Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 068


__ADS_3

(Hari di mana Hamzah bersama istri dan anaknya dalam perjalanan ke rumah Maryam)


"Mas, Kemala kayaknya minta istirahat dulu deh. Kita berhenti di minimarket terdekat bagaimana?"


Hamzah yang tengah menyetir, menoleh sekilas ke belakang. "Baiklah, Dek. Sayang, Kemala ... Sabar ya, Nduk. Kita beli jajan buat kamu nanti. Oke?"


"Oke, Pak. Bapak memang yang paling the best deh!" ucap Riyani dengan menirukan suara khas anak kecil.


Hamzah dan Riyani tertawa bersama.


Mobil Hamzah sampai di halaman minimarket. Lalu, Hamzah menyuruh Riyani untuk duduk di depan minimarket itu.


Setelah Hamzah membeli dua minuman, dua roti dan satu camilan bayi, Hamzah segera menghampiri anak dan istrinya. Riyani tampak seperti tengah berbincang dengan seseorang.


Dan benar saja, Riyani tengah berbincang dengan seorang wanita yang tengah beristirahat juga. Wajahnya tak terlihat, karena wanita itu memakai masker dan kaca mata.


Riyani melihat sang suami yang sudah selesai berbelanja. "Mas, sini!"


Hamzah tersenyum dan menghampiri Riyani. "Kemala tidur?"


Riyani mengangguk sambil meringis memamerkan deretan giginya. "Mungkin Kemala kelelahan, Mas."


"Ya sudah, Mba. Saya mau melanjutkan perjalan lagi. Semoga bisa bertemu lain kali," ucap wanita itu tanpa membuka masker dan kaca matanya. Hanya kepalanya saja yang dianggukkan satu kali.


"Dia siapa, Dek?"


Riyani yang masih menatap punggung wanita itu menjawab, "Aku juga tidak tahu, Mas. Pokoknya tadi aku lagi duduk di sini dan dia nyamperin."


"Oh, begitu? Ya sudah, ini dimakan dan diminum dulu." Hamzah mengeluarkan makanan dan minuman yang ia beli tadi.


Selesai beristirahat, Hamzah kembali mengajak istri dan anaknya untuk melanjutkan perjalanan pulang. Saat akan menghidupkan mesin mobil, Hamzah mendapat notifikasi pesan baru.


Disha : Mas, aku sudah di rumah Ibu. Kamu cepetan balik ke rumah gih, Mas.


Hamzah tersenyum sekilas. "Akhirnya dia sampai juga di rumah Ibu."


"Siapa,Mas?


Riyani sedikit kesal karena husuaminya tertawa setelah membaca pesan. Hamzah peka dengan kecemburuan Riyani.


"Ini bukan siapa-siapa, Sayang. Ini Disha. Jangan marah dong!"


"Jangan bohong, Mas!"


"Ya ampun, ini lihatlah Sayang." Hamzah memperlihatkan ponselnya. Hal itu msmbuat pipi chubby Riyani bersemu merah karena malu.


Hamzah pun membalas pesan dari Disha.


Hamzah : Baiklah, Dek. Siap!

__ADS_1


Hamzah menghidupan mobilnya, lalu melaju membelah jalanan yang lumayan padat. Memakan waktu kurang lebih setengah jam lamanya, Hamzah pun sampai di rumah Maryam.


Hamzah memasuki halaman rumah. Lalu, ia mengetuk pintu dan memencet bel karena tak ada yang membuka pintu. Hamzah dan Riyani sama-sama bingung. Tanpa menunggu lama, Hamzah mengirim pesan pada Disha.


Hamzah : Disha, kalian sedang pergi keluar 'kah? Ini aku baru saja sampai di rumah Ibu.


***


Setelah selesai berpelukan, ponsel Disha mendapat satu notif pesan baru. Mata Disha membulat sempurna saat membaca isi pesan itu.


"Kenapa, Sayang? Siapa yang kirim pesan?"


Aslan lalu melihat ke layar ponsel Disha dan ikut terkejut. Disha dan Aslan saling tatap. "Bagaimana bisa?" ucap keduanya, bersamaan.


"Disha, ayo kita beri tahu Ibu!"


"Iya, Mas. Ayo!"


Aslan dan Disha berjalan menghampiri Maryam yang sudah siuman dari pingsannya.


"Bu ... Ibu baik-baik saja?" tanya Disha.


Aslan merasa lega setelah Ibu mertuanya siuman. Aslan lalu meminta waktu sebentar untuk menelepon Toni.


