
(Hari saat Disha dan Aslan ke rumah sakit)
Toni : Tuan, Elma mengikuti anda, sampai ke rumah sakit. Tolong berhati-hati.
Aslan baru saja menutup mobil, kala ia membaca pesan dari Toni.
Aslan : Baik, pak Toni. Terima kasih atas informasinya. Posisi di mana, pak?
Toni : Saya ada di warung kopi seberang rumah sakit, Tuan.
Aslan refleks menoleh ke belakang dan tersenyum. Lalu, ia berjalan ke sisi kiri mobil untuk membuka pintu.
"Silakan, Nyonya."
Disha menggeleng seraya tersenyum. "Terima kasih, Tuan."
Keduanya lalu bergandengan tangan, masuk ke rumah sakit. Elma yang masih memantau dari dalam mobil, kemudian memakai masker dan kacamatanya.
"Aku harus bisa mendapatkan informasi tentang wanita sialan itu!" Elma lalu turun dari mobil sambil celingukan.
Beberapa saat kemudian, Elma kembali masuk ke mobil dengan raut kesal sambil menggerutu. Hal itu tentu saja membuat Toni terheran.
Toni mengamati setiap hal yang dilakukan oleh Elma. Dan kebetulan sekali kaca mobil Elma tidak begitu gelap. Dengan begitu, apa yang dilakukan orang di dalamnya bisa terlihat dengan jelas.
Toni : Tuan, sepertinya Elma punya rencana licik. Dia seperti tengah menyiapkan sesuatu. Tetaplah waspada!
Aslan membaca pesan itu, namun tak langsung membalasnya. Setelah Aslan selesai menemani sang istri melakukan USG, Aslan kembali menemani Disha untuk menebus vitamin.
Saat itulah, Aslan membalas pesan Toni.
Aslan : Dia memakai masker dan kacamata?
Toni : Benar sekali, Tuan. Ingatlah untuk selalu amati gerak geriknya.
Aslan : Siap, 86!
Saat Disha dan Elma berdiri bersamaan, Aslan sudah mengawasi pergerakan Elma. Ia melihat sendiri, saat Elma menukar salah satu bungkusan vitamin milik Disha. Elma bahkan tak sadar kalau Aslan tengah memperhatikannya.
"Mas, ayo pulang!" Disha mengulurkan tangannya pada Aslan.
Aslan dengan senyum merekah, menyambut tangan Disha dan meletakkan tangan sang istri ke pinggangnya. "Ayo!"
Elma mendengkus kesal melihat pemandangan itu. Tapi, apa yang bisa Elma lakukan? Ia bukan siapa-siapa Aslan dan tidak punya hak untuk melarang sepasang suami istri itu.
"Jadi, kau sudah bersiap menyusul Iyan dan Sisca kan? Aku tebak, kalian pasti sudah tau siapa itu Iyan dan Sisca."
"Kenapa sih, kamu selalu berbuat jahat ke aku? Salah aku apa?" Elma meluapkan amarahnya.
Yoga juga tak tinggal diam. "Iya. Kau ini sebenarnya ada masalah apa dengan kami berdua?"
__ADS_1
Aslan lalu menegakkan posisi duduknya. "Pak Toni, tolong putar rekaman itu. Saat Yoga bertemu pacarnya dan membahas sesuatu."
Mata Yoga membulat. "Apa maksudmu?"
"Hei, jangan takut begitu. Jika aku bertanya tentang kesiapan kalian untuk menyusul Iyan dan Sisca, tentunya aku harus punya bukti kan?" Aslan memutar suara dan juga video pendek.
"Jadi, inilah bukti yang bisa aku simpan."
Rekaman suara yang diambil pada saat Yoga berbincang dengan pacarnya. Video durasi pendek, saat Elma menukar salah satu bungkusan vitamin di rumah sakit.
"Bagaimana?" Aslan mengangkat satu alisnya dengan senyum misterius.
Elma dan Yoga tertunduk lesu. "Maaf, Aslan," ucap keduanya kompak.
Aslan tersenyum sinis. "Maaf? Hahaha."
Aslan berdiri dan meletakkan tangan di pinggang. "Maaf? Ya ampun. Sudah berapa kali aku memaafkan kalian?"
"Heh, dikasih makan bukannya makasih dibuang! Dasar bego!"
Aslan, Toni, Elma dan Yoga langsung terjingkat mendengar ucapan kasar itu. Elma dan Yoga saling tatap dengan raut ketakutan.
Aslan memberi titah pada Toni. "Pak Toni, periksa kamar itu!"
