Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 024


__ADS_3

"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" ucap Yuna, spontan.


Hamzah langsung menanyakan kesepakatan apa, yang diinginkan oleh Yuna. Ternyata, Yuna menawarkan pada Disha, jika Iyan dibebaskan, maka Disha akan menjadi menantu Yuna.


Disha menggeleng tak percaya, dengan kesepakatan yang ditawarkan oleh mantan calon ibu mertuanya itu. Maryam yang awalnya diam saja, langsung berdiri dari tempat duduknya, dan menghampiri Yuna.


Plak ...!


Sebuah tamparan, mendarat mulus di pipi Yuna. Maryam menampar Yuna, karena dirasa sangat egois dan tidak tahu diri.


"Anda tetap mau menikahkan Iyan dengan putri saya? jangan pernah berharap, apalagi bermimpi, kalau Iyan akan bersanding dengan Disha ...!" seru Maryam, dengan wajah emosi.


"Bu Maryam ...!" teriak Yuna, seraya mengelus pipinya yang terasa panas. "Kalau tidak terima, apa harus dengan menampar saya juga?!"


Disha maju menghadapi Yuna. "Tamparan dari Ibu saya masih kurang ya, Bu? saya bisa menambahkan satu atau beberapa kali tamparan lagi," sarkas Disha, sambil mulai mengangkat tangan.


Yuna refklek menutupi wajahnya. Ia ketakutan, tetapi masih ingin berusaha mendapatkan kata 'iya' dari Disha, untuk permintaannya. Namun, ia juga tak ingin mendapat tamparan lagi.


"Ingat ya kamu, Disha! saya harap, kamu tidak akan menikah dengan pria manapun! andaikan kamu menikah, semoga jalan pernikahan-mu dipersulit!" ucap Yuna, dengan mata melotot. Emosinya begitu menggebu.


Sontak, Maryam langsung memeluk Disha dan membalas ucapan Yuna. "Kamu bukan siapa-siapa bagi Disha. Saya Ibunya, akan selalu memberikan doa terbaik pada Disha!"


Yuna tersenyum miring, dengan tatapan meremehkan. Lalu, tanpa menjawab apapun lagi, ia pergi meninggalkan rumah Maryam. Dengan langkah lebar, ia keluar sambil terus mengucap sumpah serapah.


Disha yang masih syok mendapat ucapan tak enak dari Yuna, segera dirangkul dan ditenangkan oleh Maryam. Hamzah pun ikut merangkul kedua wanita, yang sangat ia kasihi.


Aslan membuka ponsel, mengirim pesan pada seseorang, memberi perintah. "Bu, apa Ibu mau ikut ke kantor polisi hari ini?" tanya Aslan, sungkan. Karena merasa situasi kurang tepat.


Maryam menoleh pada Aslan, mengangguk. "Apa, Nak Aslan juga akan ke kantor polisi?"


"Tentu saja, Bu. Aku dan Disha, tadi sudah berkabar lewat telepon. Iya 'kan, Disha?" Aslan menatap Disha.

__ADS_1


Disha pun memberi anggukan. Lalu, setelah situasi sudah tak se-menegangkan tadi, Maryam menyuruh Hamzah dan Disha, untuk bersiap-siap. Aslan menunggu ketiganya, di teras rumah. Sesekali, ia mengecek ponselnya, untuk memastikan sesuatu.


***


Sesampainya di kantor polisi, Aslan yang sudah menyiapkan surat untuk menengok tahanan pun, meminta Hamzah dan Disha untuk bertemu dengan Iyan. Sedangkan ia dan Maryam, menunggu di luar ruang besuk.


Tak lama kemudian, Hamzah dan Disha keluar. Maryam langsung menghujani Hamzah dengan banyak pertanyaan. "Bagaimana tadi di dalam, Nang? apa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?"


"Tenanglah, Bu. Semuanya aman. Hanya saja, Iyan sempat ingin memeluk Disha," ungkap Hamzah, dengan raut kesal.


Maryam membulatkan mata. "Apa?"


"Ssst ...! tenanglah, Bu ... tenang ...!" Hamzah merangkul Maryam, mencoba untuk menenangkan ibunya, yang menjadi khawatir.


Disha menjelaskan, kalau dirinya baik-baik saja, pada Maryam. Setelah itu, barulah Maryam merasa lega. "Sudah ya, Bu ... aku tidak apa-apa. Lebih baik, sekarang kita pulang saja, ya!"


"Bagaimana kalau kita mampir ke cafe dulu?" tanya Aslan.


