Wanita Tawanan Tuan CEO

Wanita Tawanan Tuan CEO
Part - 046


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu. Aslan dan Disha mulai terbiasa sebagai pasangan suami-istri yang harmonis. Meskipun keduanya tidur seranjang tanpa melakukan hubungan suami istri, Aslan dan Disha tetap bisa menjalin keakraban dengan cara lain. Contohnya seperti yang dilakukan Disha; membuatkan minuman, camilan, memasak makanan untuk Aslan, menemani Aslan dalam berbagai acara dan masih banyak cara lainnya.


Sedangkan Aslan, ia lebih memilih untuk selalu membahas apapun dengan Disha. Tidak ada yang ditutup-tutupi dari istrinya itu. Pagi ini, Aslan yang tengah libur bekerja, mengajak Disha untuk jalan-jalan ke pantai. Disha menerima ajakan Aslan dengan senang hati, karena Disha menyukai pantai.


"Kita berangkat selepas 'ashar saja ya?" tanya Aslan.


Disha yang sedang memijiat bahu Aslan tersenyum dan menjawab, "Terserah Mas Aslan saja."


"Baiklah, Disha. Sekarang, kamu bersiaplah! Waktu sudah mulai mendekati 'ashar."


Disha menghentikan aktivitasnya dan langsung pergi mempersiapkan diri. Tak lupa, ia juga menyiapkan keperluan Aslan. Usai bersiap dan sholat, keduanya masuk ke mobil dan melaju pergi meninggalkan rumah. Sebelum pergi, Aslan memberi pesan pada Toni untuk selalu mengabari apapun, jika ada hal yang mencurigakan atau penting.


Memakan waktu kurang lebih satu setengah jam, akhirnya Disha dan Aslan pun sampai di tempat tujuan. Hal pertama yang Disha lakukan adalah bermain air di tepi pantai. Aslan hanya duduk di warung yang dekat dengan posisi Disha bermain air di pantai, sambil menikmati satu buah kelapa muda. Tak lama kemudian, Disha datang menghampiri Aslan.


"Mas, ayo main air!" seru Disha girang.


Aslan sebenarnya sedang tidak ingin bermain air. Tapi demi Disha, ia akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan menggandeng tangan sang istri.

__ADS_1


"Ayo!" kata Aslan sambil berlari menggenggam tangan Disha.


Disha tertawa bahagia bersama Aslan. Sesekali, keduanya bermain lomba lari. Aslan mengabadikan momen bersama Disha dengan kamera ponselnya. Ia juga melakukan video call dengan Ibu mertuanya, Maryam.


Setelah dirasa cukup lama bermain air, Aslan mengajak Disha untuk istirahat terlebih dulu. Aslan sudah memesan satu piring nasi pecel.


Disha merasa heran dan bertanya, "Kok cuma satu saja, Mas? Mas Aslan tidak makan 'kah?"


"Satu piring berdua lebih berkesan, Disha," jawab Aslan. Ia tersenyum pada Disha.


"Ini, aku boleh permisi sebentar?"


Disha mengangguk meyakinkan Aslan. "Iya, Mas. Silakan dijawab dulu teleponnya. Siapa tahu, itu telepon penting."


"Baiklah, Disha. Kamu tunggu di sini saja ya!" titah Aslan, yang langsung diangguki oleh Disha.


Aslan berjalan sedikit jauh dari Disha, tetapi tatapannya selalu tertuju pada sang istri. Aslan tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya itu. Usai bertelepon, ia langsung kembali ke tempat semula.

__ADS_1


"Sudah selesai, Mas? Kita pulang sekarang, yuk!" Disha yang masih duduk, segera merapikan barang bawaannya.


"Yuk!" seru Aslan seraya membantu membawakan barang-barang yang dibawa Disha.


***


Di rumah Aslan, ternyata sedang kedatangan Bima dan Rita.


"Kalian dari mana? Masa hampir maghrib begini baru sampai rumah," ketus Rita yang merasa tak suka melihat anak dan menantunya pergi ke luar.


Bima pun berdehem dan menegur Rita. "Mama! Biarkan saja mereka pergi sampai jam berapa pun, karena mereka sudah bebas. Mama paham 'kan?"


Rita komat-kamit dengan wajah kesal. Ia sangat jenuh melihat Bima yang selalu membela menantunya. "Iya iya, Pa. Terserah Papa saja lah," ucap Rita kesal, sambil berjalan ke lantai atas menuju kamar.


Aslan, Disha dan Bima saling tatap dan mengedikkan bahu. Lalu, Aslan menanyakan tujuan kedatangan kedua orang tuanya yang tidak memberi kabar sebelumnya. Disha langsung terjun ke dapur untuk membuat minuman dan menyiapkan camilan.


Setelah minuman dan camilan tersaji, Bima langsung membahas hal penting dengan anak dan menantunya itu.

__ADS_1


__ADS_2