
Saat tangan Elma sudah hampir menyentuh rambut Disha, Aslan lebih dulu menepis tangan Elma. "Untuk apa kamu datang ke sini lagi, Elma?"
Disha ditarik ke belakang tubuh Aslan. Aslan tak ingin, Disha terluka oleh perbuatan Elma.
"Kita sudah bicarakan ini sebelum akhirnya aku memutuskan untuk bertunangan dengan Disha. Kamu lupa, Elma? Bahkan, kedua orang tua-ku tak masalah dengan wanita pilihanku," kata Aslan.
Elma masih dengan napas memburu, sambil mengusap tangannya yang terasa sedikit perih. Matanya menatap tajam Aslan dan Disha. "Kalian berdua ini keterlaluan! Aku sudah rela menyerahkan semuanya padamu, Aslan. Tapi, kenapa? Kenapa dia yang kamu pilih, hah?"
Disha membulatkan mata, terkejut dan tak percaya dengan yang baru saja ia dengar. Aslan menyadari keraguan Disha padanya. Aslan menatap garang Elma.
"Kamu jangan menyebar fitnah, Elma! Aku tak pernah pergi denganmu kecuali saat makan malam, di mana aku mengajakmu bertemu untuk membahas pembatalan perjodohan kita. Bahkan, kamu sudah setuju untuk hal itu. Lantas, kenapa sekarang kamu berubah pikiran?" hardik Aslan yang sudah muak dengan sikap Elma.
Elma yang tadinya memasang raut menantang, perlahan menurunkan tatapannya. Ia bingung harus menjawab apa. Karena sebenarnya, ia merasa bahwa Aslan akan jatuh cinta padanya saat ia menuruti permintaan Aslan untuk membatalkan perjodohan. Namun, ternyata itu salah.
Elma masih diam seribu bahasa, bahkan menatap Aslan pun, tidak sama sekali. Ia ingin menjadi nyonya Aslan, karena harta Aslan tak akan cepat habis. Elma pun kembali menatap Aslan dengan tajam.
"Aslan, kamu tau? Wanita ini hanya ingin mengincar kekayaanmu saja!" tuding Elma.
Aslan tersenyum sinis. "Justru kamu lah, yang hanya ingin mengincar harta-ku, Elma. Jangan kamu kira, aku tak tahu semuanya. Aku sudah tahu semua yang kamu lakukan, tetapi aku tak ingin membesarkannya.
Cukup orang tua-mu saja, yang akhirnya bisa menerima keputusanku untuk membatalkan perjodohan. Tapi, jika kamu memang ingin semuanya tahu, aku bisa menyebarkan bukti yang aku punya. Bagaimana?" Aslan sudah mulai tak sabar ingin menjauh selamanya dari Elma.
Disha melihat Aslan begitu emosi, mencoba memegang dan mengusap lembut lengan Aslan. Aslan pun langsung menoleh pada Disha. Seketika, emosinya berkurang, kala menatap mata teduh Disha.
Seakan-akan tahu, bahwa Disha tengah ketakutan dengan amarah Aslan, akhirnya ia memutuskan untuk langsung membawa pergi Disha. Tak peduli dengan Elma yang masih ingin meluapkan semua kekesalan.
Elma hendak menarik tangan Aslan. Namun, Disha mencengkeram erat pergelangan tangan Elma. Disha memberi Elma peringatan untuk tidak lagi mengejar Aslan, yang sudah berstatus menjadi tunangannya itu. Sorot mata Disha begitu menakutkan bagi Elma, karena menyiratkan akan kemarahan dan keterlukaan.
Akhirnya, Disha dan Aslan bisa sampai ke dalam mobil tanpa dikejar lagi oleh Elma. Lalu, Aslan segera melajukan mobilnya membelah jalanan sore hari ini untuk mengantar Disha pulang.
Sedangkan Elma, ia masih meracau tak jelas karena kesal. Ia kesal karena caranya untuk membuat Aslan kembali memilihnya, tak berhasil. Justru, hal itu membuat Disha semakin yakin dengan Aslan.
"Sialan kamu, Disha! Lihat saja nanti pembalasanku!" kata Elma lirih, dengan senyum smirk. Kemudian, ia berjalan meninggalkan kantor Aslan dan segera pulang.
Di perjalanan mengantar Disha ....
__ADS_1
"Disha, apa yang kamu pikirkan sekarang, setelah kejadin barusan?" tanya Aslan penasaran. Ia menatap Disha sekilas.
Disha yang masih menatap lurus ke depan, menjawab, "Aku tidak berpikir apapun, Tuan."
"Benarkah itu, Disha?"
"Tentu saja, Tuan. Boleh kah kita menepi sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," pinta Disha sambil menatap Aslan.
Aslan pun segera menepikan mobilnya. "Ada apa? Ini soal tawaran yang aku berikan?" Aslan mencoba menebak maksud Disha.