Disha dan Hamzah saling tatap, yang kemudian beralih ke Maryam. Maryam pun mengangguk setuju. Lalu, berangkatlah mereka ber-empat, menuju cafe yang tak jauh dari kantor polisi.


Hamzah begitu bahagia, manakala ia berhasil meminang sang pujaan hati. Maryam ikut senang, melihat putranya yang sebentar lagi, akan menjadi pemimpin rumah tangga.


Aslan dan Disha, ikut menyimak nasehat dari Maryam, tentang rumah tangga. Sesekali, Aslan mencuri pandang pada Disha. Hal itu diketahui juga, oleh Hamzah.


Saat tengah membahas tentang Disha, pesanan mereka pun datang. Lalu, ke-empatnya segera menyantap pesanan masing-masing. Setelah selesai, mereka duduk-duduk terlebih dahulu, sambil menikmati kenyamanan fasilitas cafe.


***


Hari berikutnya, Aslan mendapat kabar tentang penangkapan Sisca. Ia langsung mengabari Disha dan Hamzah. Aslan berpikir, kalau Disha akan menerima tawarannya, setelah tertangkapnya Sisca. Kini, Aslan hanya tinggal menunggu sidang penentuan hukuman untuk Iyan dan Sisca.


Di kantor, Aslan dan Disha sibuk melakukan pertemuan dengan beberapa klien penting, yang ingin bekerjasama dengan perusahaan Aslan. Sebagai seorang CEO, Aslan selalu ingin bisa mengembangkan bisnisnya. Selain karena tuntutan orang tua, ada alasan lain juga.

__ADS_1


Usai pertemuan, Aslan mengajak Disha untuk makan siang di luar kantor, bersama klien yang baru saja ditemui. Tak lupa, Disha mengingatkan agenda yang lain pada Aslan, di jam berikutnya.


"Kamu aturkan saja nanti, ya! saya percayakan semuanya ke kamu, Disha," ucap Aslan, setelah diperingati oleh sang sekretaris.


"Baik, Pak Aslan ...!" sahut Disha, seraya mengangguk.


Semenjak menjadikan sekretaris, Aslan menjadi lebih semangat bekerja. Ia juga merasa, kalau Disha membawa nilai lebih bagi perusahaannya. Oleh karena itu, ia ingin menghadiahkan sesuatu untuk Disha.


***


Minggu pagi, Disha membantu Maryam, menyirami tanaman di halaman belakang. Hamzah, tengah pergi ke rumah Riyani, karena Maryam ingin membicarakan sesuatu bersama keluarga Riyani.


Sudah lama, Maryam ingin segera menikahkan Hamzah dengan Riyani. Ia ingin menimang cucu, dan punya teman di rumah. Karena, Disha lebih sering sibuk bekerja, untuk saat ini.


Hamzah tak keberatan jika harus menikahi Riyani dalam waktu dekat. Ia hanya menunggu keputusan dari tunangannya itu.


"Bu, mas Hamzah kapan nikahnya?" tanya Disha, spontan.


"Mungkin ... sebentar lagi, Nduk! Kamu mau nyusulin kang mas-mu juga, Nduk?" goda Maryam.


Pipi Disha merona merah. "Ah, Ibu ini ... biarkan mas Hamzah dulu yang menikah, Bu. Aku masih dalam masa pencarian calon suami. Hehehe."


"Halah ... jangan kelamaan, Nduk! Ibu ingin lihat kedua anak Ibu, bisa menikah dengan pilihannya masing-masing. Ya ... ingin segera punya cucu yang banyak juga sih, hahaha," kata Maryam, tertawa di akhir kalimat.


Melihat Maryam tertawa, Disha merasa begitu senang. Lalu, tiba-tiba saja, ia teringat pada mendiang ayahnya.


"Bu ... seandainya, Ayah masih ada ya ...."


"Huss ...! Tidak boleh bicara seperti itu, Cah Ayu. Boleh rindu, tetapi jangan sampai bilang 'seandainya'. Kamu paham maksud Ibu 'kan?" ucap Maryam, memperingati Disha.


Disha mengangguk dengan wajah sedih. "Aku tahu, Bu. Tapi, aku memang se-rindu itu, pada Ayah."

__ADS_1


"Kita kirimkan do'a, untuk mendiang ayah-mu, Nak!" Maryam merangkul Disha.


Keduanya saling tatap dan tersenyum. Lalu, terdengar suara teriakan dari dalam rumah. Gegas, Maryam dan Disha pun, langsung berlari masuk ke rumah.


__ADS_2