Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 041


__ADS_3

Aslan mendadak datang, untuk mengajak Disha memilih souvenir pernikahan. Sebenarnya ia mendengar sedikit, saat Maryam bersama tiga anak dan menantunya itu bercerita tentang mendiang Adam. Namun, ia memilih untuk berpura-pura tak mendengar apapun. Setelah mengutarakan niatnya datang ke rumah Maryam, ia langsung membawa Disha pergi.


Hari menjelang sore, saat Aslan menjemput Disha. Saat dalam perjalanan, Aslan menanyakan souvenir apa yang diinginkan oleh Disha.


"Bagaimana kalau souvenirnya gantungan kunci yang bentuknya miniatur kapal? Atau handuk kecil, sapu tangan, emm ... Apa lagi ya?" kata Disha sambil berpikir.


Aslan terkekeh mendengar jawaban Disha. "Ya sudah, kamu pikirkan saja dulu, Disha!"


Disha hanya mengangguk dan tersenyum canggung. Lalu, keduanya saling diam. Sesampainya di tempat aneka souvenir, Disha dan Aslan mulai melihat-lihat barang yang dipajang.


"Tuan, bagaimana kalau souvenirnya ini saja?" kata Disha semangat, dengan membawa sebuah botol air minum kaca polos berukuran 600ml.


Aslan terheran dengan pilihan Disha. Seakan mengerti bahwa Aslan sedang bertanya-tanya, Disha pun menjelaskan alasannya memilih botol air minum tersebut. Katanya; beberapa orang lupa akan pentingnya minum air putih. Jadi, dengan ia memilih souvenir botol air minum itu diharapkan agar bisa memberikan manfaat dan membantu mengingatkan untuk tidak kurang asupan cairan.


"Begitu kah? Wah, kamu benar-benar memikirkan hal sampai sejauh itu ya?" kata Aslan. Ia pun mengambil botol itu dari tangan Disha. "Baiklah, souvenir untuk pernikahan kita, botol air minum ini!" tambahnya dengan tersenyum lebar.


Disha pun ikut tersenyum senang. Setelah itu, keduanya segera melakukan pemesanan berapa banyak botol yang akan disiapkan. Serta memilih design tulisan untuk souvenir tersebut. Aslan meminta nama DiAs, singkatan dari Disha dan Aslan.


"Baiklah, untuk sekarang cukup seperti ini dulu, Mas. Kalau ada hal lain, saya akan hubungi lagi. Terima kasih," kata Aslan.


"Siap, Tuan Aslan. Terima kasih kembali."


Aslan dan Disha meninggalkan tempat souvenir. Aslan ingin mengajak Disha pergi ke kedai kopi, tetapi ia takut Disha menolaknya.


"Ada apa, Tuan? Apa Tuan mau bilang sesuatu?" tanya Disha penasaran, melihat gelagat aneh Aslan.


Aslan melirik sekilas pada gadis yang sedang duduk di sebelahnya itu. "Emm ... Sebenarnya aku ingin mengajak-mu ke kedai kopi, Disha. Tapi ...."


"Tapi kenapa, Tuan? Kalau ingin mampir ke kedai kopi, boleh saja. Asalkan, Tuan pesankan sepotong pie susu untuk-ku. Hehehe."

__ADS_1


Aslan tertawa kecil mendengar ucapan Disha. Lalu, ia mengangguk. "Baiklah, aku akan minta ijin kepada calon Ibu mertua-ku," kata Aslan sembari menepikan mobil sebentar untuk menelepon Maryam.


Disha kagum dengan sikap Aslan yang begitu sopan dan tidak seenaknya sendiri. Sesekali, ia menatap sekilas lelaki yang akan menjadi suaminya itu. Dalam hati Disha, mulai tumbuh kekaguman yang tak biasa terhadap Aslan.


"Sudah, Disha. Ibu-mu mengijinkan aku untuk pergi sebentar lagi." Aslan menatap Disha dengan heran, karena wanita kesayangannya itu tengah menatapnya juga tanpa berkedip.


"Disha ... Halo!" Aslan melambai-lambaikan tangan di depan wajah Disha.


Disha tersentak dan salah tingkah. Wajahnya memerah karena malu. "I-iya, Tuan. Ayo kita lanjutkan perjalanan."


