
Hamzah mendesak ibu dan adiknya untuk menjelaskan perihal yang tak sengaja ia dengar tadi. Setelahnya, Hamzah ikut sedih dan bingung.
"Bu, bagaimana kalau kita pakai uang itu? Masih ada kartu ATM-nya 'kan?" Hamzah menatap penuh harap pada sang ibu. Sedangkan Maryam menoleh pada Disha yang tengah terkejut mendengar ucapan Hamzah.
"Bu, apa maksud dari perkataan Mas Hamzah? ATM apa, dan punya siapa itu?" Disha masih berdiri mematung di dekat nakas.
Maryam bangkit dan menghampiri Disha. "Tenanglah, Nduk. Duduk dulu, nanti akan Ibu jelaskan."
Maryam kembali duduk dengan Disha di sampingnya. Sedangkan Hamzah berdiri di hadapan kedua ibu dan anak itu. Perlahan, Maryam dibantu Hamzah, menjelaskan tentang ATM yang diberikan oleh anak sang pelaku tabrak lari Adam.
"Apa?! Jadi, Ibu dan Mas Hamzah mau menerima bantuan darinya? Ck!" Disha merasa kesal dengan usulan dari kakaknya.
"Disha ... Ini 'kan, demi kesembuhan Ibu kita." Hamzah mencoba membujuk Disha yang masih kekeuh pada pendiriannya.
"Tapi, Mas ... Apa hanya itu jalan satu-satunya?" Disha memalingkan wajahnya. Ia tertunduk menatap lurus ke lantai. "Kita masih bisa lakukan cara lain 'kan, Mas ... Bu?" ucap Disha, kembali menoleh pada kakak dan ibunya bergantian.
Maryam menarik napas dalam dan pasrah. "Nduk, Ibu manut sama keputusan kalian."
"Tuh, Mas. Ibu saja nggak maksa untuk pakai uang itu kok!"
"Jadi, kamu punya uang untuk biaya operasi Ibu, begitu?" Hamzah setengah berteriak pada Disha. "Jawab, Dek! jangan hanya diam saja!"
Disha terkejut mendengar hardikan dari kakaknya. Matanya mulai mengembun karena merasa sakit hati. Lalu, tanpa menjawab sepatah katapun, ia berdiri dan berlari keluar.
"Hamzah.. Nang ... Jangan terlalu keras pada Disha. Dia adikmu satu-satunya. Hanya kamu dan Ibu yang dia punya, Nang."
"Bu, Disha terlalu egois kalau hanya memikirkan gengsi menerima bantuan dari orang itu. Seharusnya dia bisa memberi solusi, kalau dia tidak setuju dengan pendapatku, Bu."
Maryam menyentuh tangan Hamzah dan menyuruhnya duduk. Lalu, Hamzah pun menuruti perintah ibunya. Maryam mengusap lembut punggung Hamzah.
__ADS_1
"Nang ... Wajar kalau Disha menolak. Dia 'kan kehilangan cinta pertamanya, yaitu ayah kalian. Jadi, biarkan saja kalau Disha tidak setuju. Jangan paksa dia, ya?"
Tuturan lembut dari sang ibu, berhasil melunakkan hati Hamzah yang tengah emosi. Ia lalu menarik napas dalam dan beristighfar tiga kali, sembari mengusap-usap dadanya. "Bu, maafkan aku yang bicara keras pada Disha. Harusnya, aku lebih bisa sabar dan tidak perlu bicara dengan nada tinggi padanya." Hamzah memeluk ibunya dan menitikkan air mata. Air mata penyesalan, karena telah menyakiti adik perempuannya.
Maryam pun mengusap naik turun punggung putranya itu. "Minta maaf juga pada adikmu, Nang. Dia lebih sedih dan sakit. Dia juga pasti ada di posisi sulit, karena baru saja mengetahui soal ATM itu, dan soal sakitnya Ibu."
Diam-diam, Disha menguping pembicaraan dua orang yang masih ada di dalam kamar tersebut. Ia menutup mulutnya dan menangis tanpa suara. Merasa bersalah, tapi juga tak terima jika harus memakai uang pemberian si pengecut. Ya, Disha melabeli pelaku tabrak lari terhadap ayahnya sebagai pengecut.
Kemudian, Disha kembali masuk ke kamar ibunya. Hal itu membuat Maryam dan Hamzah saling melepas pelukan. Lalu, dengan kepala menunduk, Disha berkata, "Bu ... Mas Hamzah, maafkan aku ya?" Disha duduk bersimpuh dan menangis tersedu di hadapan ibu dan kakaknya.
Setelah selesai dengan saling meminta maaf, akhirnya Disha menyetujui usul Hamzah. Yaitu memakai uang yang diberikan oleh si pengecut, untuk biaya operasi sang ibu. Maryam pun ikut lega setelah melihat kedua putra-putrinya kembali akur.