"Baik, Tuan!"
"Tidak, jangan!" Yoga dan Elma memekik bersamaan.
"Jangan pedulikan mereka, Pak Toni!"
Toni mengangguk mantap dan kembali berjalan untuk memeriksa kamar yang letaknya tak jauh dari ruang keluarga.
***
Disha sedang berbincang dengan Ibunya, Maryam, di telepon.
"Iya, Bu. Sebentar lagi, Ibu akan punya cucu kedua. Hehehe."
"Ibu akan temani kamu saat kamu mendekati waktu persalinan."
"Baiklah, Bu. Ya sudah, salam untuk mas Hamzah dan mba Riyani ya, Bu! Assalamualaikum."
"Iya, Nduk. Waalaikumsalam."
Setelah menutup sambungan telepon, Disha bangkit dari tempat tidurnya dan melihat pemandangan dari jendela kamarnya. "Hmm ... Baca novel kesukaan sambil minum jus buah dan makan cookies di taman belakang, sepertinya menyenangkan!"
Disha lalu keluar dan mendapati dua orang bodyguard yang berjaga di depan kamarnya. "Pak, saya mau ke taman belakang."
Kedua bodyguard langsung berdiri tegak dan menganggukkan kepalanya. Disha lalu turun ke dapur, dan menyiapkan jus serta cookies untuk ia bawa ke taman. Sati dari dua bodyguard tadi, mengikuti Disha turun ke dapur.
__ADS_1
"Ya Allah, Nyonya!" Yanti memekik manakala mendapati Disha di dapur. "Kan sudah Bibi bilang, jangan ke dapur. Nanti Bibi kena marah Tuan Aslan."
Disha tersenyum. "Bi, ini hanya membuat jus, bukan memasak seharian."
"Ya, seharusnya Nyonya bilang saja pada Bibi. Biar Bibi yang siapkan ya?"
"Tidak apa-apa, Bi. Ini tinggal tuang ke gelas."
Setelah menuangkan jus ke gelas, Disha menepuk jidatnya. "Novelnya belum aku ambil!"
"Bi, tolong siapkan cookies ya! Saya mau ambil buku bacaan dulu."
Bo Yati mengangguk dan langsung melakukan apa yang diminta oleh Disha.
Baru beberapa langkah berjalan, seorang bodyguard menghentikan Disha.
"Tunggu, Nyonya!"
Disha menoleh ke belakang dengan tatapan heran bercampur bingung.
"Katakan, novel apa yang akan Nyonya ambil. Biar saya ambilkan," kata si bodyguard sambil menunduk.
"Ah, begitu rupanya. Terima kasih, Pak. Novel fantasy, Harry Potter. Ambilkan yang mana saja tidak apa-apa."
"Baik, Nyonya."
***
Aslan setelah selesai dengan urusannya, kini sedang dalam perjalanan menjemput sang Ayah. Pak Bima baru saja mengunjungi makam sahabatnya, Adam.
Sesampainya di pemakaman, Aslan langsung turun dan menghampiri Ayahnya. "Papa, ini sudah sore. Ayo kita pulang. Papa ke sini tadi diantar supir?"
Pak Bima menggeleng. "Papa ke sini naik angkutan, Nak. Sembari mengenang kebersamaan bersama Adam."
"Ah, i see. Tapi, sekarang ayo kita pulang, Pa!"
Pak Bima pun bangkit dan berjalan menuju mobil, dengan Aslan di sampingnya. Aslan merangkul pundak Ayahnya, karena ia tahu bahwa saat ini Pak Bima tengah bersedih.
"Aslan, Papa ingin ke rumah mertuamu. Papa belum menengok cucu pertama dari mertuamu itu."
Aslan memasangkan seat belt pada Ayahnya dan tersenyum. "Baiklah, akan aku antar Papa ke sana. Papa mau beli kado dulu?"
"Oh, ya ampun!" Pak Bima menepuk jidatnya. "Ayo kita beli kado dulu! Hahaha."
Aslan lalu melajukan mobilnya menuju toko perlengkapan bayi. Kursi makan bayi menjadi pilihan Pak Bima untuk diberikan pada cucu pertama Maryam.
Selesai membayar dan membungkus kado, keduanya lalu kembali ke mobil dan pergi menuju rumah Maryam.
"Aslan, kamu sudah mengabari Disha hari ini?"
__ADS_1
Aslan tercekat dan ngerem mendadak. Pak Bima panik dan terengah-engah.
"Aslan, ada apa denganmu? Papa hanya bertanya apa kamu sudah mengabari Disha hari ini?"