Disha mengangguk. "Kamu benar, Tuan. Aku ingin mengutarakan sesuatu tentang tawaran dari Tuan kemarin."
"Baiklah, kita bicarakan ini di tempat lain. Aku akan ajak kamu ke kedai teh terdekat," kata Aslan, yang langsung diangguki oleh Disha. Aslan pun tersenyum dan kembali melajukan mobil dengan kondisi hatinya yang tak karuan.
Ya, Aslan tengah menebak-nebak jawaban apa yang akan Disha berikan. Apakah menerima, atau menolak tawaran pernikahan kontrak itu.
***
Sesampainya di kedai teh, Aslan langsung memesan teh po*ci komplit dan sedikit camilan. Lalu, Aslan mengajak Disha duduk di meja dekat jendela, yang tak terlalu banyak orang. Setelah kedua duduk berhadapan, Disha langsung mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan pada Aslan.
Aslan menjadi semakin penasaran dan tak sabar. "Kalau apa, Disha?"
"Kalau aku —"
"Permisi! Ini pesanan Anda, Tuan. Satu paket teh po*ci dan dua porsi kentang goreng. Silakan ...!" ucap seorang pelayan yang memotong kalimat Disha.
"Terima kasih, Mas!" jawab Aslan dan Disha, bersamaan.
"Kalau aku apa, Disha? Langsung katakan saja, tidak apa-apa," kata Aslan yang sudah tak sabar, ingin segera mendengar jawaban Disha.
Disha menatap Aslan, setelah menarik napas dalam dan memantapkan hatinya. Tangannya sudah tak lagi saling mengusap. "Aku menerima tawaran dari-mu, Tuan. Tapi, aku ingin mengajukan syarat untuk itu."
Mata Aslan berbinar bahagia. "Be-benarkah yang aku dengar ini? Kamu menerima tawaranku untuk menikah kontrak, Disha?"
Disha mengangguk mantap. "Dengan syarat, Tuan."
__ADS_1
"Katakan syaratnya, Disha!"
Lagi, Disha menarik napas dalam. "Syaratnya adalah; kita tidak akan saling berhubungan layaknya suami istri, meskipun nantinya kita tidur satu ranjang."
Hening. Aslan masih tercengang dengan syarat yang Disha ajukan. Tapi, ia juga tak bisa memaksa Disha untuk mengubah syaratnya. Setelah saling diam cukup lama, Disha pun kembali bertanya.
"Bagaimana, Tuan? Apakah Tuan setuju dengan syaratnya?"
Aslan yang merasa bingung itu, meminta waktu sebentar untuk menuang dan menyesap teh yang sudah dipesan. Ia menuangkan teh ke dua cangkir yang sudah ber-alaskan piring kecil.
"Minumlah dulu, Disha. Setelah habis satu cangkir, aku akan menjawabnya," ucap Aslan sembari menyuguhkan teh tadi, pada Disha.
Disha hanya mengangguk saat menerima teh yang diberikan Aslan. Beberapa saat kemudian, Aslan kembali membuka obrolan.
"Disha, aku sudah memikirkan persyaratanmu tadi. Aku setuju dengan syaratmu. Tapi ...." Aslan menggantung ucapannya.
"Tapi apa, Tuan?"
"Bagaimana jika suatu saat, kita saling memiliki perasaan cinta dan sayang?"
Deg!
Pertanyaan barusan, seperti jebakan bagi Disha. Tapi, sebisa mungkin Disha bersikap biasa saja. "Jika itu terjadi, kita lihat saja ke depannya, Tuan!"
"Begitu kah? Oke, Disha. Silakan kamu print syarat yang kamu ajukan tadi, beserta waktu pernikahan kontrak kita. Aku minta waktu dua tahun untuk pernikahan kontrak itu. Bagaimana?"
"Baiklah, Tuan." Disha menjawab dengan mantap. Ia yakin, ia bisa membalas semua jasa Aslan, selama menjadi istri dalam kontrak untuk Tuan muda Aslan.
"Tulis judul dalam perjanjian itu, Wanita Tawanan Tuan CEO!" titah Aslan, yang langsung diangguki oleh Disha.
Setelah selesai dengan minum teh dan makan camilan, Aslan dan Disha kembali melanjutkan perjalanan. Hati Aslan begitu berbunga-bunga, setelah Disha menerima tawarannya. Aslan memang tipe yang sedikit cuek, tap semenjak menyukai Disha, ia menjadi seorang pria yang begitu perhatian. Meskipun perhatiannya hanya dipusatkan untuk Disha dan keluarganya. Juga kepada kedua orang tua dan kakaknya.
Setelah mengantar Disha, Aslan langsung pulang. Dalam perjalan pulang itu, ponselnya terus berdering. Hal itu membuat Aslan melirik sekilas ponselnya.
"Ck! Kurang kerjaan!"
__ADS_1