
"Aku akan berusaha untuk bisa masuk ke dalam istana kalian berdua!" gumam seorang wanita yang wajahnya tertutup tudung hodie yang dikenakannya. Terlihat senyum licik tersungging dari bibirnya.
Wanita itu berdiri di seberang rumah Aslan. Ia lalu berbalik dan masuk ke mobilnya dan melaju pergi.
"Selamat datang, Ibu, Mas Hamzah, Mba Riyani dan ... Kemala mana?" Disha menyambut keluarganya, namun terlihat celingukan mencari keberadaan keponakan pertamanya itu.
Riyani hendak menjawab pertanyaan Disha. Tapi, Hamzah lebih dulu berkata, "Kemala ada di rumah kakek-neneknya. Sudah lama mereka tidak bertemu dengan cucunya." Senyum tipis dengan mata sendu, terukir di bibir Hamzah dan Riyani.
"Oh, ya sudah. Ayo masuk, Bu, Mas, Mba!"
Aslan datang menghampiri Disha dan menuntun sang istri karena khawatir dengan Disha. Sedangkan Maryam bersama kedua anak-menantunya di dahulukan masuk oleh Disha dan Aslan.
Bima dan Rita juga turut hadir dalam acara itu. Hanya Serly dan suaminya yang tidak nampak dalam acara itu, karena Serly ada acara lain bersama keluarga mertuanya.
Ke-tidak hadiran Serly, sedikit membuat Disha bersedih. Namun, Disha harus menutupi kesedihannya itu. Karena seseorang yang selalu ada untuk Disha sudah hadir di acara tersebut, yakni; Maryam dan Hamzah.
Acara dimulai setelah keluarga besar dari mertua Disha dan Maryam datang. Penutupan dengan membaca do'a yang dipimpin oleh Ustadz pun, berlangsung dengan khusyu'.
Sebelum para tamu pulang, Aslan dan Disha mengumumkan ada acara berikutnya, yaitu gender reveal. Semuanya pun bergegas menuju taman belakang rumah.
Di sana, sudah ada satu buah balon besar berwarna putih serta balon kecil dengan berbagai macam warna sebagai hiasan. Aslan dan Disha akan memecahkan balon besar itu dengan menusuknya menggunakan jarum.
Pembawa acara mulai menghitung mundur. "Lima, empat, tiga, dua, satu. Ayo!"
Disha menusukkan jarumnya. Balon pun meletus. Lalu terlihat conveti yang berhamburan, di mana terlihat satu kertas kecil terjatuh setelahnya. Kertas itu diambil oleh Aslan.
Aslan dan Disha saling tatap sebelum membacakan tulisan yang ada di kertas itu, dan tersenyum.
"It's a boy!" seru Aslan dan Disha kompak.
Semua tamu memberi tepuk tangan dan ada beberapa yang bersorak gembira. Setelah acara gender reveal selesai, semua tamu pun pulang.
Tinggal lah kini Disha dan Aslan kembali berdua, bersama para body guard dan asisten rumah tangga.
__ADS_1
Wanita yang tadi pagi berdiri di seberang rumah Aslan, kembali datang. Kali ini, wanita itu memakai topi, kaca mata dan masker hitam. Pakaiannya juga berwarna hitam.
Aslan tengah menemani Disha di kamar, karena Disha kelelahan. Aslan memijat kaki Disha hingga sang istri tertidur dengan nyenyak.
Setelahnya, Aslan keluar dari kamar menuju ruang kerjanya. Di sana, sudah ada Toni dan dua body guard lain yang sudah menunggu kedatangan Aslan.
Aslan menyapa tiga orang body guard itu, lalu menyuruh ketiganya untuk duduk.
"Bagaimana?" Aslan menatap serius pada ketiga body guardnya itu.
Tanpa berlama-lama, Toni mulai menjelaskan sedikit informasi yang perlu Aslan ketahui. Selanjutnya dijelaskan oleh dua body guard lain.
"Baiklah. Kalau begitu, kita tunggu besok untuk perkembangan selanjutnya."
Aslan meninggalkan ruang kerjanya dan menuju kamar. Toni dan dua body guard lain pun kembali berjaga lagi.
***
(Di kediaman Maryam)
Hamzah mengernyitkan keningnya. "Mungkin aku akan menyusul nanti, Dek. Kamu pergi bersama Ibu 'kan?" Hamzah lalu bangkit dan memeluk Riyani dari belakang.
Riyani mengecup pipi Hamzah. "Tentu saja pergi bersama Ibu. Ya sudah, ayo kita keluar sekarang, Mas!"
Riyani berbalik dan memeluk Hamzah. "Kalau mau menberi istri pelukan itu kayak gini, Mas. Jangan dari belakang dong!" Riyani mencebikkan bibirnya.
Hamzah terkekeh. "Memangnya kenapa? Takut akan ada Kemala selanjutnya, hm?" Hamzah lalu mendekatkan keningnya ke kening Riyani.
Hamzah mengecup kening Riyani dengan kedua tangan yang membingkai wajah Riyani. Riyani memegang tangan Hamzah yang masih menempel di pipinya dan tersenyum manis.
Suara ketukan pintu, membuat Hamzah dan Riyani yang hendak berciuman itu terjingkat.
"Riyani, ayo kita ke rumah orang tuamu sekarang, Nduk!"
__ADS_1
Hamzah dan Riyani tertawa pelan.
Riyani menarik napas dalam agar berhenti tertawa. "Iya, Bu. Sebentar lagi."
"Ya sudah, Ibu tunggu di ruang tamu ya!"
"Siap, Bu!"
Riyani mencubit perut Hamzah. "Mas, ini sebenarnya tidak sopan lho. Masa kita tidak bukakan pintu untuk Ibu?"
"Tidak apa-apa, Sayang. Ibu pasti paham." Hamzah mencubit gemas pipi Riyani.
Keduanya lalu keluar dari kamar. Hamzah pergi ke kantor dan Riyani bersama Maryam, pergi ke rumah orang tua Riyani untuk menjemput Kemala.
***
(Di sebuah restoran cepat saji)
"Maaf sudah lama menunggu." Hamzah duduk setelah berucap. "Kau sudah pesan sesuatu?"
"Belum, Mas. Mas Hamzah saja dulu yang pesan. Aku nanti," jawab orang yang ditanya oleh Hamzah tanpa menoleh. Karena tangannya sedang mencocokkan sesuatu.
"Baiklah. Aku ke kasir dulu."
"Hmm."
Setelah memesan minuman dan camilan, Hamzah kembali duduk.
"Aslan, bagaimana dengan urusan yang waktu itu? Apa kau sudah dapat kabar baru?"
Aslan membuang napas. "Soal itu, belum Mas Hamzah. Tapi, aku masih menyelidiki juga."
"Iya sih. Memang sedikit sulit," kata Hamzah sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Oh iya, Aslan. Aku lupa memberitahukan sesuatu padamu."
Aslan menaikkan satu alisnya dengan dahi mengernyit penasaran.