Setelahnya, Aslan kembali ke brankar tempat Maryam ditidurkan tadi. "Bu, kita pulang sekarang ya? Disha, kamu sudah katakan pada I—"


"Sudah, Mas. Ayo kita pulang!"


"Ya Allah, Hamzah. Nang ... Mana istri dan anakmu, Nang?" Maryam tak hentinya menciumi kepala Hamzah.


"Ada di dalam, Bu. Kalian dari mana saja? Kenapa aku sampai rumah, malah tidak ada siapa-siapa?"


Keempatnya saling tatap bergantian, merasa bingung.


"Aku sampai rumah dan mengirim pesan pada Disha. Karna Disha bilang, dia sudah ada di sini."


"Kami dapat kabar kalau mobil Mas Hamzah kecelakaan," ungkap Disha.


"Apa? S-siapa yang memberi kabar seperti itu? Aku telat sampai, karena tadi Kemala menangis. Jadi, kami memutuskan untuk istirahat di minimarket dulu."


Aslan lalu berjalan ke depan. "Mas, apa kamu tidak lihat ada mobil yang mengikutimu atau hal mencurigakan lainnya?" bisik Aslan.


"Tidak ada, Aslan. Aku tak sempat melihat apapun yang ada di belakang atau samping mobilku tadi."


"Kalian bisik-bisik apa?" Disha tiba-tiba muncul dan merangkul lengan Aslan. "Ibu sudah masuk dan kalian masih ingin di sini saja, hm?"


Aslan dan Hamzah tersenyuk kikuk seraya mengusap tengkuk. "Kami akan menyusul," kata Aslan dan Hamzah kompak.


Disha pun akhirnya masuk dan langsung menemui Riyani dan Kemala. Sedangkan Maryam pergi ke dapur. Melihat Disha datang ke kamar, Riyani memutuskan untuk membantu Ibu mertuanya.

__ADS_1


***


Sepulang dari rumah Maryam, Aslan belum mendapat kabar dari Toni. Aslan harap-harap cemas menantikan hal itu.


"Mas, nyetirnya pelan saja. Kenapa harus buru-buru?" tegur Disha.


Aslan menoleh pada Disha sekilas. "Iya, Sayang. Ini ngebut karena harus kejar waktu untuk ketemu sama orang penting."


"Apa ada orang lain yang lebih penting dari aku, Mas?"


Aslan terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, bukan begitu Sayang. Ya Tuhan, Ibu hamil satu ini sangat sensitif sekali."


"Kamu bilang apa, Mas?" Disha bertanya untuk memastikan apa yang didengarnya barusan.


"Eh, enggak. Nggak apa-apa, Sayang. Kamu tidur duluan saja ya! Mas, masih ada keperluan dengan pak Toni."


Disha mengangguk lesu.


"Nanti selesai membahas hal penting, aku langsung pijitin kaki kamu kok tenang saja, Sayang!"


"Kamu memang pandai dalam hal merayu, Mas. Ya sudah, jangan lama-lama ya!"


"Siap, Nyonya!"


Aslan mencium kening Disha, lalu bangkit dan berjalan keluar kamar.


"Bagaimana, Pak Toni?"


Toni yang sudah berada di dalam ruang pribadi Aslan, membungkukkan setengah badannya. "Saya belum menemukan titik terang, Tuan."


Aslan lalu duduk di kursi kebesarannya. "Duduk, Pak Toni."


Toni pun duduk. "Begini, Tuan. Tadi ...."


Selesai menjelaskan, Aslan langsung menyimpulkan, "Berarti ada kemungkinan kalau orang yang mengabari ke rumah Ibu mertuaku, adalah orang tersembunyi dan punya maksud tertentu, begitu maksudnya?"


"Benar, Tuan."


"Ah, aku hampir lupa. Tolong datangkan beberapa body guard pilihan ke rumah Ibu mertuaku, Pak. Berapa pun jumlahnya, tak masalah. Saya siap membayar mereka."


"Baik, Tuan. Hanya untuk mengawasi sekitar rumah atau paket lengkap, Tuan?"


"Sebagian untuk mengawasi sekitar rumah, sebagian lagi paket lengkap."


Toni manggut-manggut. "Besok akan saya datangkan langsung ke rumah bu Maryam, Tuan."


"Baiklah. Sampai di sini saja dulu, Pak Toni. Silakan Pak Toni kembali beristirahat."


Toni membungkuk sedikit. "Baik, Tuan. Terima kasih."

__ADS_1


Baru beberapa langkah Aslan berjalan, Aslan berbalik. "Pak Toni, soal yang kapan hari itu, apa sudah ada kemajuan?"


__ADS_2