Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 035


__ADS_3

Setelah mengantar Maryam ke toko, Disha pun duduk di kursi depan menemani Aslan. Aslan mengajak Disha untuk sarapan terlebih dulu.


Aslan tersenyum jahil. "Mau sarapan apa pagi ini, Nona?" tanya Aslan, membalas candaan Disha yang memanggilnya Tuan saat bertelepon semalam.


Disha membulatkan matanya. Wajahnya mendadak gugup. Ia menunduk, tak berani menoleh pada Aslan. "Terserah Tuan saja," jawabnya.


Aslan terkekeh dan menggeleng tak percaya. "Ya ampun, Nona Disha. Ternyata belum selesai yang semalam ya? Hahaha."


"Hehehe. 'Kan saya menghormati atasan, Tuan," kata Disha, menatap Aslan sekilas.


"Ya sudah, kita makan di warung makan nasi gudeg langganan saya dan pak Toni saja, ya!"


"Siap, Tuan!"


Mobil pun berhenti di depan warung makan yang dituju. Aslan berlari membukakan pintu untuk Disha. Memang terlihat sepele, tetapi bagi Disha, perlakuan itu sangat istimewa untuknya. Walaupun akhirnya teringat kembali pada Iyan, sang mantan kekasih sekaligus tunangan.


"Kita masuk sekarang, Nona?" tanya Aslan dengan tangan menyambut.


Lalu, Disha membungkukkan badan sekilas dan berkata, "Baiklah. Ayo, Tuan!"


Keduanya pun sarapan bersama. Setelahnya, Aslan kembali melajukan mobil menuju pabrik produksi. Aslan terjun di bisnis kecantikan. Semuanya ia produksi sendiri, menggandeng salah satu dokter kecantikan yang sudah terdaftar juga. Beberapa produk dari perusahannya itu antara lain; sabun, shampoo dan body lotion.


"Disha, ada produk baru yang akan diluncurkan," kata Aslan sambil terus fokus menyetir.


Disha pun menoleh pada Aslan dan bertanya, "Produk apa itu, Tuan?"


Aslan tersenyum tipis, tak habis pikir dengan sekretarisnya itu. "Akan ada lulur dengan tiga varian dan manfaat yang berbeda. Ini masih dalam tahap pembuatan."


"Wah, semoga nanti produk baru kita bisa menembus pasar kecantikan ya, Tuan!" ucap Disha, girang.


"Semoga saja, Disha," kata Aslan, menoleh sekilas dan tersenyum pada Disha.


Sesampainya di pabrik produksi, Aslan dan Disha sibuk mengamati pembuatan lulur yang akan diluncurkan dalam waktu dekat. Sesekali, Disha mencium aroma dari tiga varian lulur itu. Semuanya mempunyai aroma yang khas, bagi Disha.


"Kamu tahu, Disha? Lulur ini sudah banyak yang mengincarnya lho. Mulai dari hotel yang menyediakan tempat untuk spa dan beberapa salon kecantikan," kata Aslan sambil terus memantau pekerjaan di pabrik bersama Disha. Keduanya tengah berjalan berdampingan.

__ADS_1


"Wah, itu kabar bagus, Tuan. Saya baru tahu, Tuan."


"Tidak apa-apa, Disha. Kebanyakan dari mereka, tak ingin disangka akan mendekatimu karena kamu cantik. Sangat cantik, Disha," kata Aslan, sambil menatap lekat wanita kesayangannya itu.


Disha balas menatap Aslan, heran. "Hah? Apa maksudnya, Tuan? Kenapa bisa begitu?"


Aslan yang menyadari telah salah berucap, langsung memalingkan wajah dan mengusap kasar wajahnya. "Ah, itu tidak apa-apa. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo, kita lanjutkan tugas kita ke sini!"


"Yaaa baiklah, Tuan!"


Keduanya pun kembali melanjutkan aktivitas yang menjadi tujuan mereka datang ke tempat itu. Keduanya memakai pakaian khusus untuk masuk ke pabrik produksi. Tak lama kemudian, mereka masuk ke dalam ruang dokter kecantikan yang ada di pabrik itu.


Aslan membahas tentang lulur yang akan segera ia luncurkan. Mulai dari desain botol, warna dan gambar, hingga menentukan harga dari lulur itu. Tak lupa, Disha mencatat semua hasil pembahasan tadi.


"Baiklah, Tuan Dokter muda. Saya pamit dulu, semoga sukses untuk kita!" kata Aslan, sembari mengangkat tangannya yang mengepal.