***
Beberapa minggu setelah operasi, Maryam sudah kembali sehat seperti sedia kala. Ia sudah mulai melakukan aktivitas, namun tak boleh lagi bekerja oleh kedua putra-putrinya. Disha dan Hamzah selalu bekerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan rumah.
Pagi ini, Hamzah kebagian memasak dan membersihkan rumah. Sedangkan Disha, mencuci sekaligus menjemur pakaian. Disha juga membersihkan halaman depan dan belakang rumah.
"Cerewet...! Sini masak sendiri, biar cepat! Huh!"
"Iuww! Mas Hamzah pasti selalu gini kalau kebagian masak. Ujung-ujungnya aku yang masak lagi, kayak yang sudah-sudah." Disha duduk di amben dapur, mengulek bumbu yang sudah disiapkan oleh kakaknya. "Iya 'kan?" Disha menaik turunkan alisnya dan memasang senyum jahat ala drama sinetron ikan terbang.
"Apaan sih. Mentang-mentang cewek, jadi ngomong seenaknya sen—"
Ucapan Hamzah terjeda, karena kepalanya dipukul dengan sendok sayur oleh Maryam. "Aduh Mak e ... Lah dalah, kok malah aku yang dipenthung?"
(Aduh Ibu ... Lah dalah, kenapa malah aku yang dipukul?)
"Inget pesan Ibu, Nang! jaga ucapan sama perempuan. Kamu ini juga lama kalau disuruh masak." Maryam mengambil pisau dari tangan Hamzah dan melanjutkan aktivitas yang sedang dilakukan putranya itu, memotong sayuran. "Sudah lah, biar Ibu sama adikmu yang masak. Kamu bisa bereskan pekerjaan yang lainnya!"
__ADS_1
Disha menatap sang kakak dan menjulurkan lidahnya. Lalu, Hamzah yang merasa diledek, langsung menghampiri adiknya sembari menenteng panci kecil. Melihat itu, Disha langsung meninggalkan amben dapur dan berlari ke luar.
"Hamzah!" Suara Maryam sedikit tinggi tapi tetap terdengar lembut.
"Sendika, Kanjeng Ibu," jawab Hamzah disertai gerakan membungkukkan badan.
***
Selesai sarapan, Hamzah dan Disha disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Kebetulan, hari ini kuliah Disha libur. Jadi, ia bisa menemani sang ibu di rumah.
"Bu, apa aku boleh bercerita sesuatu?" Disha yang tengah menyisir rambut ibunya, kembali ingin menceritakan yang pernah tertunda.
"Tentu saja boleh, Nduk." Maryam yang tengah membelakangi Disha, tetap memasang senyum di wajahnya.
"Bu, menurut Ibu.. mas Iyan orangnya bagaimana? Maksudnya, dari segi sifat dan sikapnya, Bu." Disha meletakkan sisir dan mulai memijat kepala sang ibu.
"Menurut Ibu, dia baik, Nduk. Dia sopan, tanggung jawab dan nggak macam-macam." Maryam menjawab sambil memejamkan mata, karena merasa nyaman ketika tangan Disha memijit kepalanya. "Nilai tambahnya, dia juga nggak pilih-pilih wanita. Sama kamu saja, dia nggak menyinggung soal status sosial, kan?"
Disha manggut-manggut, meskupun hal itu tidak terlihat oleh ibunya. "Tapi, Bu ... Kemarin, saat aku menjemputnya, ada yg berbeda."
Maryam langsung membalikkan badan, menatap Disha dan bertanya, "Maksudmu, apanya yang berbeda, Nduk? Ibu nggak paham."
"Begini, Bu.. kemarin saat kami bertiga mampir makan siang di suatu cafe milik teman mas Iyan, ada hal yang baru aku tahu." Disha meremas ujung kaos yang ia pakai. "K-kemarin, temannya mas Iyang mengira kalau aku, bukan calon istrinya, Bu."
"Kenapa temannya Iyan bilang begitu?"
"Aku tidak tahu, Bu. Dia hanya bilang kalau mas Iyan sering ajak Sisca ke cafe miliknya."
"Nduk.. mungkin dia hanya bercanda padamu." Maryam berusaha menenangkan putrinya yang terlihat gelisah.
__ADS_1
"Tidak, Bu. Aku rasa, dia sungguh mengira kalau aku ini bukan calon istrinya mas Iyan." Disha mencoba untuk tersenyum. "Ya sudah lah, Bu. Nanti kalau sudah jodoh juga pasti nggak akan ke mana 'kan?"
Maryam meraup kedua pipi Disha dan berkata, "Insya Allah, Nduk...."