itu punya rasa malu sedikit!"
Disha yang tidak mengetahui apa-apa, hanya bisa terdiam mendapat ucapan seperti itu. Kemudian, tak sengaja Aslan mendengar ocehan dari Elma pada Disha. Aslan pun menghampiri Elma dengan raut emosi dan mencengkeram lengan Elma erat.
__ADS_1
Dibawanya Elma, menjauh dari meja kerja Disha. Aslan melepas cengkramannya dengan kasar. Ia memperingati Elma untuk menjauhi Disha. Elma dengan wajah cemberut, hanya menatap marah pada Aslan. Ia tak terima, karena Aslan membela Disha.
Setelah memperingati Elma, Aslan langsung berbalik pergi meninggalkan Elma di lobi. Sedangkan Elma, ia masih menatap kepergian Aslan dengan tatapan penuh amarah.
***
Di tempat lain, Hamzah sedang makan siang bersama Toni di kedai dekat toko kue. Sedangkan para pekerja yang sedang merenovasi toko, sudah kembali bekerja.
Orang misterius yang mengawasi Hamzah dan Toni, juga mengikuti keduanya. Toni tidak menyadari kehadiran orang misterius itu. Orang misterius itu, terus saja mengambil gambar Hamzah dan Toni. Sesekali, ia mengirimkan pesan kepada orang yang menyuruhnya.
Selesai makan siang, Toni dan Hamzah kembali ke toko kue untuk mengawasi kembali, proses renovasi toko. Salah satu pekerja renovasi itu mengatakan, kemungkinan sore hari sudah bisa selesai.
"Saat ini, proses renovasi sudah hampir mendekati 100%. Tinggal merapikan beberapa bagian lagi," ucap salah seorang pekerja, pada Toni.
"Baik, Mas. Terima kasih ...!" jawab Toni.
Hamzah sangat senang mendengar hal itu, begitu pula dengan Toni. Toni menyarankan Hamzah untuk mengabari Maryam, tetapi Hamzah menolaknya.
"Biar nanti, Ibu saya tahu Setelah semua ini selesai, Pak Toni. Ini pasti akan menjadi kejutan yang membuat Ibu saya senang ...!" kata Hamzah, dengan wajah berbinar.
"Terima kasih, Pak Toni. Terima kasih, sudah membawa banyak orang pekerja, untuk merenovasi toko ini."
"Mas Hamzah ini, sudah saya katakan ... berterima kasih lah nanti, pada tuan Muda saya. Hehehe."
"Iya, dengan Aslan pun, nanti saya tidak akan lupa, Pak Toni. Dia sudah banyak membantu, mulai dari Disha yang harus melakukan operasi wajah, hingga sekarang ini ... oh iya, Pak Toni," Hamzah tiba-tiba teringat sesuatu.
"Ada apa, Mas Hamzah?" Toni penasaran.
"Orang tua Aslan, apa tidak curiga kalau putranya itu, membantu keluarga saya sampai seperti ini, Pak?"
"Tenang saja, Mas Hamzah. Tuan Aslan itu —"
"Apa sudah selesai, proses renovasinya?"
Toni dan hamzah sama-sama menoleh ke belakang. Ternyata, Riyani menyusul Hamzah. Hamzah pun menyambut istrinya itu, dengan senyuman hangat.
"Belum, Dek. Tapi, sebentar lagi akan selesai. Kamu dari mana? Ibu sedang apa di rumah? apa tadi kamu sudah makan?" tanya Hamzah bertubi-tubi.
__ADS_1
Riyani tersenyum mendengar pertanyaan yang beruntun dari suaminya itu. Lalu, ia menjawab, "Aku sudah makan, Mas. Tadi, Ibu sedang membuat camilan." Riyani berjalan mendekat ke sisi kiri Hamzah.
"Kata Ibu, nanti saat Mas Hamzah dan Disha pulang, camilan itu sudah tersedia. Aku pamit pada Ibu, untuk pergi bertemu dengan teman," imbuh Riyani.
"Kenapa kamu bilang bertemu teman?" Hamzah terheran.
Riyani mengernyitkan kening. "Lho? 'kan Mas Hamzah yang menyuruh ku, untuk tidak memberitahu Ibu soal renovasi ini. Bagaimana sih, Mas?"
"Oh iya ... Mas lupa, Dek," jawab Hamzah, sambil menepuk jidatnya, dan meringis.
Toni yang menyaksikan hal itu, hanya bisa menggeleng dan tertawa kecil. Lalu, Hamzah dan Riyani pun ikut tertawa.
***
Di kantor, Aslan yang sedang meneliti beberapa laporan, mendadak teringat pada Disha. Tadi, setelah membawa keluar Elma, ia tidak menemui Disha. Karena, ia merasa tak enak hati. Lalu, ia memutuskan untuk menemui Disha sebentar.
Disha yang melihat kedatangan Aslan, langsung berdiri. "Ada apa, Pak Aslan? apa Bapak butuh sesuatu? kenapa tidak menelepon saja, Pak?"
Aslan tersenyum, menggeleng pelan. "Saya hanya ada perlu sebentar. Apa kamu baik-baik saja?"
Disha sedikit terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari Aslan. "S-saya baik-baik saja, Pak. Kenapa, Bapak mendadak bertanya seperti itu?"
Aslan mengusap tengkuknya. "Ah, itu ... tidak apa-apa. Emm, begini ... tadi 'kan, ada Wanita yang sempat memaki mu. Jadi, saya hanya memastikan keadaan kamu," Aslan mulai salah tingkah.
"Barangkali kamu merasa sedih atau merasa bingung ...?"
Disha tersenyum dan menjawab, "Tidak apa-apa, Pak. Mungkin, Ibu tadi hanya salah paham."
Aslan manggut-manggut. "Iya, kamu benar. Baiklah kalau begitu, saya lanjut dulu, ya!"
Disha mengangguk satu kali. "Siap, Pak. Silakan."
***
Di dalam sebuah mobil yang tengah melaju ....
"Iya, aku pasti akan tetap mengawasinya, tenang saja ...!"
__ADS_1