Pun dengan sang dokter muda, ia ikut melakukan, apa yang dilakukan oleh Aslan. Sedangkan Disha hanya memberi tepuk tangan dan tersenyum pada kedua orang yang tengah dilanda semangat empat lima itu.


***


Suara ketukan dari luar ruangan Aslan, membuatnya yang tengah fokus mengerjakan tugas di laptop, beralih menatap pintu dan menjawab, "Masuk!"


Setelah pintu kembali ditutup, Disha berdiri di depan meja kerja Aslan.


"Selamat siang, Tuan. Ini rangkuman hasil pembahasan lulur yang akan kita luncurkan tadi. Sudah saya print," ucap Disha, seraya menyerahkan beberapa lembar kertas.


Aslan pun menerima lembaran kertas itu. "Baiklah, Disha. Terima kasih."


"Sama-sama, Tuan. Saya permisi dulu."


Aslan mengangguk tersenyum. "Oke, Disha. Selamat bekerja kembali."


Disha membalas ucapan Aslan dengan tersenyum dan mengangguk. Lalu, ia berbalik dan pergi keluar dari ruangan Aslan.


Disha yang sudah kembali duduk di depan komputer, kembali berkutat dengan pekerjaannya. Sesekali, ia sambil menerima telepon dari orang yang ingin membuat janji temu dengan Aslan. Tak lupa, ia mengecek jadwal Aslan hari ini dan untuk besok.

__ADS_1


Tak terasa, jam makan siang sudah berganti ke jam pulang kantor. Aslan yang sudah keluar dari ruangannya, menghampiri meja kerja Disha. Ia berniat untuk mengantar Disha pulang.


"Ehm! Disha, ayo saya antar kamu pulang," kata Aslan, sedikit grogi.


Disha pun mendongak, menatap Aslan. Ia tengah menyimpan kembali beberapa alat tulis dan kerjanya. "Emm ... Apa tidak apa-apa, Tuan?"


"Kalau saya yang mengajak, berarti tidak apa-apa, Disha."


Disha pun menunduk malu. "B-baiklah, Tuan." Disha meraih tas-nya, dan segera berdiri. Lalu, ia berkata, "Ayo, Tuan ...."


Aslan dan Disha berjalan berdampingan menuju lift, untuk turun ke lobi. Lalu, Aslan menyuruh Disha untuk menunggu di lobi saja.


Saat tengah menunggu kedatangan Aslan ....


"Hai, Disha! Apa kabar hari ini? Pasti makin tak sabar untuk segera mendapat gelar Nyonya Aslan 'kan?"


Mata Disha membulat, mengetahui siapa yang telah menyapanya. Elma, ia yang menyapa Disha.


"Kenapa diam saja, Disha? Apakah yang aku katakan tadi benar, hm?" Elma memasang wajah sinisnya. Terukir senyum meremehkan dari bibirnya.


Disha pun mencoba untuk menenangkan diri, agar bisa menjawab semua perkataan Elma. Disha menarik napas dalam. "Maaf, saya tidak perlu menjawab apapun."


"Oh, berarti apa yang aku katakan benar dong. Hahaha. Kamu memang munafik!" Elma membuka dan memperlihatkan ponselnya pada Disha. "Lihat ini, Disha!"


Disha pun melihat ke ponsel yang sedang ditunjukkan padanya. Terlihat, Aslan sedang makan malam bersama Elma. Disha tak ingin ambil hati, tetapi entah kenapa, ia merasa sedikit terluka melihat foto itu.


"Kamu terkejut, Disha? Ini foto saat kami dekat. Sebelum ada kamu pastinya!"


"Maaf, Nona Elma. Saya tidak ingin ikut campur urusan kalian. Aku hanya wanita yang kebetulan, diminta Tuan Aslan untuk menjadi pendamping hidupnya.


Jika Nona Elma keberatan, silakan Nona mengutarakannya pada Tuan Aslan. Sebentar lagi, dia akan datang ke sini," kata Disha dengan intonasi rendah, tetapi penuh penekanan.


Hal itu membuat Elma meradang. Wajahnya merah dengan napas memburu. "Ck! Sombong sekali kamu, Disha! Kalau saja Aslan tak mengenalmu, dia pasti sudah lebih dulu memilihku. Dasar wanita kurang ajar!"


Elma mendekat dengan tangan terangkat, ingin menarik paksa rambut Disha. Akan tetapi, tiba-tiba saja tangan Elma ditahan oleh seseorang.

__ADS_1


__ADS_2