Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 026


__ADS_3

Sebuah batu besar, dilempar ke kaca jendela tempat Disha berdiri. Disha dan Maryam refleks berteriak, seraya menutup wajah karena takut.


Sedangkan Aslan, langsung berlari keluar toko. Ia mengejar si pelempar batu. Namun, sayangnya Aslan kehilangan jejak.


Sekitar 300 meter dari toko, Aslan kehilangan jejak si pelempar itu. Pelakunya ada dua orang, mengendarai sepeda motor berboncengan. Tidak terlihat wajahnya, karena kedua pelaku itu memakai topeng.


Aslan berjalan perlahan, kembali menuju toko. Kemudian, tiba-tiba saja ada orang yang hendak memukul tengkuknya. Tapi, Aslan berhasil menghindar, karena ia menyadari kehadiran orang itu.


Lalu, datanglah Toni bersama tiga bodyguard lain, menghampiri Aslan. "Tuan, maaf kami terlambat datang. Tuan baik-baik saja?" tanya Toni, cemas.


"Aman, Pak Toni. Tolong, bawa orang ini, Pak. Pak Toni pasti paham dengan maksud saya," titah Aslan, yang masih mengunci tangan si pelaku bertopeng.


Si pelaku bertopeng tak bisa berbuat apa-apa. Ia pasrah dan tak banyak melawan. Lalu, Toni berjalan mendekat pada si pelaku.


Toni membuka topeng itu. Betapa terkejutnya Aslan, Toni, dan tiga bodyguard lainnya, setelah melihat wajah si pelaku.


"Kamu ...!" bentak Aslan, pada si pelaku. Ia mengangkat tangannya tinggi, ingin menampar si pelaku.


Lekas, Toni mencegah majikannya itu. "Tenang, Tuan Aslan ... Serahkan sisa tugasnya pada kami. Kami akan bawa dia sekarang, Tuan," ucap Toni, menenangkan Aslan yang emosi.


Aslan pun mengangguk dan langsung berjalan kembali, menuju toko. Ia mendapati Disha dan Maryam, tengah duduk di bawah, di dekat meja kasir. Keduanya saling berpelukan dan menangis.


"Bu Maryam ... Disha, mari kita pulang sekarang. Besok, saya akan meminta salah satu bodyguard, untuk mengecek seluruh kerusakannya."


Disha langsung menyetujui ucapan Aslan, dengan mengangguk. "Bu, dengarkan kata Mas Aslan, ya! kita pulang, tetapi jangan sampai Ibu menangis lagi. Nanti, mas Hamzah akan curiga pada kita, Bu," kata Disha, sembari mengusap punggung ibunya.


Maryam akhirnya setuju, dan bersedia untuk pulang tanpa menangis. Ia juga takut, Hamzah dan menantu barunya itu, menjadi ikut khawatir.

__ADS_1


Disha memapah Maryam, masuk ke mobil. Sedangkan Aslan, membuka-kan pintu mobil. Kemudian, mobil melesat meninggalkan too kue itu, yang masih terlihat berantakan.


Dalam perjalanan pulang, Maryam masih saja memikirkan kejadian di tokonya. Disha yang menyadari ibunya tengah melamun sedih, memikirkan cara untuk mencairkan suasana.


"Mas Aslan ...." Disha menatap Aslan, lewat kaca diatas dashboard.


Aslan menoleh ke belakang sekilas. "Ada apa, Nyonya? ada perubahan alamat 'kah?" jawab Aslan, dengan menirukan nada supir taksi.


"Oh, tidak, Pak. Kita hanya ingin mampir sebentar ke minimarket. Iya 'kan, Bu?" Disha menoleh semangat, pada Maryam.


Aslan menunggu jawaban dari Maryam.


"I-iya, Nak ... eh, Pak," jawab Maryam, dengan raut bingung, tetapi tertawa setelahnya.


Lalu, ketiganya pun tertawa kompak. Disha merasa lega, bisa melihat ibunya tertawa lagi.


***


"Sudah selesai, Bu?" tanya Riyani, setelah mencium punggung tangan Maryam.


"Sudah, Cah Ayu. Hamzah ke mana?"


"Lagi ngopi di halaman belakang, Bu," Riyani menoleh ke belakang.


"Oh, ya sudah. Kamu temani di saja, Cah Ayu. Ibu mau istirahat dulu, ya!"


Riyani mengangguk, tersenyum. "Nggih, Bu."

__ADS_1


Disha yang masih diam mematung, membuat Riyani penasaran. "Dek, kamu kenapa, kok bengong?"


Disha tak menjawab, masih dengan tatapan kosong. Lalu, Riyani menepuk pelan, bahu Disha. "Dek ...!" serunya, sedikit bernada tinggi.


Disha terjingkat kaget. "Eh ... ada apa, Mba?"


Riyani menepuk jidatnya, seraya berkata, "Ya ampun, Dek. Dari tadi, aku nanya kamu kenapa kok bengong aja? malah kamu ngelamun terus. Ngelamunin apa sih?" goda Riyani, menaik turunkan alisnya.


"Ish, Mba Riyani ada-ada saja. Nggak ada lah, Mba. Sudah ya, Mba, aku mau bersihin badan dulu, gerah."


Riyani manggut-manggut. "Ya sudah, mandi pakai air hangat saja, Dek! biar rileks badannya."


"Siap, Mba Riyani!"


Disha lalu menuju kamar, dan membersihkan diri dengan air hangat, sesuai saran dari sang kakak ipar. Setelahnya, ia langsung menyiapkan beberapa file yang harus jadi, malam ini juga.


Saat tengah fokus dengan laptop, Disha mendengar ketukan pintu kamar. Lalu, ia pun bangkit dari duduknya.


"Lho, Mas Aslan ...?"


"Iya, ini aku. Kenapa tadi, aku diajak masuk? padahal, aku ingin dibuatkan secangkir kopi juga, untuk menemani mas Hamzah," ucap Aslan, dengan raut memelas.


Disha tersadar, memang dia meninggalkan Aslan di luar dan tidak mengajaknya masuk. "Maaf, Mas Aslan. Aku benar-benar lupa. Ibu juga mungkin lupa, Mas. Maaf sekali lagi, ya ...!"


"Sudah lah, tidak apa-apa. Aku hanya mau pamit pulang. Tolong file yang perlu disiapkan untuk besok, segera diselesaikan ya!"


"Baik, Mas Asl— eh, Pak Aslan maksudnya. Hehehe."

__ADS_1


"Sudahlah ... besok, jangan lupa dibawa ke kantor!"


Disha, kemudian mengangguk mantap, menanggapi perkataan atasannya itu. Lalu, Aslan melenggang pergi. Namun ....


__ADS_2