Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 064


__ADS_3

Aslan mengingat-ingat, siapa wanita yang mengetahui namanya tersebut. Disha sedikit cemburu melihat Aslan disapa oleh wanita itu.


"Mas, kenal sama dia?"


Wanita itu tersenyum tipis. "Selamat menikmati makanannya, Bu Disha. Saya kebetulan karyawan baru di kantor suami Anda."


Aslan dan Disha membulatkan mata.


"Kamu karyawan baru yang tadi ke ruangan saya?"


Wanita itu mengangguk. "Benar, Pak Aslan. Nama saya Sandra. Saya bekerja di sini, selepas pulang dari kantor."


Disha memutar bola matanya malas. Aslan yang melihat hal tersebut, lekas mengucapkan terima kasih pada Sandra. Setelah itu, barulah Sandra pergi dari hadapan Aslan dan Disha.


Sandra berjalan meninggalkan sepasang suami-istri itu dengan tersenyum smirk.


"Disha, kamu marah? Aku bahkan tidak tahu kalau dia bekerja di sini juga." Aslan memegang tangan sang istri, erat.


Disha menarik tangannya dan ia simpan dalam pangkuan. "Aku mau makan, Mas. Setelah makan, kita langsung pulang."


Aslan mengatupkan bibirnya. Ia yakin, usahanya membujuk Disha saat ini hanya akan sia-sia saja. "B-baiklah kalau begitu, Sayang."


Disha tersenyum miring mendengarnya. Lalu, keduanya pun mulai makan.


***


"Kamu baik-baik saja, Sayang?"


"Iya, Mam. Aku baik-baik saja. Mami tak usah risaukan aku, oke?" Seorang wanita tengah berbincang lewat telepon bersama Ibunya.

__ADS_1


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik, Sayang!"


"Sure, Mam. Bye!" Wanita itu lalu memutus sambungan teleponnya.


***


Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, Disha lebih banyak diam dengan tatapan lurus ke depan. Jika Aslan meminta Disha untuk menoleh sekilas, Disha selalu memberikan tatapan tajam yang sangat menghunus.


Sesampainya di rumah, Disha bergegas menuju lantai atas dengan Aslan yang mengekor di belakangnya. Toni melihat ada yang tidak beres dengan kedua majikannya itu.


Aslan berhenti, tepat sebelum menginjakkan kakinya di anak tangga. Toni pun memutuskan untuk mendekati Aslan, saat Disha sudah tak terlihat di tangga.


"Tuan? Ada apa? Kenapa Nyonya sepertinya marah sekali?"


Aslan tersenyum tipis dengan wajah sedih. "Saya ... Saya tak sengaja membuat ibu hamil satu itu marah, Pak Toni."


"Haish, Pak Toni. Tadi itu ...."


Aslan menceritakan kronologi sebelum dan sesudah Disha marah. Toni tertawa terpingkal mendengar penuturan Aslan.


"Tuan, percayalah. Sebentar lagi, pasti Nyonya akan kembali membaik dengan sendirinya."


"Kenapa Pak Toni bisa seyakin itu?" Mata Aslan memicing dengan kepala yang sedikit miring.


Pak Toni lalu berbisik di telinga Aslan. "Karena Nyonya sedang hamil, moodnya tak stabil. Jadi —"


"Mas! Kamu mau tidur di luar kamar?"


Disha berteriak dari lantai atas, tepatnya di pagar tangga depan kamarnya. "Mas, kalau dalam satu menit belum sampai kamar, aku kunci pintunya!"

__ADS_1


Disa lalu berbalik, masuk ke kamar.


Toni mengacungnkan telunjuknya ke atas, dengan tersenyum girang. "Benar kan, Tuan? Hahaha."


Aslan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Wah, memang tebakan Pak Toni ini tak pernah meleset."


Aslan lalu memeluk Toni sekilas. "Terima kasih, Pak Toni. Saya ke atas dulu."


"Sama-sama, Tuan," jawab Toni sembari membungkukkan setengah badannya.


Aslan membuka dan menutup pintu kamar dengan sangat pelan. Ia menghampiri sang istri yang sudah berbaring membelakangi Aslan.


Aslan bergegas ke kamar mandi untuk ganti baju dan persiapan tidur; cuci muka, gosok gigi, cuci tangan dan kaki. Setelahnya, ia berbaring di belakang Disha.


"Sayang ... Aku benar-benar minta maaf. Tapi, aku sungguh baru pertama bertemu dengan karyawan baru kantor itu, tadi pagi."


Hening. Tak ada jawaban dari Disha. Aslan kembali mencoba untuk membujuk Disha.


"Sayang?" Aslan membelai lengan Disha dari atas ke bawah. "Kamu masih marah pada suamimu ini, hm?"


Masih hening, tak ada satu kata yang Disha ucapkan. Lalu, Aslan mencoba mengintip wajah Disha.


"Ya ampun, ternyata wanita kesayanganku ini sudah tertidur." Aslan terkekeh sebentar, kemudian mencium kening Disha. "Selamat malam, Ibunya anakku."


***


Beberapa bulan telah berlalu. Kehamilan Disha sudah memasuki bulan ke-tujuh. Di kediaman Aslan diadakan tasyakuran tujuh bulan, sekaligus gender reveal.


"Aku akan berusaha untuk bisa masuk ke dalam istana kalian berdua!" gumam seorang wanita yang wajahnya tertutup tudung hodie yang dikenakannya. Terlihat senyum licik tersungging dari bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2