Aslan menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Kedai kopi kali ini, lokasinya tak begitu jauh dari tempat tinggal Disha.


"Ayo, Disha!"


Disha mengangguk dan berjalan di belakang Aslan. Setelah keduanya duduk, Aslan segera memesan minuman dan camilan.


Keduanya minum kopi dan makan camilan sambil membahas pernikahan. Aslan sengaja membahasnya santai, agar Disha merasa nyaman. Selesai pembahasan, keduanya memutuskan untuk segera pulang, karena jam sudah menujukkan pukul setengah lima sore.


***


"Aku belum masuk ini lho, Ma. Masa iya sudah ditodong dengan pertanyaan ketus seperti itu."


Aslan berjalan mendekati Rita dan merangkulnya. "Mama ini kalau marah makin cantik, Ma. Serius deh! Mama ada masalah apa sih?"


Rita menepis tangan Aslan. "Jangan mentang-mentang kamu dibela Papa-mu, sekarang kamu jadi seenaknya sendiri sama Mama."


"Ma, Papa sudah tak mempermasalahkan perhodohan-ku dengan Elma yang batal itu. Tapi, kenapa Mama seperti tak terima? Mama tak menyukai Disha?"


Raut wajah Rita berubah menjadi gugup. "Tentu saja tidak. Mama hanya ... Mama hanya masih teringat dengan kebaikan Elma."

__ADS_1


"Begitu kah, Ma? Ya sudah, ayo kita masuk saja. Papa masih di sini, Ma?"


Rita hanya mengangguk dan merangkul lengan Aslan. Rita juga mengungkapkan, bahwa ia masih berharap Aslan mau menemui Elma untuk sebentar saja. Tapi, lagi-lagi Aslan menolak tegas dengan nada lembutnya. Aslan tak ingin menyakiti perasaan Mama-nya dengan bersuara keras.


***


Di rumah Maryam, Disha yang baru saja selesai membantu Kakak iparnya membereskan meja makan dan dapur, langsung masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya. Ia menarik napas dalam sambil menatap langit-langit kamar.


Lalu, ia segera duduk dan berkata pada dirinya sendiri, "Ya ampun! Aku ini 'kan baru selesai makan. Kok bisa-bisanya langsung tiduran? Hadeh."


Kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Disha pun bangkit dari ranjang dan membuka pintu. "Lho, Ibu. Ada apa?"


"Tidak apa-apa, Nduk. Hanya saja, Ibu kok rasanya ingin sekali menemani kamu."


Disha lalu memeluk sang Ibu dengan penuh haru. Memang untuk saat ini, Disha ingin berbagi cerita pada Ibunya.


"Ibu, tahu saja kalau aku sedang butuh teman untuk bercerita. Hehehe," kata Disha sambil melonggarkan pelukan.


Maryam tersenyum dan berkata, "Tentu saja Ibu tahu, Nduk. Ya sudah, ayo kita duduk dan Ibu akan dengarkan semua ceritamu!"


Disha dan Maryam duduk bersama di atas ranjang. Disha pun mulai menceritakan, apa yang tengah dirasakannya. Setelah cukup lama bercerita, Maryam menyuruh Disha untuk istirahat, karena besok masih ada keperluan yang harus Disha lakukan bersama Ibu dan dua kakaknya, yaitu; mengunjungi makam Adam.


***


Gerimis tipis menyapa di pagi hari. Membuat Disha yang baru saja selesai menunaikan ibadah sholat subuh, kembali masuk ke dalam selimut. Namun, ia tak tidur, karena hanya kakinya saja yang masuk dalam kondisi duduk sila di atas ranjang. Sedangkan bibirnya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Tak lupa, setelah selesai tadarus Disha mengirim doa untuk mendiang Ayahnya. Lalu, ia melepas mukena dan bersiap untuk ke dapur.


"Wah, Mba Riyani sudah bikin minuman ya?" tanya Disha, setelah ia sampai di dapur.

__ADS_1


Riyani sudah bangun lebih awal dari Disha. Ia sudah membuat satu cangkir kopi hitam dan tiga cangkir teh panas. Riyani membawa minuman itu, ke ruang tamu. Sedangkam Disha, ia membantu membawakan camilannya.


Sesampainya di ruang tamu, Disha terkejut melihat siapa yang tengah bertamu di pagi buta seperti ini.


__ADS_2