
"Aslan, ada apa denganmu? Papa hanya bertanya apa kamu sudah mengabari Disha hari ini?"
Aslan menarik napas dalam dan menatap sang ayah dengan raut lega. "Untung saja Papa mengingatkan Aslan."
"Huh? Oh, ya ampun. Jadi, kamu belum mengabari istrimu hari ini?"
"Aku lupa, Pa. Tapi, nanti pulangnya akan aku bawakan titipannya."
"Mulai ngidam ya?"
Aslan kembali melajukan mobilnya. "Begitulah, Pa. Aku kira, ngidamnya sejak awal hamil. Nyatanya baru muncul sekarang. Hehehe."
"Nikmatilah masa-masa ngidam istrimu, Nak. Itu juga salah satu momen unik."
Aslan mengangguk dan tersenyum. "Siap, Papa!"
Aslan menatap Bima sekilas, lalu bermonolog dalam hati. 'Sebenarnya, aku pamit pada Disha kalau hari ini lembur. Tapi, itu hanya alasan agar aku bisa menyelesaikan satu masalah.'
***
Disha melirik jam di ponselnya. "Kok tumben mas Aslan tidak memberi kabar? Hmm."
"Nyonya, tuan Aslan barusan menelepon."
Disha meletakkan buku bacaan dan mengernyitkan keningnya. "Mas Aslan telepon ke mana, Bi?"
"Ke telepon rumah, Nyonya. Kata tuan Aslan, nanti akan dibelikan titipan Nyonya."
"Baiklah, Bi. Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama, Nyonya."
Bi Yati kembali masuk ke rumah. Sedangkan Disha menebak-nebak, kenapa sang suami tidak meneleponnya langsung? Karena penasaran, Disha pun mengirim pesan pada Aslan.
Disha : Mas, kenapa tidak memberi kabar seharian ini? Bukan telepon istri, malah telepon ke rumah. Huft!
Setelah mengirim pesan, Disha pun memanggil dua bodyguard untuk meminta tolong. "Pak, saya sudah selesai bersantai di taman. Tolong bawa masuk gelas jus dan toples cookies-nya ya!"
Kedua bodyguard itu langsung mengangguk. Lalu, Disha pun pergi masuk ke rumah.
(Pukul lima sore, di kediaman Aslan)
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Disha yang sedang menonton acara televisi. Ia tetap duduk, tak berminat untuk membuka pintu.
"Asslamu'alaikum, Sayang."
"Wa'alaikumsalam," jawab Disha, tanpa menatap wajah sang suami.
"Apaan sih, Mas? Aku bukan anak kecil!"
"Ssst! Mas ada sesuatu buat kamu, Dek. Ayo berdiri dulu!"
Disha mendengkus kesal, tapi tetap menuruti perkataan Aslan. Lalu, Aslan melepas tangannya dari mata Disha, saat sudah sampai di jendela.
"Lihatlah ke sebelah sana, Sayang!" titah Aslan, sembari menunjuk ke arah taman belakang. "Aku bawakan khusus, untuk bumilku yang sedang ngidam. Gimana, hmm?" Aslan menaik-turunkan kedua alisnya sambil tersenyum jahil.
Wajah Disha yang tadinya cemberut, tersenyum malu setelah melihat kejutan dari Aslan. "M-Mas, ini tak salah? Mas Aslan bawakan titipan aku berikut penjual dan gerobaknya? Ya ampun, makasih Mas Aslan!" Disha sangat girang.
Setelahnya, Disha langsung memeluk erat sang suami. "Mas, maafkan aku ya? Maaf sudah pasang wajah cemeberut."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang. Mas paham dengan mood bumil yang seperti roller coaster. Hehehe." Aslan menciumi kepala Disha berkali-kali.
"Ayo, kita turun sekarang!"
"Ayo!"
Aslan menuntun Disha. Ia begitu takut terjadi apa-apa dengan istrinya itu.
"Pelan-pelan Sayang, turunnya."
"Aku lho, sudah hati-hati sekali ini, Mas."
Sesampainya di taman belakang, Disha makin girang.
"Ibu! Mas Hamzah! Mba Riyani! Kemala!" Disha berjalan cepat menghampiri keluarganya.
Hal itu sontak membuat Aslan berlari cepat dan menahan langkah Disha. "Sayang! Sudah aku bilang, jalannya pelan-pelan." Aslan melonggarkan pegangannya dari lengan Disha.
"M-maaf, Mas," ucap Disha dengan raut menyesal.
"Sini, biar Mas peluk saja jalannya!"
"Ish!" Disha mencubit lengan Aslan.
"Aww! Sakit, Sayang."
"Sakit apanya? Itu cuma pelan nyubitnya juga." Disha lalu menjulurkan lidahnya pada Aslan.
Maryam dan kedua anak-menantunya tertawa melihat kelakuan Disha pada Aslan. Disha lalu menyalami satu per satu keluarganya.
__ADS_1
"Bu? Apa kalian habis menangis? Kenapa mata kalian sembab?